Uang Kontrak Dobel Pedagang Pasar 16 Ilir Tutup

0
803

 

RADAR PALEMBANG – Kisruh pengelolaan Pasar 16 Ilir Palembang tidak hanya melibatkan PD Pasar Jaya Palembang dan PT Ganta Tahta Prima, namun berlanjut kepada para pedagang dan pemilik los dan lapak. Persoalan muncul disebabkan pemilik los meminta uang kontrak tahunan kepada pedagang, yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Namun, karena tidak mau membayar uang kontrak, pemilik los mengusir pedagang dari lapak yang telah ditempati.

Pantauan Radar Palembang di Pasar 16 Ilir Palembang baik di basement maupun lantai tiga ada puluhan lapak dan los yang tutup karena tidak membayar uang kontrak. Kondisi ini memperkeruh persoalan yang ada di pasar terbesar di Sumsel tersebut. Sebagian besar pedagang yang tutup adalah pedagang baju, aksesoris, dan sebagainya.

Salah satu pedagang Pasar 16 Ilir yang enggan disebutkan identitasnya. Persoalan ini disebabkan pedagang tidak mau membayar uang kontrak yang diajukan pemilik. Padahal, dalam surat edaran PD Pasar Palembang tidak ada yang namanya iuran sewa menyewa terhadap los maupuan lapak yang ada di pasar 16 Ilir.

“Pedagang ini memilih tutup, karena mereka takut uang kontrak menjadi double. Ada kemungkinan uang kontrak tidak hanya kepada pemilik namun bisa juga kepada pengelola pasar nantinya, persoalan ini akan menimbulkan saling curiga terhadap kepemilikan los dan lapak,” kata dia.

Oleh karena itu, ia berharap kepada PD Pasar untuk melihat langsung ke lapangan sehingga persoalan yang ada di pasar tidak mengangu aktivitas jual beli yang ada, karena persoalan yang ada selama ini tak kunjung tuntas. “Persoalan yang ada telah mengangu psikologis pedagang, mestinya yang dipikikan bagaimana memajukan Pasar ini menjadi pasar yang nyaman dan aman, bukan ribut solan rteribusi dan sewan menyewa,”ujar dia

ia selama ini mengkau mengelontorkan dana yang cukup besar setiap tahunnya yang mencapai Rp 85 juta dengan ukuran 3×2 meter, sedangkan retribusi Rp 7000 perhari, uang yang dikeluarkan setiap tahun cukup besar untuk mendapatkan lapak.

“kenaikan uang sewa setiap tahun hampir 10 persen, oleh karena itu uang yang dikeluarkan cukup besar, oleh karena itu pedagang jangan dikorbankan oleh kepentingan kelompok dan sebagainya, karena kami berjualan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,”tegas dia.

Tak Ada Sewa Lapak

Direktur Utama PD Pasar Palembang Jaya, H Apriadi S Busri memastikan, tidak ada yang namanya transaksi sewa menyewa los dan lapak yang ada di pasar 16 ilir. Karena sesuai dengan surat perjanjian antara PD Pasar dengan PT Prabu Makmur per 2 Januari lalu, los dan lapak dikembalikan kepada PD Pasar sebagai pengelola.
“Kami pastikan tidak ada yang namanya  iuran sewa pertahun dari pedagang kepada pemilik. Kalau ada yang mengalami seperti ini, segara  melapor, dan PD Pasar akan segera menindaklanjuti, pedagang harus tetap berdagang,” kata Apriadi.
Menurut Apriadi, PD Pasar dengan Pemerintah Kota Palembang dan Komisi II  DPRD sedang melakukan pengajian terhadap pengelolaan pasar 16 ilir kedepan, pembahasan akan memakan waktu hingga  2 bulan ke depan.
“Kami imbau tidak ada keributan antara pedagang maupun pemilik los dan lapak, sehingga aktifitas berdagang tetap berjalan seperti biasanya, jangan membuat persoalan yang tidak perlu. Pembahasan ini tidak lain untuk kepentingan pedagang, sehingga pasar ini menjadi pasar yang aman dan  nyaman,” tukasnya. (zar)

 

 

 

LEAVE A REPLY