Wah! Gojek dan Tokopedia IPO, Cocok Ga Sih Buat Investasi Jangka Panjang

0
310
Investasi

Oleh  : 1. Maria Virginia Lim / 1821060,  Benediktha Evi Fani P.L / 1821063,  Herlina Witanto / 1821065,  Vallentina / 1821066, Felicia Piscesta / 1821079 Mahasiswa Akuntansi, Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang,  Dosen pembimbing  : Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM)

Indonesia merupakan negara layak investasi dengan daya saing yang tinggi. Indonesia dilihat oleh lembaga pemeringkat internasional sebagai negara yang layak investasi dengan kategori risiko yang rendah, tentu ini merupakan suatu capaian prestasi yang luar biasa dari tim ekonomi pemerintah Indonesia. Berdasarkan kebijakan yang diberlakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah kondisi pandemi Covid-19, berdampak pada kenaikan jumlah investor hingga 42 persen. Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM pun mencatat total realisasi investasi pada 2020 sebesar Rp 826,3 triliun. Angka ini melampaui target yang ditetapkan senilai Rp 817,2 triliun dan lebih besar dari realisasi 2019 sebesar Rp 809,6 triliun. Berdasarkan data statistik KSEI, peningkatan jumlah invetor di masa pandemi ini didominasi oleh investor domestik yang berumur di bawah 30 – 40 tahun (kaum milenial). Investor didominasi oleh laki-laki dengan persentase 61,14 persen, pegawai swasta 52,91 persen, lulusan sarjana 44,4 persen, dan memiliki penghasilan Rp 10-100 juta sebanyak 58,09 persen. Sementara berdasarkan domisili, investor Pasar Modal Indonesia sebagian besar berada di Pulau Jawa 72,23 persen.

Sesuai judulnya, siapa yang tidak tahu dengan Tokopedia ? Gojek ? pasti semua sudah pernah mendengarnya. Seperti yang kita ketahui selama ini, Gojek (sebelumnya ditulis GO-JEK) merupakan sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa gojek. Gojek didirikan pada tahun 2010 di Jakarta oleh Nadiem Makarim yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Berdasarkan data pada tahun 2020, Gojek sudah memiliki lebih dari 38 juta pengguna aktif bulanan di Asia Tenggara. Bukan hanya di Indonesia, Gojek pun sudah beroperasi di beberapa negara seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand.

Tak kalah menarik, salah satu marketplace yang terkenal dan kita pasti tahu yaitu Tokopedia. Tokopedia adalah mall online yang memungkinkan penjual dapat membuka toko dan melakukan penjualan dengan mudah. Tokopedia didirikan pada 17 Agustus 2009 oleh Wiliam Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison yang didanai pertama kali oleh PT. Dwitama. Jumlah pengunjung bulanan platform Tanah Air tersebut pada kuartal II/2020 mencapai 86 juta pengguna. Hal ini bisa dilihat dari adanya peningkatan transaksi belanja online sejak Maret 2020 sebesar 42%, menurut survei dampak sosial ekonomi COVID-19 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS). Laporan dari Google, Temasek, dan Bain (2020) menyebutkan terdapat peningkatan konsumen online baru di Indonesia saat pandemi sebesar 37%. Konsumen online baru merupakan mereka yang baru membuat akun dan berlangganan layanan digital akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Membahas investasi tentu tidak asing dengan istilah IPO, IPO (Initial Public Offering) adalah penawaran umum perdana berupa penjualan umum pertama saham sebuah perusahaan swasta kepada investor atau masyarakat umum untuk pertama kalinya. Adapun keuntungan dari IPO, saham IPO belum memiliki harga yang stabil, sehingga kemungkinan untuk mencapai Auto Reject masih sangat tinggi dan mampu membawa cuan yang cukup menarik bagi para investor. CNBC Indonesia mengabarkan bahwa akan ada perusahaan IPO terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni Gojek dan Tokopedia. Tentunya ini akan menjadi gebrakan baru pada pasar modal Indonesia.

Dari hal tersebut, banyak orang yang berpikir bahwa IPO kedua perusahaan itu Tokopedia X Gojek akan sangat berdampak baik bagi masyarakat Indonesia. Terlebih dalam hal meningkatkan dan menambah sumber pendanaan apalagi tujuannya untuk peningkatan layanan masyarakat di masa mendatang. Tidak hanya para investor kelas tinggi, bahkan dalam lingkup kecil seperti lingkungan Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) tidak hanya para dosen melainkan banyak mahasiswa yang tertarik untuk berinvestasi.

Kabar mengenai Gojek dan Tokopedia belakangan ini membuat pelaku pasar saham sangat antusias. Rencana IPO antara Gojek dan Tokopedia ini juga semakin terendus lantaran kian dekat. “Hal ini merupakan salah satu saham yang akan booming karena bidang teknologi menjadi bidang berkelanjutan di masa depan.” Ujar Andrew Gunawan selaku Dosen Akuntansi UKMC. Dilansir  CNBC Indonesia, Bloomberg memperkirakan  bahwa potensi IPO antara Gojek dan Tokopedia akan menghasilkan nilai kapitalisasi pasar senilai US$ 35 miliar sampai dengan US$ 40 miliar atau kisaran Rp 490 triliun – Rp 560 triliun dengan kurs Rp 14.000 per US$. “Artinya masyarakat mempunyai kesempatan sebagai pemiliki perusahaan dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. tersebut.” ungkap Kenny Gunawan selaku alumni UKMC dan Ketua Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) UKMC Periode 2018-2019.

Jika dihubungkan dengan IPO perusahaan Gojek dan Tokopedia, tentu terdapat banyak pandangan jika perusahaan IPO tersebut melakukan dual listing, diantaranya ; “Rencana dual listing di Bursa Indonesia dan sub wall street  merupakan salah satu manuver perusahaan yang sangat baik jika terlaksana, karna hal ini dapat meningkatkan reputasi dan goodwill dari Gojek dan Tokopedia.” Ujar Andrew. Pendapat lain berkata “banyak keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan, karena tentunya perusahaan yang melakukan dual listing akan mendapatkan modal lebih banyak baik dari investor domestik maupun investor asing, perusahaan dapat memiliki sumber daya manusia yang lebih qualified yang berada diluar negeri yang tentunya dapat meningkatkan kinerja perusahaan, dan terakhir hal ini juga bisa meningkatkan citra perusahaan.” kata Michelle mahasiswa manajemen UKMC. “Namun, secara administratif hal ini akan menimbulkan masalah baru. Misalnya berkaitan dengan laporan keuangan atau prospektus yg dilaporkan, sehingga tentunya harus disesuaikan dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku di negara tempat perusahaan tersebut listing. Walaupun masalah keseragaman bisa diatasi dengan adanya Standar Akuntansi yang sama, tetapi ada beberapa praktek akuntansi yang mungkin berbeda di tiap negara.” kata Feby Astrid dosen akuntansi UKMC.

Setelah Gojek dan Tokepedia IPO, maka saham pertama antara Gojek dan Tokopedia sudah bisa diperdagangkan oleh investor di pasar sekunder dan pada saat itu akan mulai terjadi mekanisme pembentukan harga berdasarkan permintaan dan penawaran dari investor. “Secara umum, akan ada kemungkinan bahwa saham ini akan sangat hype dan berpotensi naik sampai dengan 48,2% skala metrik setelah IPO,” ujar Andrew.

Pembelian saham juga dibatasi yaitu investor hanya bisa membeli 1 lot saja sebab jumlah lot ditentukan oleh penerbit, bukan pembeli (investor). Hal ini dilakukan agar saham tidak dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. Investor dapat membeli saham secara bebas tanpa dibatasi jika saham tersebut sudah listing. Menurut Kenny, ada fenomena yang terjadi saat perusahaan telah listing di bursa saham. “Jadi kalau yang baru IPO, fenomena yang terjadi adalah harganya bisa diperjualbelikan oleh banyak orang, sehingga kecenderungan harganya pasti naik, namun untuk melihat fundamental perusahaan tersebut pasti agak sulit karena data-data laporan keuangan untuk lima tahun kebelakang pasti terbatas,” tutur Kenny.

Perihal apakah pemula disarankan untuk membeli saham Gojek dan Tokopedia ketika telah listing di bursa saham, Kenny menyarankan untuk menghindari saham tersebut jika dijadikan sebagai pilihan investasi jangka panjang, karena belum ada kejelasan bagaimana kedepannya cara perusahaan mempertahankan profitnya. “Profitnya bisa dikatakan baik itu jika setiap tahunnya ya kalau bisa sih meningkat minimal harusnya sama sih, kalau fluktuatif  terlalu beda jauh itu tidak terlalu baik” katanya.

Perkembangan yang dialami oleh kedua perusahaan tersebut tidak tanggung-tanggung. Pada 2019 silam, nilai transaksi atau Gross Merchandise Values Tokopedia tercatat telah mencapai Rp 222 triliun. Begitu juga dengan partner mergernya, yaitu Gojek. Pada tahun lalu, Gojek mencatat nilai transaksi atau GMV sejumlah Rp 170 triliun walaupun ada pandemi Covid-19. Dilansir dari Investopedia, GMV adalah akumulasi nilai pembelian dari pengguna melalui situs atau aplikasi dalam periode tertentu. GMV kerap kali dijadikan sebagai tolak ukur dalam startup untuk melihat pertumbuhan bisnisnya.

Namun, dilansir dari CNBC Indonesia, pengamat pasar modal dan Dosen Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung, Erman Sumirat menegaskan bahwa untuk berinvestasi di saham Gojek dan Tokopedia tidak hanya melihat dari sisi GMV saja. Hal ini pun disetujui oleh Feby,Beliau mengatakan investasi memang seharusnya mempertimbangkan faktor fundamental terkait nilai-nilai laporan keuangan. “Image baik” di mata masyarakat belum tentu juga “baik” dalam hal fundamental dan tata kelola. Maka dari itu, emiten (Gojek dan Tokopedia) kelak seharusnya memberikan informasi yang benar agar investor bisa mengolah informasi tersebut untuk membuat keputusan yang lebih baik,” kata Feby. Hal senada pun juga disampaikan, Michele Ia mengatakan bahwa banyak perusahaan yang harga sahamnya menjadi turun setelah IPO, akibat kondisi fundamental yang tidak sehat. (*)

 

 

LEAVE A REPLY