Bangun Jalur Pipa, PDPDE Investasi $200 Juta

 

RADAR PALEMBANG – Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) terus melebarkan sayap bisnisnya. Setelah merealisasikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Jakabaring, ditahun ini badan usaha milik Pemrov Sumsel ini bersiap untuk membangun pipa gas sepanjang sekitar 118 kilometer.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE), A Yaniarsyah Hasan mengatakan, proyek jalur pipa tersebut akan menghubungkan Palembang-TAA- Muntok. Peruntukanya memang ditujukan untuk distribusi gas ke Provinsi Bangka Belitung. “Investasi proyek ini sebesar $200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun,” katanya, Rabu (3/1) Dalam menjalankan proyek ini, pihaknya membentuk konsorsium dengan perusahaan asal negeri gingseng, yakni Korean Gas (KoGas) yang akan dilakukan pada Maret 2018 mendatang. “Sementara untuk penandatangan proyeknya sendiri sudah dilakukan sejak Mei 2016 lalu di Korea,” katanya.

Dia menjelaskan, dari penandantanganan kontrak proyek, memang membutuhkan waktu cukup lama sekitar 2 tahun untuk menunggu izin dari Badan Pengatur Hilir Migas dan Dirjen Migas di Kementerian ESDM. “Setelah penandatanganan konsorsium nanti, kita akan mempersiapkan Detail Engineering Design (DED) dan Amdal sekitar enam bulan. Nah, ditargetkan September proyek ini sudah bisa dimulai,” katanya. Untuk Feasibility Study (FS) sendiri sudah selesai. Yaniarsyah menambahkan, proyek pipa yang menghubungkan Provinsi Sumsel dan Babel ini memiliki panjang sekitar 118 kilometer. Dimana 73 kilometer berada di darat, dan 45 kilometer di dalam laut. “Pipanya memiliki ukuran diameter 20 inci dengan kapasitas suplai 200 mmcfd,” katanya.

Nah, dalam hal ini PDPDE bertindak sebagai penyedia/penyelenggara jaringan pipa yang mana nantinya untuk gas rencananya akan disuplai oleh  ConocoPhillips dan Pertamina. “Jadi dapatnya nanti semacam penyelenggara pipa tol fee, atau biaya cas penggunaan pipa. Untuk besaranya sendiri nanti akan ditentukan oleh pemerintah dan diseSelain membangun jalur pipa laut ini, di tahun ini PDPDE juga memiliki proyek energi lainya, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) mini di Baturaja, OKU Induk dengan kapasitas 1,5 megawatt. “Untuk PLTMH sejauh ini untuk perizinan sudah siap. Termasuk revisi kontrak dan lainnya. Tapi diperkirakan pada Juni 2018, izin prinsip baru keluar,” katanya.

Menurutnya, pihaknya baru memperpanjang kontrak PLTMH ini pada pertengahan tahun lalu dengan pengembang. Pembangunan pembangkit di air terjun Way Kambas dengan karakteristik air terjun yang curam dan tinggi. Pengembangan ini membutuhkan lahan 3 hectar. “Investasi pengembangan energi terbarukan ini $ 2 juta,” katanya. Dikatakan dia, pengembangan PLTMH di Sumsel terbilang agak terlambat dibandingkan daerah lain. Bahkan, di Sumsel cukup banyak PLTMH yang dikembangkan oleh swasta. “Bagi PDPDE merupakan yang pertama dan tentunya menjadi pilot projet kedepannya,”katanya.

Ia menjelaskan, PLTMH ini memang belum tergarap maksimal lantaran untuk pengembangan ini membutuhkan dana cukup besar termasuk juga lahan. Disamping memang tingkat pengembalian modal 9 persen lebih lama dibandingkan energi fosil seperti batubara. “Artinya, memang menguntungkan untuk waktu yang lama, tapi untuk tingkat (jangka waktu) pengembalian modal lama. Ya kalau baturara sekitar 10 tahun, ini bisa mencapai 15 tahun,” katanya

Dengan demikian, tentu bagi para investor ini patut menjadi pertimbangan untuk pengembangan energi ini terutama di Indonesia. “Hanya saja, kalau proyek pengembangan energi ini akan mendapatkan bantuan dari pemerintah Jepang,” katanya. Sementara itu, Pengamat BUMD Sumsel, Roshian Arsyad mengatakan, sedikit sejarah BUMD di Sumsel mungkin yang pertama berdiri adalah PDPE Sumsel, tujuan didirkanya dengan alasan Sumsel kaya energi tapi masyarakanya belum turut menikmati kekayaan tersebut. “Kebetulan pendirian PDPDE itu saat saya menjabat sebagai Gubernur,” katanya.

Tujuannya adalah memperbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang akan dikembalikan kepada masyarakat dengan program yang bermanfaat. “Dengan adanya PDPE kita mempunyai alat dan sarana untuk turut berkiprah di bidang pertambangan dan energi. Mengingat saat itu kita tidak memiliki modal yang besar, maka upaya pertama kita dengan dimotori Dirut PDPE saat itu  Janieir Moeir adalah memperjuangkan untuk mendapatkan Indonesia Participating Interest. Setelah perjuangan yang panjang kita mendapatkan 5 % saham dari satu ladang PT EXPAN yang diperpanjang ijinnya setelah habis masa berlakunya dengan cara membayar dengan bagian keuntungan,” katanya.

Maka dari itu, kata dia, tentu semua berharap dengan berjalannya waktu, bidang usaha PDPE dapat diperluas pada bidang energi lainnya terutama energi bersih, baru dan  terbarukan seperti tenaga air dan panas bumi serta inovasi lainnya. “Saya gembira mendengar PDPE mulai menggeliat lagi, dan saya berharap agar PDPE dapat berperan serta dalam pengelolaan pertambangan di Sumsel seperti batubara, minyak dan gas,” katanya.(tma)

No Responses

Tinggalkan Balasan