Wamenkeu: Jangan Khawatir dengan Resesi

0
157

RADAR PALEMBANG -Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara meminta masyarakat tidak khawatir dengan resesi ekonomi yang tengah menjadi sorotan karena dialami sejumlah negara di dunia. Resesi terjadi karena pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Saat ini, beberapa negara sudah mendapatkan status resesi, mulai dari Singapura, Korea Selatan, Jerman, hingga Amerika Serikat. Hal ini pun membuat masyarakat khawatir bahwa status resesi juga akan melekat pada Indonesia.

“Apakah Indonesia masuk resesi? Ini agak ramai di media massa sekarang ini. Tapi yang muncul di media massa ini lebih kepada labelnya, statusnya, label seperti itu tidak menolong sekali,” kata Suahasil dalam diskusi virtual yang diadakan Universitas Lambung Mangkurat, Selasa (4/8).

Suahasil mengungkap pihaknya berharap agar pertumbuhan ekonomi Indonesia jangan sampai negatif. “Indonesia bagaimana? Kami sih berharap tidak negatif, tapi kalau sampai negatif, ya jangan khawatir dengan urusan label (resesi),” sambungnya.

Suahasil menyatakan dirinya tak menampik bila pertumbuhan ekonomi Indonesia akan negatif pada kuartal II 2020. Bahkan, proyeksi pemerintah meningkat dari minus 4,3 persen menjadi minus 5 persen pada April-Juni 2020.  “Estimasi kami sekitar minus 5 persen, tapi mari kita tunggu sampai besok rilis resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS),” katanya.

Sementara untuk kuartal III 2020, ia mengatakan peluang Indonesia tumbuh negatif ada. Hanya saja, pemerintah juga masih berharap pertumbuhannya justru positif, sehingga Indonesia tidak berlabel resesi.

Sayangnya, ia enggan mengungkap prediksi terbaru untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020. Proyeksi terakhir dari pemerintah memperkirakan ekonomi tumbuh 0,4 persen pada Juli-September 2020.

“Apapun trennya, harus positif pada kuartal III, artinya pertumbuhan ekonomi kuartal III harus lebih baik dari kuartal II, April-Juni itu dari berbagai indikator, itu yang paling parah. Apakah indikator bisa lebih parah? Nah, itu tergantung kesehatannya,” tuturnya.

Suahasil mengatakan bila sektor kesehatan bisa dijaga dan gelombang kedua penyebaran virus corona atau covid-19 tidak terjadi, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa tumbuh positif pada kuartal III 2020. Sebaliknya, bila sektor kesehatan memburuk dan ekonomi tidak berjalan, maka bisa menjadi bencana bagi laju perekonomian.

“Tapi kalau buka ekonomi dan protokol kesehatan dijalankan, maka kegiatan ekonomi bisa muncul. Sehingga kuartal III kita bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan terhindari dari label resesi,” ujarnya.

Sementara untuk keseluruhan tahun, pemerintah masih memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar minus 0,4 persen sampai 1 persen dengan titik tengah sedikit di atas nol persen pada 2020. (fin)

 

LEAVE A REPLY