DEX Tanam USD 2,5 Miliar di Sumsel

0
372

 

 

 

RADAR PALEMBANG – Perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pengolahan minyak mentah (crude oil refinery), PT DEX Indonesia dalam waktu dekat akan membangun kilang pengolahan minyak mentah di kawasan Tanjung Carat (TC), Sumsel.

 

Chairman & Chief Executive Officer, Dex Indonesia, ETS Putera mengatakan, investasi di kawasan Tanjung Carat ini sejalan dengan rencanan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api di Sumsel. Dimana, nantinya DEX Indonesia akan ikut andil untuk menjadi calon tenant di kawasan yang saat ini digarap oleh perusahaan PT Sriwijaya Tanjung Carat (STC) dan PT Sriwijaya Mandiri Sumsel (SMS) tersebut.

 

Menurutnya, kilang pengolahan minyak tersebut memiliki kapasitas hingga 100 ribu barel per hari (bph). Selain itu, akan ada juga tangki penampungan minyak mentah (stotage tank) di kawasan serupa dengan kapasitas hingga 13 juta barel serta jasa transportasi minyak mentah melalui pipa minyak. “Total investasi DEX Indoensia sendiri nantinya sekitar USD 2,5 miliar,” katanya kepada Radar Palembang, Minggu (7/.1)

 

Putera menjelaskan, investasi dari DEX sendiri akan dimulai tahun ini, apalagi sejumlah perizinan yang dibutuhkan untuk berinvestasi saat ini sudah dikantongi. “Kami berkomitmen secara serius membantu program pemerintah dalam bidang ketahanan energi nasional. Adapun status proyek saat ini, kami sudah mendapatkan izin usaha dari Kementerian ESDM melalui BKPM untuk mendirikan kilang minyak di KEK Tanjung Api-api,” katanya.

 

Menurutnya, sejalan dengan pengembangan KEK TAA, DEX Indoensia menjadi salah satu calon tenant di kawasan tersebut. Dengan langkah tersebut, merupakan merespon Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2016 oleh Pemerintahan Jokowi-JK soal percepatan pembangunan kilang minyak untuk menjaga ketahanan energi nasional kedepannya.

 

Hal ini disebabkan untuk mengurangi ketergantungan import BBM disaat konsumsi nasional saat ini sudah menacapai 1,5 juta barel perhari, sementara kapasitas kilang Pertamina saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 1 juta barel perharinya, kekurangan sudah pasti harus di impor. “Juga sudah didukung dimana Kementerian ESDM telah mengeluarkan juga Peraturan Menteri ESDM untuk pembangunan kilang Minyak Mini untuk mengomodir lapangan minyak marginal agar dapat diolah menjadi efisien,” katanya.

 

 

Kuartal I, Lahan KEK TAA Rampung

 

 

Pembebasan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api (TAA) saat ini terus dalam progress positif guna mengejar syarat minimal 217 hektar dari dewan nasional KEK pada Juni tahun ini. PT Sriwijaya Tanjung Carat (STC) selaku investor yang menggarap KEK TAA dan Tanjung Carat (TC) menargetkan pembebasan lahan akan selesai pada kuartal I tahun 2018 ini.

 

Chairman & CEO PT Sriwjaya Tanjung Carat, ETS Putera mengatakan, saat ini progress pembebasan lahan sudah mencapai 152,76 hektar. Rincianya, 66,17 hektar yang telah dibebaskan oleh PT SMS (badan usaha milik Pemprov Sumsel) selaku pengelola KEK TAA dan TC, dan 86,6 hektar yang telah dibebaskan oleh PT STC. “Kami optimis masalahan lahan ini akan selesai dalam waktu dekat, bahkan pada Juni mendatang jumlah yang telah dibebaskan melebihi syarat minimal dari dewan KEK,” katanya, Minggu (7/1)

 

Optimisme tersebut bukan tanpa alasan, sebab masyarakat sekitar atau yang terkena dampak pembebasan sangat mendukung terlaksananya KEK itu sendiri. Hal ini dengan telah dibuktikan melalui surat penyataan secara tertulis yang diwakili oleh sejumlah Kepala Parit, Ketua RT, dan tokoh masyarakat setempat. “Kami juga sudah dan terus melakukan sosialisasi ke masyarakat baik di darat maupun perairan, Alhamdulillah mereka mendukung guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat disana,” katanya.

 

Selain itu, dengan dukungan yang positif dari masyarakat tersebut, hingga akhir tahun 2018 ini pihaknya juga menargerkan pembebasan lahan keseluruhan KEK TAA seluas 2.030 hektar akan terlaksana. “Sekitar 40 persen lahan dikawasan tersebut lebih kepada persawahan, sementara saat ini 1.400 hektarnya sudah atas nama perusahaan, dan telah berkomitmen untuk mendukung KEK TAA. Jadi secara umum ditinggal pengukuran dan dilakukan proses ganti rugi saja,” katanya. Dalam proses pembebasan lahan serta pergantian tanam tumbuh di kawasan KEK TAA ini, pihaknya telah mengalokasikan biaya sebesar Rp1,5-2 triliun.

 

Selain lahan, pihaknya saat ini telah melakukan beberapa kegiatan lanya di KEK TAA seperti persiapan pembangunan pintu gerbang kawasan dan kantor sementara (Temporary Site Facilities) di dalam kawasan. Model kantor sementara itu akn menggunakan peti-peti kemas yang dibalut sedemikian rupa menjadi sebuah bangunan siap pakai dengan sejumlah fasilitas penunjang lainya. “Sebelum pada Maret pengiriman peti kemasnya akan mulai dilakukan dari Surabaya, dan sebelum Juli sudah selesai,” katanya.

 

Sementara untuk Tanjung Carat, kata Putera, proses reklamasi akan dimulai pada sekitar Juni-Juli tahun ini, dimana nantinya reklamsi lahan sendiri akan membentuk daratan seluas 2.202 hektar.

 

Dalam proses reklamasi ini, akan dilakukan oleh kontraktor asal Belanda, yakni endatangkan kapal keruk dari belanda melalui perusahaan Bolkalis. ‘Untuk reklamsi akan menggunakan 5-6 kapal keruk dengan kapasitas 35 ribu kubik,” katanya. Kegiatan reklamasi hingga menjadi daratan atau kawasan ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 tahun atau ditarget selesai pada tahun 2020 mendatang.

 

Terpisah, H Gopar, Ketua Paguyuban Masyarajat Bugis Sumsel didampingi Syamsudin, Ketua Masyarakat Parit di Wilayah TAA.mengatakan, memang awalnya masyarakat di daerah KEK TAA sedikit memiliki keraguan mengenai ganti rugi lahan tersebut. Akan tetapi seiring berjalanya waktu dan telah terealisasi masyarakat mulai mendukung dan meminta agar proses pergantian ataupengukuran lahan cepat dilaksanakan. “Kami menginginkan KEK TAA ini dapat segera terlaksana sehingga mampu mengangkat perekonomian masyarakat di wilayah tersebut,” katanya.

 

Apalagi, pada saat proses pergantian ganti rugi,ada salah seorang warga yang bias menerima hingga Rp 4,8 miliar untuk mengganti rugi lahan milik mereka. Tentu hal ini menjadi semangat bagi masyarakat untuk cepat menyelesaikan kegiatan ganti rugi tersebut. “Kami lebih fleksibel dalam pergantian tersebut, yang terpenting pembangunan KEK TAA dapat segera terealisasi,” katanya.(tma)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY