Titik Panas Kian Parah, Enam Heli Dikerahkan

0
150

RADAR PALEMBANG – Titik panas di Sumatra Selatan saat ini sudah jauh melewati jumlah titik panas yang ada selama 2018 lalu. Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Selatan yang bersumber dari satelit Lapan, titik panas hingga 9 September 2019 sebanyak 2.787 titik.

Sementara pada 2018, titik panas tercatat sebanyak 2.081 titik, 2017 sebanyak 1.214 titik dan 965 titik pada 2016. “Jika dilihat selama beberapa tahun terakhir, jumlah titik panas saat ini memang lebih tinggi dibanding 2018, 2017, dan 2016. Titik panas terbanyak memang terpantau pada 9 September ini sebajyak 367 titik,” kata Ansori, Kepala Bidang Penanganan Kadaruratan BPBD Sumsel.

Meski titik panas yang terdeteksi itu tidak semuanya merupakan titik api, namun pantauan di lapangan kebakaran hutan dan lahan didominasi terjadi di Ogan Komering Ilir.

“Kebakaran lahan paling banyak terjadi di Pangkalan Lampam, Tulung Selapan dan Cengal. Ini wilayah di OKI yang memang sudah langganan terjadi kebakaran lahan. Apalagi di wilayah itu adalah lahan gambut dalam, jika sudah terbakar sulit dipadamkan,” jelasnya.

Ansori mengatakan, kemarau tahun ini yang lebih panjang yakni diprediksi sampai November membuat pihaknya harus ekstra bekerja keras. Bukan hanya satuan tugas darat, satuan tugas udara pun sudah dikerahkan semaksimal mungkin.

Bahkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan sebagainya sudah bahu-membahu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Meski sudah memfokuskan pemadaman di OKI sejak beberapa hari terakhir, namun tim darat sulit memadamkan karena akses lokasi yang sulit dijangkau karena berada di area yang tidak bisa dilewati kendaraan. Selain itu, sumber air di sekitar lokasi yang terbakar sudah kering.

“Tim darat harus ambil sumber air dari sungai-sungai besar yang lokasinya cukup jauh dari area terbakar,” kata dia.

Ansori menuturkan, upaya dari waterbombing (bom air) adalah satu-satunya yang bisa dioptimalkan. Saat ini ada 6 helikopter yang diturunkan untuk padamkan kebakaran lahan di Sumsel. Adapun 2 helikopter ditujukan di Pangkalan Lampam, 2 helikopter di Tulung Selapan dan 2 helikopter ditujukan pemadaman di Ogan Ilir, tepatnya di Bakung dan Pemulutan.

“Semuanya turun untuk waterbombing. Ada 1 helikopter waterbombing sedang maintance. Kita juga memiliki 2 helikopter patroli untuk memantau lokasi-lokasi yang lahannya terbakar,” jelasnya.

Ansori menjelaskan, untuk teknik modifikasi cuaca sedang tidak dilakukan di Sumsel. Hal itu lantaran sejak Sabtu kemarin sudah ditarik ke untuk kegiatan TNI AU. “Lagipula awan sedang tidak potensial di Sumsel. Sejauh ini kita hanya 5 kali terbang dengan sekitar 4 ton garam yang disemai,” tandasnya. (iam)

 

 

LEAVE A REPLY