Makanan Sarat Sejarah, Cakhwe  Sudah Populer pada Zaman Dinasti Song

0
188

RADAR PALEMBANG – CAHKWE atau Cakhwe, Cakwe adalah salah satu penganan tradisional Tionghoa. Kata Cahkwe sendiri berasal dari dialek Hokkian yang berarti “Hantu yang Digoreng”. Nama ini berhubungan erat dengan asal usul penganan yang kecil namun sarat akan nilai sejarah ini.

Cahkwe mulai populer pada zaman Dinasti Song, berawal dari matinya Jendral Yue Fei yang terkenal akan nasionalismenya, akibat fitnahan Perdana Menteri Qin Hui. Mendengar kabar kematian Yue Fei, rakyat Tiongkok kemudian membuat 2 batang kecil dari adonan tepung beras yang melambangkan Qin Hui dan istrinya lalu digoreng untuk dimakan. Ini dilakukan sebagai simbolisasi kebencian rakyat atas Menteri Qin Hui.

Di Indonesia, Cahkwe dijual di toko atau dijajakan oleh pedagang kaki lima di beberapa daerah. Cara penyajian pun beragam; misalnya seperti di daerah Solo, Jawa Tengah, penyajiannya disertai susu kedelai. Di Pontianak, Kalimantan Barat, Cahkwe umumnya manis dan kenyal; yang disajikan dengan Lek Taw Zuan (dari bahasa Tiochiu). Lek Taw Zhuan sendiri adalah kacang hijau yang dibuang kulitnya dan dikukus dengan daun pandan. Setelah itu kacang hijau diberi gula kental dan disajikan bersama Cahkwe yang diiris kecil-kecil. Sedangkan di daerah lainnya, Cahkwe disajikan dengan sambal asam cair.

Sedangkan di Tiongkok, Cahkwe Juga banyak disajikan oleh pedagang kaki lima, dimakan dengan cara mencelupkannya ke dalam bubur panas. Di Tiongkok Utara, Cahkwe dimakan bersama susu kedelai manis maupun asin.Sejarah Cahkwe.

Jendral Yue Fei merupakan salah satu Jenderal utama pasukan Dinasti Song Selatan yang terkenal akan keberhasilannya menekan suku Jurchen Negara Jin dari utara. Pada abad ke 12, dengan perintah Kaisar Gaozong dari Song, ia mengadakan kampanye perang untuk mengembalikan daerah yang direbut oleh Dinasti Jin. Jendral Yue Fei dengan gigih berhasil menaklukkan musuh dan mengembalikan beberapa kota milik Song. Konon ada legenda yang menyebutkan sebelum masuk kemiliteran, ibunya pernah memberinya wejangan dan menorehkan tato : yang artinya berbunyi “Setia dan tulus membela Negara“. Tato inilah yang selalu diingat Yue Fei dan menjadi pedoman hidupnya.

Pada saat bersamaan di istana Kaisar Tang Gaozong ada seorang Perdana Menteri yang bernama Qin Hui. Berbeda dengan Yue Fei, ia menganggap peperangan melawan Negara Jin adalah pemborosan uang negara. Dengan pengaruhnya, Qin Hui menghasut para Menteri dan Kaisar Tang Gaozong untuk menghukum Yue Fei atas tuduhan palsu. Pada tahun 1141 ia kemudian dipanggil menghadap kaisar dan dihukum mati pada tahun 1163.

Kematian Yue Fei menyulut kemarahan rakyat. Di ibu kota, ada seorang pedagang penganan kecil bernama Wang Xiaoer dan Li Si yang sedang mencari ide untuk menjual makanan. Wang Xiaoer melihat kemarahan rakyat pada Qin Hui dan akhirnya mendapat ide. Ia kemudian menggoreng dua adonan tepung yang ia bentuk seperti manusia yang saling memunggungi. Jika digoreng, adonan itu pasti mencuat ke permukaan.

Dengan lantang ia berteriak “Dijual Hui Goreng!”. Kata “Hui” mengacu pada Menteri Qin Hui. Hal ini menarik banyak orang yang kemudian datang untuk melihat seperti apa bentuk dari “Hui Goreng” tersebut. Dengan cara itu, makanan ini menyebar dengan cepat dari Lin’an, ibu kota Song Selatan pada waktu itu.

Pada tahun 1163, 21 tahun setelah kematiannya, Kaisar Xiaozong membangun kuil untuk mengingat jasa Yue Fei. Di sana ditaruh empat buahg patung, masing-masing yaitu patung Qin Hui, Wang Shi (istri Qin Hui), Mo Qixie dan Zhangjun (2 bawahan Qin Hui). Keempatnya dalam keadaan berlutut sebagai simbol penebusan kesalahan mereka. Di sisinya terdapat enam buah patung yaitu dua kuda, dua macan dan dua kambing yang melambangkan para penjaga Yue Fei. (tio)

LEAVE A REPLY