Saham PTBA Terjungkal

 

 

 

RADAR PALEMBANG – Mengejutkan. Bisnis perusahaan plat merah yang bergerak di sektor pertambangan, terutama PT Bukit Asam (Persero) Tbk tengah dirundung kabar kurang mengenakkan. Bursa saham mengalami guncangan hingga mengakibatkan harga saham emten yang berkode PTBA tersebut anjlok hingga 17,25 persen.

Pada Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 0,48% atau 28,12 poin ke level 5.844,26 menjelang akhir perdagangan. Sebenarnya, pada perdagangan kemarin, hampir seluruh saham sektor tambang terpantau merosot hingga 4,64% dan ini menjadi penekan utama IHSG. Selain PTBA, saham tambang lainnya yang tertekan adalah INDY yang melorot 8,64% atau terkoreksi sebesar 165 poin menjadi 1.784 saat jelang penutupan.

Emiten tambang batu bara yang sahamnya tertekan adalah BUMI yang terpangkas 16 poin atau turun 6,67% ke posisi 224 pada waktu yang sama. Hampir seluruh saham tambang kemarin turun cukup dalam. Hal itu, disinyalir investor merespons secara reaktif terhadap pernyataan Menteri ESDm yang berencana mengatur harga batu bara untuk kepentingan ketenagalistrikan.

Pantauan koran ini, sejak awal pembukaan perdagangan saham PTBA sudah diperdagangkan di zona merah. Bahkan kondisi kian parah pada paruh kedua perdagangan selepas jeedah. PTBA kian menukik drastis dan ditutup melemah 17,25 persen atau Rp2.100 ke level 10.075. Ini merupakan koreksi yang cukup besar yang menimpa emiten sekelas PTBA.

Menangapi itu, Branch Manager BNI Sekuritas Palembang Ari Magdalena mengatakan, koreksi yang cukup dalam atas saham PTBA cukup mengejutkan pasar, sebab koreksi terjadi justru disaat harga batubara sedang stabil. Akibatnya banyak investor lokal yang sebelumnya sudah terlanjur membeli saham PTBA untuk trading panik.

“Cukup diluar dugaan, sebab selumnya emiten tambang batubara memberikan kontribusi besar untuk mendongkrak kinerja indeks secara keseluruhan. Namun tiga emiten seperti PTBA, Adaro Energi dan INDI konpak melemah, dan yang paling parah adalah PTBA yang turun 17,25 persen,” jelasnya.

Koreksi yang terjadi pada saham-saham batubara termasuk PTBA karena adanya wacana untuk pembatasan basokan batu bara ke PLN oleh pemerintah. Kondisi ini diperparah dengan adanya signal jika PLN memang menghendaki adanya pembatasa pasokan. “Jelas kondisi ini membuat investor kecewa, sebab selama ini ketika batubara sedang anjlok justru pasar lokal yang bisa menopang hingga nilai jual tidak terlalu jatuh,” kata dia.

Akibat jatuhnya sektor batubara ini memberikan dampak negatif juga ke sektor migas. Beberapa emiten seperti Conoco dan Elnusa sahamnya ikut terkena koreksi. “Konsolidasi pada saham sektor tambang ini bisa terjadi hingga sepekan kedepan, tergantung bagai makan respon pemerintah melihat aksi penolakan investor ini,” katanya.

Adanya pembatasan penggunaan batubara untuk PLN ini disebabkan adanya wacara PLN akan mengimpor gas dari Singapura. Meski ini sebatas isu, jelas kebijakan ini sangat mengganggu stabilitas ekonomi dalam negeri sebab selama ini orang sudah banyak tahu jika mayoirtas gas yang dijual Singapura ituberasal dari Sumatera Selatan.

“Wacana PLN ingin beli gas dari singapura itu masih penjajakan, namun ini tentu tidak seirama dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang mengutamakan penggunakan energi lokal termasuk untuk batubara,” terangnya.

Senada, Branch Manager Mirae Asset Sekuritas Palembang Monik Romasari juga menilai penurunan saham PTBA yang cukup dalam akibat isu pembatasan konsumsi batubara untuk pembangkit listrik.

“Ini terjadi karena PLN yang membatasi pemakaian batubara yang. Kami prediksi beberapa hari kedepan PTBA masih akan koreksi bahkan berpotensi pecak dari harga 10.000. (iam)

 

 

No Responses

Tinggalkan Balasan