Kebijakan Green Energy Telah Diterapkan, Lalu Bagaimana Potensinya di Indonesia?

0
247
Ilustrasi Green Enargy

Oleh :

Ryu Vincent Tanutomo, Tasya Bernadita Nur Salsabilla, Cristin Natasya Meliani, Ernest Yacob, Yunita

Program Studi Akuntansi, Fakulas Bisnis dan Akuntansi di Universitas Katolik Musi Charitas Palembang

Dosen Pengampu : Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM.

Energi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sejak zaman dahulu. Penggunaan hewan untuk membajak sawah, kayu bakar untuk memasak dan penggunaan angin untuk berlayar menjadi bukti pentingnya energi dalam menunjang kehidupan manusia (Yusgiantoro, 2000). Dalam penggunaanya energi dapat dibagi menjadi energi primer dan sekunder. Energi primer merupakan bentuk energi yang dapat langsung digunakan seperti minyak bumi, gas dan batubara. Energi sekunder merupakan energi yang dapat digunakan setelah melalui proses pengolahan lebih lanjut.

Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan penduduk di bumi semakin banyak, konsumsi meningkat, energi primer semakin menipis karena energi tersebut tidak dapat diperbarui dan membutuhkan waktu untuk memproduksinya. Penggunaan energi yang tidak dapat diperbarui juga memicu pemanasan global yang berdampak buruk bagi bumi sehingga dengan menggunakan energy yang dapat diperbarui diharapkan dapat mengurangi pemanasan global.

Tantangan Penerapan Green Energy

  1. Bergantung pada bahan bakal fosil

Penghalang utama peralihan ke green energy di Indonesia adalah tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil masih sangat tinggi. Porsi bauran energi primer Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil. Indonesia masih memiliki perjanjian jangka panjang akan bahan bakar fosil dan kondisi arsitektur perekonomian yang masih tergantung dengan bahan bakar fosil. Membuat suatu dialog antar institusi yang mendorong transisi ke green energy dalam skala regional dan melakukan studi kelayakan untuk energi terbarukan lintas negara adalah salah satu langkah yang bisa kita ambil untuk meringankan masalah ini.

  1. Keterbatasan investasi

Investasi untuk riset dan pengembangan teknologi terbarukan yang diberikan oleh pemerintah masih sangat sedikit. Ketersediaan material penelitian, prasarana, dan sarana penelitian sangat terbatas. Staf PLN yang memiliki kemampuan tentang

energi terbarukan untuk diimplementasikan dalam skala besar sangat sedikit. Teknologi terbarukan yang masih harus diimpor dan sedikit industri yang membantu pengembangan Green Energy .

Berdasarkan data Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam “Laporan Status Energi Bersih Indonesia pada maret 2019 bahwa Indonesia memiliki 10 daerah dengan potensi energi keterbarukan yang terbesar.Daerah tersebut terletak diluar pulau jawa dan sumatera yakni di Kalimantan Barat dengan potensi 26.841 Mw dimana Salah satunya adalah bioenergi yang dapat berasal dari sawit, Luas lahan sawit di Kalimantan barat mencapai 1.312.517 Ha atau setara dengan 64 persen dari total lahan perkebunan yang ada ,yang diyakini juga sebagai sumber energi ramah lingkungan. Kemudian daerah terbesar kedua adalah Papua dengan potensi 26.529 MW, energi keterbarukan yang tersebut akan dikembangkan oleh PT PLN Persero yakni pembangkit listrik pikohidro (PLTPh), pembangkit listrik biomassa (PLTBm) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Berikut data 10 daerah dengan potensi energi keterbarukan terbesar:

DATA POTENSI ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA

Berikut data mengenai potensi, kapasitas terpasang, dan rencana pemasangan dalam jangka tahun 2019-2028 energi terbarukan di wilayah Indonesia yang mengambil beberapa komponen dari banyak jenis energi terbarukan berupa PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu), dan PLTBio (Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi) diseluruh wilayah Indonesia termasuk salah satunya provinsi Sumatera Selatan. Sebagai informasi Indonesia memiliki potensi energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Bayu sebesar 60.647 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut sebesar 17.988 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi sebesar 32.564 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah sebesar 0.536 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas  Bumi sebesar 17.546 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Air sebesar 75.091 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sebesar 19.385 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya sebesar 207.898 MW.

Dampak Green Energy bagi Kehidupan  

Green Energy yang saat ini sedang diterapkan pemerintah adalah suatu pilihan terbaik untuk memenuhi berbagai kebutuhan energi yang ada di negara kita. Dampak positif Green Energy sangat besar diantaranya sebagai berikut :

A. Dampak Sosial

Secara sosial penggunaan Green Energy dapat memberikan manfaat seperti peningkatan kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat dan kemajuan dalam hal teknologi. Hal ini bisa terjadi karena sumber daya Green Energy seperti air, angin dan cahaya matahari tergolong ramah lingkungan dan mengurangi tingkat polusi.

B. Dampak Ekonomi

Secara ekonomi, dengan adanya proyek pembangunn Green Energy dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, menguntungkan pemasok material, dan menghidupkan perekonomian secara bersamaan.

C. Dampak Lingkungan

Lingkungan adalah aspek yang paling merasakan dampaknya. Beberapa energi yang ada seperti Cahaya Matahari, Angin dan Air cenderung ramah lingkungan dan dapat mengurangi polusi berupa gas karbon dioksida pada area sekitar pembangkit.

 Potensi Energi Keterbarukan di Sumatera Selatan

Berdasarkan data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Selatan (sumsel) saat ini telah siap menjadi lumbung energi dan berkontribusi untuk Proyek Kelistrikan 35.000 MW dimana Sumsel siap untuk berkontribusi sebesar 10.000 MW dari 35.000 MW yang menjadi proyek kelistrikan pemerintah. Untuk membantu berkontribusi untuk proyek kelistrikan pemerintah Sumsel telah membangun pembangkit listrik dengan sumber energi terbarukan, yakni dengan mikro hidro di 15 desa dan tenaga surya di 187 desa. Selain itu potensi Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dan Biogas (PLTBg) merupakan salah satu opsi pemenuhan kebutuhan kelistrikan. Pengembangan PLTBm dan PLTBg diarahkan untuk menambah daya mampu sistem, mengurangi susut energi, dan mengurangi peran Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pada daerah yang terisolasi.

Khusus untuk Pengembangan PLTBm yang berasal dari sekam padi dimana PT Buyung Poetra Sembada merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi dan grosir produk beras. Pabrik PT Buyung Poetra Sembada yang terletak di Kabupaten Ogan Ilir ini memiliki inovasi baru. Perusahaan menjadi pelopor pembangunan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) sekam padi di Indonesia yang berkapasitas 3 MV yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik unuk mesin produksi, PLTBm ini beroperasi kuartal III 2019. Dengan memanfaatkan sekam padi yg merupakan limbah maka PT Buyung Poetra

Sembada telah menerapkan zero to waste. Dikutip dari Pabum News untuk potensi energi panas bumi di Sumatera selatan diperkirakan menyimpan 10 persennya, atau memiliki 2.095 MW dari potensi energi panas bumi nasional sebesar 29 GW.

Berikut sejumlah potensi panas bumi di Provinsi Sumatera Selatan :

  • WKP Danau Ranau

Lapangan panasbumi Danau Ranau telah ditetap menjadi Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) dengan SK No 1551 K/MEM/2011 tanggal 21/4/2011. WKP ini mencakup dua kabupaten yakni Oku (Ogan Komring Ulu), Sumatera Selatan dan Lampung Barat, Lampung. Titik potensi panas bumi berada pada ketinggian 500 – 1800 m dari permukaan laut. Manifestasi panas buminya di antaranya berupa mata air panas dengan temperatur 37 – 64 derajat Celcius. Sumber panasnya diduga berasal dari sisa magma pembentukan kerucut Gunung Api Seminung yang berada di bagian tengah Danau Ranau.

  • WKP Lumut Balai- Margabayur

Kementerian ESDM sempat menyebut bahwa potensi panas bumi Lumut Balai merupakan kebanggaan Sumatera Selatan karena memiliki potensi yang paling besar di antara potensi lainnya di provinsi ini.

Lapangan panasbumi Lumut Balai ditetapkan menjadi WKP melalui SK No 2067 K/30/MEM/2012 tanggal 18/6/2012. Lokasinya berada di Kabupaten OKU Selatan dan Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Potensi panas bumi Lumut Balai tersebar di beberapa titik yaitu, Lumut Balai dengan sumber daya hipotesis 235 MW, terduga 350 MW, mungkin 130 MW, dan spekulatif 120 MW. Kemudian Ulu Danau dengan sumber daya spekulatif 225 MW, hipotesis 6 MW. Titik lainnya berada di Margabayur dengan sumber daya hipotesis 145 MW dan terduga 194 MW. Pemegang izin pengusahaan panasbumi di WKP ini adalah PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), anak usaha PT Pertamina.

  • WKP Rantau Dedap

Potensi panasbumi Rantau Dedap ditetapkan menjadi WKP dengan SK Nomor 155 K/30/MEM/2010 tanggal 15-01-2010. WKP ini berlokasi di Kabupaten Muara Enim, Lahat, dan Kota Paga Alam, Provinsi Sumatera Selatan. WKP Rantau Dedap memiliki sumber daya hipotesis 193 MW, terduga 13, dan spekulatif 92 MW. Pemegang izin pengusahaan adalah PT Supreme Energi Rantau Dedap, anak usaha PT Supreme

Energi.Kapasitas terpasang dan rencana pengembangan yakni : Rantau Dedap Unit  1 Tahun 2020 86 MW dan Rantau Dedap Unit  2 Tahun 2026 134 MW.

  • WKP Tanjung Sakti

Ditetapkan menjadi WKP dengan SK Nomor 139 K/30/MEM/2016 tanggal 20-01-2016. Lapangan panasbumi ini berlokasi di dua wilayah provinsi yakni Sumatera Selatan dan Bengkulu, tersebar antara Empat Lawang, Lahat, Kota Pagar Alam, Bengkulu Selatan, dan Seluma. Indikasi keberadaan sistem panasbumi Tanjung Sakti diperkuat dengan munculnya mata air panas dengan temperatur 44-54 derajat C yang berada di sebelah barat laut G. Dempo dan 77-99 derajat C di sebelah barat daya G. Dempo.

Daerah prospek panasbumi yang paling menjanjikan terdapat pada daerah Gunung Dempo. Selain memiliki daerah alterasi yang cukup luas, daerah tersebut mempunyai manifestasi fumarol yang terdapat di dekat puncak Gunung Dempo yang mengindikasikan adanya sistem panas bumi bertemperatur tinggi.

  • Potensi Wai Selabung

Area prospek Wai Selabung memiliki sumber daya hipotesis 64 MW dan terduga 70 MW. Lokasinya berada di Kabupaten OKU Selatan. Panasbumi Wai Selabung dicirikan dengan munculnya air panas di beberapa titik, di antaranya di Lubuk Suan, Wai Selabung dan Selabung Damping.

Dengan banyaknya potensi Energi Terbarukan di Sumatera Selatan dapat memberikan dampak positif yakni pertama dapat membantu terpenuhinya target  kelistrikan pemerintah yang sebesar 35.000 MW, kedua dalam proses pembangunan pembangkit listrik Energi Terbarukan maka dapat membantu membuka lapangan kerja yang lebih banyak, ketiga dapat berkontribusi dalam memberikan penerimaan negara, terakhir dengan menggunakan pembangkit listrik EBT dapat membantu mengurangi polusi udara serta pemanasan global yang kian hari  memburuk.

Besarnya Potensi energi keterbarukan di Indonesia yang melimpah serta merupakan energi yang sangat ramah lingkungan sudah seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal yang  dengan adanya dukungan peraturan pemerintah serta masyarakat diharapkan energi keterbarukan dapat menjadi energi masa depan Indonesia. (*)

 

LEAVE A REPLY