Vihara Prajna Shanty Rayakan Moon Cake Festival

0
309

RADAR PALEMBANG – Perayaan Moon Cake Festival di Vihara Prajna Shanty, Jumat (13/9), dihadiri ribuan umat Buddha di kota Palembang. Biksu Geng San didampingi ketua panitia pelaksana Ferdi Fernando mengatakan, dalam Festival Moon Cake dimeriahkan  kegiatan puja bakti, penyalaan pelita, ramah tamah dan makan kue bulan bersama. “ Pada perayaan ini kita juga merayakan HUT Boddhisatwa bulan,”ungkapnya.
Biksu Geng Shan mengatakan, kalau tujuan digelarnya perayaan ini selain untuk merayakan tradisi leluhur juga untuk mempererat tali silahturahmi sesama umat Buddha.“Tradisi ini, identik dengan makan bersama kue bulan setelah menggelar ritual sembahyang ke dewi bulan,” ujarnya.
Suhu Geng San menjelaskan, kalau perayaan kue bulan diperingati seluruh warga keturunan Tionghoa setiap hari ke-15 pada bulan ke-8 dalam kalender China. “Pada hari itu, bulan berbentuk bulat sempurna dan bersinar terang (bulan purnama). Menurut kepercayaan, pada malam itu Dewi Bulan menampakkan dirinya,”ujarnya.
Menurut Biksu, konon kue bulan berawal dari Dinasti Ming yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang. Ia memimpin kaum petani melawan pemerintah Mongolia dan menyebarkan pesan rahasia dengan menyem¬bunyikannya di dalam kue bulan.
Namun sebenarnya kue bulan tercatat dalam sejarah pada zaman Dinasti Song yang kemudian populer dan eksis hingga kini Di Indonesia, kue bulan dikenal dalam dialek Hokkian dengan sebutan Gwee Pia atau Tiong Chiu Pia,”terangnya.
Ada beberapa legenda dan mitos di balik perayaan kue bulan yang dimulai sejak 2170 SM. Yang paling terkenal adalah kisah sang pemanah Huo Yi yang berhasil memanah 8 matahari di langit se¬hing¬ga menyisakan satu saja. Ba¬nyaknya matahari itu membuat bumi sangat panas sehingga orang-orang menderi¬ta karena kekeringan dan kelaparan. Sumber-sumber air mengering, tanaman rusak. Atas keberhasilan Huo Yi, raja menghadiahinya pil panjang umur.
Namun kekasih Huo Yi, Chang Er, menelan pil itu sehing¬ga mendapat kehidupan abadi di bulan sebagai Dewi Bulan. Huo Yi menyesali kejadian itu, namun tak bisa mengubah keadaan. Untuk mengobati kerinduan, setiap tanggal 15 bulan ke-8, ia duduk minum teh dan menikmati kue sambil menunggu Chang Er menampakkan diri ketika bulan purnama.
“Versi lainnya adalah penghor¬matan kaum petani kepada Dewi Bulan pada tanggal itu karena panen yang berlimpah. Para petani lalu membuat dan mempersembahkan sejenis kue berisi bulatan kuning telur utuh yang menjadi simbol bulan purnama sebagai rasa syukur kepada Dewi Bulan,”katanya.
Seiring waktu, tradisi itu terus dilaksanakan warga keturu¬nan China di seluruh dunia. Diperca¬ya, kue bulan adalah simbol kemak¬muran dan panjang umur yang perlu dilestarikan. Festival Kue Bulan juga dirayakan oleh warga Tionghoa di Indonesia yang masih menjalankan tradisi.
Pada hari istimewa itu, mereka berkumpul bersama keluarga untuk menikmati hidangan istimewa dan kue bulan sambil minum teh China. Juga ada tradisi menghantarkan kue bulan kepada kerabat dan sahabat diiringi harapan baik bagi semua orang,”ucapnya. Kue bulan terdiri dari bermacam rasa, mulai dari rasa tradisional hingga kreasi modern. Rasa tradisional terbuat dari kacang merah, biji teratai putih dan teratai merah dipadu telur asin. Sedangkan kreasi modern terbuat dari bermacam bahan.(sep)

P

LEAVE A REPLY