Tiongkok Ambil Peran

0
327

 

RADAR PALEMBANG – Ekonom Core Indonesia, Hendri Saparini mengatakan, sebenarnya perekonomian Indonesia sudah lebih terbuka. Hal itu ditunjukan dengan telah bergabungnya Indoensia kesejumlah organisasi dunia, seperti Asean, APEC, OPEC, G20.

Meski demikian, sentimen Tiongkok masih akan berpengaruh kuat, mengingat negeri tirai bambu tersebut merupakan partner terbesar dalam neraca perdagangan RI. “Tiongkok masih memengang peranan penting dalam pengaruh perekonomian kita, ” kata dia, saat diskusi Prospek Ekonomi 2017 : Potensi dan Optimisme yang diselenggarakan BTPN di Aston Hotel, Rabu (26/10).

Sejauh ini, Tiongkok berperan menjadi negara tujuan ekspor terbesar RI, disamping itu negeri Panda tersebut sekaligus menjadi pemasok produk-produk impor terbesar ke pasar RI. “Tapi tantanganya perekonomian Tiongkok sendiri diprediksi masih akan mengalami resesi seperti tahun ini,” katanya.

Lalu, pertanyaanya bagaimana dengan nasib perekonomian RI ?. Hendri menambahkan, jika menarik secara garis besar perekonomian sejumlah negara yang memiliki kekerabatan cukup berpengaruh dengan perdagangan RI. Seperti Jepang, dan beberapa negara lain di Asean. “Oleh karena itu secara umum kita masih memiliki potensi yang cukup bagus,” katanya.

Selain itu, pemerintah Tiongkok tentunya sudah merespon potensi perlambatan perekonomian mereka. Sehingga pemerintahnya kini mendorong adanya konsumsi domistik yang lebih baik agar sektor industri mereka dapat bergerak lebih baik. “Artinya meskipun sedang mengalami proses penyesuaian, pertumbuhan ekonomi China juga terkendali pada level yang ditargetkan pemerintahnya,” katanya.

Terlepas dari sentimen luar negeri, perekonomian RI juga diharapkan bisa ditopang oleh sektor riil pada tahun depan sebagai dampak derasnya aliran dana yang masuk di sektor keuangan tahun ini.

Menurut Hendri, sudah seharusnya pertumbuhan sektor riil melaju pada 2017. “Apa yang sudah masuk ke sektor keuangan, seperti tax amnesty, diharapkan bisa masuk ke sektor riil tahun depan,” katanya.

Sektor keuangan dan telekomunikasi memang masih menjadi sektor yang pertumbuhannya paling tinggi pada kuartal II/2016, yakni sebesar 13,51 persen. Sementara sektor riil, seperti konstruksi dan transportasi tercatat hanya tumbuh sekitar 6 persen. Bahkan sektor pertanian tumbuh sebesar 3,23 persen.

Kebijakan pemerintah juga diharapkan bisa mendukung percepatan sektor riil, seperti penetapan sepuluh destinasi pariwisata untuk 2017. “Pemerintah sudah tetapkan sepuluh destinasi pariwisata, harapannya langkah itu bisa menjadi faktor penggerak utama perekonomian tahun depan,” katanya.

Dalam asumsi makro RAPBN 2017, pertumbuhan ekonomi tahun depan ditarget sebesar 5,1 pesen turun tipis dari proyeksi pencapaian 2016 sebesar 5,2 persen.

Sementara itu Wakil Direktur Utama BTPN Ongki W. Dana mengatakan, perusahaan berkomitmen menjadi mitra dalam perkembangan bisnis nasabah serta menangkap peluang ekonomi yang ada. “Salah satu bentuk komitmen kami adalah meluncurkan BTPN Mitra Bisnis, yaitu unit usaha yang dirancang khusus untuk melayani berbagai kebutuhan dari pelaku UMKM,” katanya.

Produk perbankan itu, kata dia, bisa memberikan kesempatan kepada nasabah atas terbukanya akses ke pasar yang lebih luas dan pengembangan kapasitas diri dalam berbisnis. (tma)

 

LEAVE A REPLY