Peringatan May Day

Buruh Marjinal, Pemerintah Gagal

 

Dunia usaha dan buruh tidak dapat dipisah. Tanpa buruh, dunia usaha tidak akan bisa berjalan. Kontribusi buruh terhadap perkembangan dunia usaha dan bisnis sangat besar. Sayangnya, masih banyak buruh yang hidup di bawah standar. Pemerintah gagal membebaskan buruh dari marjinalisasi.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel mencatat, posisi daya saing dunia usaha Indonesia saat ini berada di peringkat 34 dari 148 negara di dunia, sementara khusus untuk Asean, posisi Indonesia hanya lebih baik dari Filipina dan Vietnam. Malaysia yang selama ini menjadi pembanding Indonesia posisinya jauh lebih baik.

Parahnya lagi, bukan hanya daya saing pengusaha yang masih jauh dari harapan, daya saing tenaga kerja juga masih menjadi persoalan. Berdasarkan survey lembaga independen yang dikaji oleh Apindo, posisi tenaga kerja Indonesia berada di nomor 110 dari 134 negara di dunia.

“Selain masalah daya saing dan rendahnya kulitas pekerja, disaat bersamaan teman-teman serikat pekerja dan buruh juga belum merasakan kondisi yang diharapkan, akibatnya saring muncul tuntutan yang jauh dari jangkauan pengusaha. Tahun lalu ada 10 tuntutan buruh yang hingga saat ini masih sulit untuk direalisasikan,” kata Ketua Apindo Sumsel Sumarjono Saragi saat acara dialog interaktif perayaan hari buruh international Rabu (29/4) di hotel Mexone Palembang.

Menurut Sumarjono, sepuluh tuntutan buru tersebut saat ini sulit untuk direalisasikan. Sebab jika perusahaan memaksakan untuk mengabulkan tuntutan akan berdampak pada kelangsungan dunia usaha. Penurunan daya saing dunia usaha saat ini karena kualitas tenaga kerja yang jauh dari standar rata-rata dunia, kebanyakan buruh saat ini masih lulusan SMP dan SMA, dengan skil seadanya. Kalangan pengusaha di Sumsel mengakui jika saat ini sangat sulit untuk mendapatkan pekerja yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.

Belum selesai masalah daya saing dan kulitas pegawai, dunia usaha akan semakin dipersulit dengan penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 1 Januari 2016 mendatang. Pintu tenaga kerja asing untuk masuk terbuka. Ini tentu mengancam kedaulatan tenaga kerja lokal.

Jika dibandingkan, kualifikasi tenaga kerja asing masih jauh diatas tenaga kerja kita. Sementara untuk tuntutan upah meraka tidak sebesar tenaga kerja kita. Jika tuntutan buruh untuk meminta kenaikan upah semakin tinggi, bisa saja pengusaha akan mengalihkan rekrutmen pegawai dengan memiliki tenaga kerja asing.

Lemahnya daya saing dunia usaha berimbas pada Sumsel. Saat ini ekonomi bergerak hampir stagnan. Karet masih sulit untuk berkembang, karena progam industri hilir saat ini belum ada kejelasan, begiitu juga dengan batubara. Sumsel saat ini patut berterima kasih kepada pengusaha kelapa sawit, sebab sejauh ini ekonomi Sumsel banyak tertolong oleh kelapa sawit.

Meski harga kelapa sawit saat ini tidak sehebat tahun 2011 lalu, namun setidaknya kondisi harga masih stabil karena terbantu oleh penguatan dolar. Menurut Sumarjono, saat ini yang bisa menolong untuk melakukan pemulihan kondisi ekonomi hanyalah pemerintah, sebab pemerintah memiliki dana besar di APBN untuk melakukan perbaikan. “Namun penggunaan dana APBN untuk memperbaiki ekonomi hanya sebuah solusi jangka pendek, sambil menunggu perbaikan jangka panjang yang bisa dilakukan kalangan pengusaha melalui pola inevestasi,” katanya.

Yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi saat ini adalah perbaikan infrastruktur, sementara untuk penyerapan tenaga kerja nantinya bisa diakomodir oleh pengusaha, dengan syarat pemerintah harus menerapkan kemudahan izin usaha.

 

Pendidikan Rendah

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumatra Selatan Dewi Indriati mengungkapkan, daya saing tenaga kerja memang menjadi permasalah yang terjadi tiap tahun, sebab dari angkatan kerja baru yang terbentuk setiap tahunnya, mayoritas masih lulusan SMA kebawah. Tidak heran jika posisi kerja yang setrategis diperusahaan banyak diisi oleh orang dari luar Sumsel.

“Secara nasional, setiap tahun jumlah angkatan kerja baru yang lahir lebih dari 2,5 juta sementara di Sumsel hampir 10 persen. Sementara penambahan perusahaan baru masih minim, ini tentu menjadi gep yang menyebabkan angka pengangguran yang tinggi,” kata dia.

Makanya Pemprov Sumsel mendorong pihak swasta untuk mengembangkan dunia usaha di Sumsel, ada projek KEK TAA yang jika terealisasi akan menyedot tenaga kerja lokal cukup besar. “Sumsel sekarang kekurangan lapangan usaha,” katanya.

Namun lanjut dia, untuk kondisi tenaga kerja di perusahaan yang ada di Sumsel masih didominasi pekerja lokal, mungkin hanya 10 persen tenaga kerja asing yang ada di sini. Disnakertrenas saat ini memiliki progam bersama dengan pengusaha untuk meningkatkan skil pekerja, melalui berbagai pelatihan, hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kalangan pekerja.(iam)

 

 

 

 

2 Responses

Tinggalkan Balasan