Tunda Keinginan ke AS

0
539

+ Dampak Travel Ban

RADAR PALEMBANG, Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melarang kunjungan wisata tujuh negara mayoritas muslim, seolah menjadi warning industri tour travel Indonesia. Pelaku usaha tour travel malah meminta wisatawan Sumatera Selatan yang hendak mengunjungi Amerika Serikat, untuk menunda keunginan tersebut. Sembari melihat kebijakan yang akan diambil Presiden Trump selanjutnya.
Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumsel, Anton Wahyudi mengatakan, meski kebijakan tersebut tidak ditujukan kepada Indonesia, namun hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap minat wisatawan dalam negeri untuk berkunjung ke negeri Paman Sam tersebut. “Kami menilai bagi dunia pariwisata kedepannya tentu akan terjadi penurunan kunjungan wisatawan ke AS,” kata dia, Senin (30/1).
Apalagi dengan salah satu kebijakan yang isinya yakni mempersulit warga (muslim) untuk berkunjung ke Amerika Serikat. Nah, factor tersebut tentunya juga akan ikut berpengaruh.
Saat ini, kata Anton, pelaku usaha travel bisa dikatakan masih wait and see. Sejauh ini yang Asita lakukan kepada calon wisatawan dengan tujuan AS adalah, dengan memberikan advice agar dapat menunda terlebih dahulu pelesiran ke AS. “Sekalian kami melihat kebijakan Trump (Presiden AS) selanjutnya,” katanya.
Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadi resiko atau terjadinya masalah saat wisatawan berkunjung ke AS. “Selain itu, langkah lain yang kami dilakukan jika ada wisatawan yang hendak pelesiran ke AS yakni kami akan menawarkan destinasi wisata ke negara lain, seperti Eropa, Timteng, ataupun Asia,” katanya.
Dia melanjutkan, pada dasarnya untuk wisatwan asal Sumsel sendiri dengan tujuan AS dapat dikatakan cukup kecil. Sebab, AS bukan merupakan negara tujuan utama warga Sumsel untuk pelesiran. Masih kalah jika dibandingkan Korea, Jepang, dan Singapura. “Orang yang hendak liburan ke AS itu cukup kecil jumlahnya, karena orang-orang yang ke AS itu dapat dikatakan kalangan borjuis (beruang) saja,” katanya.
Sementara itu, mengenai target wisatawan ke Sumsel di tahun ini, Anton mengatakan, bersama pihak terkait dalam hal ini DInas Pariwisata, PHRI akan terus melakukan promosi untuk meningkatkan kunjungan wisata, sekaligus promosi even Asian Games 2018. “Rencananya kami akan membuat paket wisata murah ke Palembang,” katanya, tujuannya jelas untuk lebih menarik wisatwan dating ke Bumi Sriwijaya.
Dia memproyeksikan, pertumbuhan wisatawan yang dating ke Sumsel dapat tumbuh di rentan 10-20 persen. Adapun sejumlah daerah di Sumsel yang dapat menjadi daya tarik wisatawan saat ini meliputi Pagaralam, OKU, OKUS, serta Lubuklinggau.
Terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah itu pada Oktober 2016 meningkat 14,11 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sumsel pada Oktober 2016 tercatat sebanyak 1.116 orang, atau mengalami peningkatan sebesar 14,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya hanya 978 orang.
Demikian pula bila dibandingkan Oktober 2015 jumlah wisman yang berkunjung ke Sumatera Selatan mengalami peningkatan 14,11 persen dibanding Oktober 2016.
Larangan Kunjungan Tujuh Negara
Sebagaimana dikutip dari SBS beberapa waktu lalu, laporan CNN menyebutkan bahwa President Trump memutuskan sesuai dengan janji sewaktu kampanye terkait pelarangan visa kepada warga tujuh negara, yaitu Irak, Iran, Suriah, Libya, Yaman, Sudan, dan Somalia.
Menurut draft keputusan, Amerika Serikat akan berhenti memproses Visa selama 30 hari, bagi negara-negara yang oleh pemerintahan Obama dipandang terlalu berisiko untuk program bebas visa Amerika.
Reuters melaporkan bahwa Presiden Trump diduga akan memerintahkan pelarangan penerimaan pengungsi ke AS selama beberapa bulan, kecuali bagi mereka yang melarikan diri dari penyesahan (persecution) agama minoritas. Menurut dokumen draft tersebut, pemerintahan Trump memberlakukan larangan 120-hari kepada para pengungsi sampai pihak berwenang menerapkan program pengungsi yang lebih selektif.
Rencana itu sejalan dengan rencana yang digagas dalam kampanye Presiden Trump untuk “penjaringan ketat.” Sementara itu, New York Times mengutip para pejabat Gedung Putih yang mengatakan bahwa Presiden Trump akan memerintahkan pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko. (tma)

BAGIKAN
Berita sebelumyaWako Nanan Berang
Berita berikutnyaPrancis Lirik Palembang

LEAVE A REPLY