IKNB Pengaruhi Pergerakan IHSG

 

 

 

+ MNC Sekuritas – ASDAPEN BPD Gelar Seminar Prediksi Ekonomi 2018

 

RADAR PALEMBANG – Pentingnya informasi mengenai kondisi perekonomian, perkembangan dunia pasar modal dan pasar surat utang bagi pengurus dan pengawas Dana Pensiun Bank Pembangunan Daerah mendorong Asosiasi Dana Pensiun Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (ASDAPEN BPD SI) untuk bersinergi dengan PT MNC Sekuritas dalam penyelenggaraan agenda rutin acara Market Outlook menjelang akhir tahun.

Kegiatan tersebut diwujudkan dalam bentuk acara Seminar “Economy and Capital Market Outlook 2018” dengan tema “At The Crossroad!”, Kamis (09/11).

Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina, mengatakan acara seperti ini memang sebaiknya digelar setiap akhir tahun. “Tahun lalu kami juga mendapatkan kehormatan untuk bersinergi dengan ASDAPEN BPD SI melalui penyelenggaraan acara serupa. Tahun ini kami kembali berbangga hati karena merupakan tahun kedua MNC Sekuritas digandeng oleh ASDAPEN BPD SI,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Institutional Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda menyampaikan paparan mengenai prediksi kondisi pasar modal Indonesia pada tahun 2018. Dia berpendapat bahwa kondisi ekonomi Indonesia berada di persimpangan dengan pengaruh faktor dari luar maupun dari dalam negeri.

Dari luar negeri, krisis geopolitik antara Korea Utara dan Amerika Serikat akan berdampak pada kenaikan harga minyak. Selain itu, pergantian gubernur bank sentral, baik di Amerika, Eropa, Jepang, maupun China akan mempengaruhi arah kebijakan suku bunga dan stimulus moneter di tahun 2018.

Faktor dari dalam negeri yang patut dicermati investor, lanjut Thendra, adalah pola nett flow asing di Bursa Efek Indonesia sejak pertengahan tahun 2017 hingga saat ini. Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019, faktor politik juga diprediksi akan mempengaruhi market berdasarkan pola yang terjadi pada IHSG jelang Pemilu tahun 2009 dan tahun 2014 lalu.

Investasi pada instrumen pasar modal oleh pelaku Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Indonesia, seperti asuransi, reasuransi, BPJS, Dana Pensiun pun akan mengambil peranan dalam pergerakan IHSG tahun 2018 mendatang.

“IHSG diestimasikan bertumbuh dengan target di level 6.127 hingga periode Semester 1 – 2018. Peningkatan IHSG saat ini dinilai relatif terbatas sehingga berpotensi mengalami tekanan profit taking ke depan,” simpul Thendra.

Dia merekomendasikan untuk melakukan strategi Sell on Strength secara bertahap untuk saat ini dan agresif ketika IHSG menembus di atas level 6.100. Beberapa sektor pilihan di 2018 seperti perbankan, telekomunikasi, dan tambang batubara yang dinilai masih prospektif dengan rekomendasi overweight. Sektor lainnya yang masih dinilai neutral antara lain sekor konsumsi, metal, perkebunan, otomotif, konstruksi, semen, dan properti.

Di sisi lain, Fixed Income Analyst MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menilai pasar surat utang masih memiliki prospek menarik di tahun 2018 di tengah tantangan tren kenaikan suku bunga acuan dunia. Imbal hasil dari surat utang global pada tahun 2018 diperkirakan akan mengalami kenaikan seiring dengan normalisasi kebijakan moneter yang diambil oleh beberapa bank sentral, di antaranya adalah Bank Sentral Amerika (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Inggris (BOE), maupun Bank Sentral Jepang (BOJ). Kenaikan imbal hasil surat utang global tersebut akan turut mempengaruhi pergerakan imbal hasil dari surat utang negara – negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kami melihat masih terdapat peluang pasar surat utang di dalam negeri pada tahun 2018 untuk memberikan kinerja positif bagi investor. Kondisi tersebut didukung oleh terkendalinya laju inflasi yang akan dikuti oleh masih dipertahankannya tingkat suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada level 4,25%,” jelas Made.

Selain itu, pasokan Surat Utang Negara yang masih terjaga seiring dengan defisit APBN 2018 yang diperkirakan sebesar 2,19% akan turut menjadi katalis positif bagi pasar surat utang di dalam negeri. Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, lanjutnya, akan menjadi kunci utama bagi kinerja pasar surat utang di dalam negeri serta bagaimana pemerintah mampu mencapai kinerja ekonomi sebagaimana yang diasumsikan dalam APBN 2018.

Made menilai, estimasi moderat terhadap tingkat imbal hasil Surat Utang Negara pada akhir tahun 2018 untuk seri acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun adalah sebesar 5,87%; 6,34%; 6,71% dan 7,00%. Adapun rekomendasi strategi investasi di instrumen surat utang pada tahun 2018 adalah strategi trading dengan pilihan pada tenor 3, 5, 7, dan 10 tahun serta strategi Buy on Weakness untuk tenor di atas 10 tahun. (rel)

 

No Responses

Tinggalkan Balasan