Tingkatkan Literasi dan Inklusi OJK Sasar Pasar Tradisional

0
433

RADAR PALEMBANG, Tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat disektor pasar modal saat ini masihsnagat minim. Bahkan dari survey yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tingkat literasi dan inklusi masih dibawah 10 persen.

Jika dibandingkan dengan sektor jasa keuangan lainnya, peringkat pasar modal masih paling minim. Data OJK menunjukkan tingkat literasi atau pengetahuan masyarakat terhadap pasar modal baru 7 persen, sementara tingkat inklusinya hanya 0,26 persen. Makanya beberapa tahun terakhir ini Otoirtas Jasa Keuangan bekerjasa sama dengan Bursa Efek Indonesia dan perusahaan efek semakin gencar melakukan sosialisasi. Di Palembang sendiri sosialisasi dilakukan keberbagai kalangan, mulai dari pengusaha, pedagang, mahasiswa hingga level masyarakat menengah kebawah melalui pasar tradisional.

Di Palembang sendiri sosialisasi ke pasar tradisonal merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh OJK, untuk memastikan program ini tepat sasaran, dua pasar tradisional di Kota Palembang sudah disediakan galeri investasi yakni di Pasar Kamboja dan pasar Padang Selasan Bukit Besar.

Menurut Direktur Pengawas Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 7 Sumbagsel sabil mengatakan, adanya galeri investasi di Pasar Tradisional merupakan terobosan baru yang dilakukan OJK bersama BEI untuk menyasar kalangan masyarakat menengah kebawah agar bisa melek pasar modal sebagai sarana untuk melakukan investasi. “Pasar modal dan pasar tradisional memiliki kesamaan,yakni sebagai sarana untuk mempertemukan pembeli dan penjual, namun sistemnya saja yang berbada,” jelasnya.

Selama ini masyarakat menengah kebawah juga tidak luput dari incaran investasi bodong dan dari mereka juga banyak yang tergiur. Untuk meminimalisir hal itu, OJK mengambil inisiatif untuk mengajak mereka ke sistem investasi yang ril dan legal di pasar modal. “Jika kalangan menengah kebawah mulai melek investasi pasar modal maka perekonomian kita bisa lebih stabil,” jelasnya.

Menurut, Sabil permasalahan rendahnya literasi dan inklusi disektor pasar modal memang membutuhkan satu terobosan batu yang bisa menyentuh kesemua lapisan masyarkat. “Survey yang kami lakukan tahun lalu, tingkat inklusi pasar modal baru 7 persen, artinya dari 100 orang hanya 7 orang yang mengetahui adanya pasar modal, sementara untuk tingkat literasinya lebih parah lagi yakni hanya 0,26 persen. Jika dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya paling kecil, apagli jika melihat literasi secara umum disektor jasa keuangan Sumsel sudah mencapai 39 persen dan inklusinya 73 persen,” jelasnya.
Permasalahan literasi keuangan khususnya disektor pasar modal ini memang menjadi tantangan dan tugas yang berat bagi OJK sebab dengan cara inilah penyebaran investasi bodong bisa dibasmi. Selain menyasar pedagang dan pengunjung pasar tradisional, OJK juga sebelumnya sudah lebih gencar melakukan sosialisasi ke perguruan tinggi. Terbukti sejauh ini sudah 11 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang memiliki galeri investasi. Langkah yang dilakukan ini sejauh ini cukup efektif sebab dari galeri tersebut sudah berhasil mengajak masyarakat untuk memulai berinvestasi di pasar modal baik saham maupun reksa dana. “Saat produk pasar modal sudah dibuat lebih simpel, dengan uang Rp100 ribu sajak sudah bisa membeli saham satu perusahaan. Langkah yang kami lakukan ini terbukti cukup efektif sebab secara yoy tahun ini sudah ada penambahan 7.780 investor baru yang aktif di Kota Palembang.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Palembang Hari Mulyono mengatakan, industri pasar modal saat ini tengah mengalami perkembangan yang cukup pesat di Kota Palembang. “Dari sisi investor tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu tercatat sudah ada 2.497 investor baru sampai september sementara tahun lalu 1.935. Kondisi ini tentu berdampal positif terhadap transaksi,” jelas dia. (iam)

LEAVE A REPLY