Waduh, Kedelaipun Harus Impor dari AS

0
134

 

RADAR PALEMBANG, INDONESIA masih sangat bergantung kacang kedelai yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan menjadi salah satu alasan adanya kegiatan impor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip, Jakarta (16/1/2019). kacang kedelai dari negeri Paman Sam masih sangat mendominasi dibandingkan dengan negara lainnya.
Sepanjang 2018, dari total impor kacang kedelai yang sebesar 2,58 juta ton dengan nilai US$ 1,10 miliar, kacang kedelai dari AS jumlahnya 2,52 juta ton dengan nilai US$ 1,07 miliar.
Selain dari AS, impor kacang kedelai juga berasal dari Kanada dengan jumlah 54,53 ribu ton dengan nilai US$ 24,73 juta, lalu dari Malaysia sebanyak 10,41 ribu ton dengan nilai US$ 6 juta.
Kemudian impor kacang kedelai yang berasal dari Selandia Baru sebanyak 470 ton dengan nilai US$ 200,39 ribu. Lalu, berasal dari Prancis sebanyak 126,8 ton dengan nilai US$ 79,8 ribu. Sedangkan lainnya sebanyak 13,7 ton dengan nilai US$ 18,5 ribu.
Meski di tahun 2018 impor kacang kedelai dari AS tinggi, namun jika dibandingkan dengan periode 2017 mengalami penurunan. Di mana, volume khusus AS sebesar 2,63 juta ton dengan nilai US$ 1,13 miliar.
Bagaimana Jagung?
Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta Bulog, agar segera menyerap hasil panen jagung petani dimana harga jualnya di pasaran, saat ini nyaris anjlok, yakni menyentuh angka Rp 3.150 per kilogram.
Amran mengatakan batasan harga jagung yang ditetapkan Presiden tidak boleh di bawah angka Rp 3.150 per kilogram. Jika hasil panen jagung tak segera diserap, petani akan merugi.
“Saat ini harga jagung sudah Rp 3.150 per kilogram, kalau tidak segera diserap 1 bulan atau 2 bulan lagi harga akan semakin jatuh, dan petani bakalan merugi,” kata Arman saat melakukan kunjungan kerja, ke lahan pertanian jagung di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Ditanya impor jagung sebesar 100 ribu ton pada 2018 lalu, dan 30.000 ton awal tahun ini, Amran mengaku optimistis terjadi surplus. Pasalnya di tahun yang sama, pemerintah telah melakukan ekspor jagung sebesar 380 ribu ton.
“Memang ada impor sekitar 130 ribu ton, tapi pemerintah juga ekspor sekitar 380 ribu ton,” kata dia. Guna menjaga stabilitas harga jagung, Amran mengaku, pemerintah telah menyetop impor jagung dari Argentina dan Amerika. (hek/dna/idr/hns)

LEAVE A REPLY