TETAP WASPADA, COVID 19 MASIH ADA

0
272

 

Drs. Iskandar, M.Si
Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Palembang

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim telah mengumumkan diperbolehkannya kegiatan belajar tatap muka untuk kembali digelar.Kebijakan tersebut mulai berlaku pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 atau mulai Januari tahun depan. Hal ini diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi covid-19.
Terkait dengan hal tersebut dalam kesempatan yang sama Nadiem menegaskan keputusan pembukaan sekolah tatap muka usai hampir 8 bulan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini akan diberikan kepada tiga pihak, yakni pemerintah daerah, kantor wilayah (kanwil) dan orang tua melalui komite sekolah.Beliau pun menegaskan, orang tua masing-masing siswa dibebaskan untuk menentukan apakah anaknya diperbolehkan ikut masuk sekolah atau tidak.Sekalipun, sekolah dan daerah tertentu telah memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar tatap muka.
Ada banyak tanggapan dari kebijakan pak Nadiem ini, ada yang mendukung, banyak juga yang menolak dengan berbagai pertanyaan.Pihak yang mendukung lebih memikirkan dampak psikis anak selama menjalani sekolah daring. Salah seorang orang tua siswa yang mendukung sekolah tatap muka menyatakan bahwa, “dampak belajar via daring yang telah berjalan lebih delapan bulan berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa bosan dengan aktivitas di rumah saja, anak juga dituntut beradaptasi belajar dari rumah yang pasti berbeda dengan di kelas, sehingga hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kondisi tertekan pada psikis anak dan berpotensi munculnya stres pada anak. Selain itu, dampak belajar di rumah secara daring juga dirasakan sulit untuk diikuti oleh sebagian anak-anak yang membutuhkan penjelasan melalui interaksi langsung dengan guru.Hilangnya kesempatan untuk bermain dengan teman sebaya yang menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi anak usia sekolah.Selama pelaksanaan belajar dari rumah, para siswa juga memperoleh tugas sekolah. Jika dalam pengerjaannya, tugas sekolah dominan diselesaikan oleh orang tuanya, tentu akan menimbulkan dampak ke depannya.Dampaknya, si anak akan mengalami ketergantungan pada bantuan orang lain, kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas, dan cenderung menjadi anak yang kurang percaya diri.
Kendati demikian, sejumlah orang tua masih meragukan keputusan Nadiem itu.Sekolah tatap muka di bulan Januari mendatang tidaklah tepat momentumnya.Hal ini dikarenakan, pada Desember mendatang banyak sekali kegiatan yang memicu keramaain dan berpotensi terhadap peningkatan kasus transmisi yang bisa terjadi.Beberapanya seperti pemilihan kepala daerah, kemungkinan demonstrasi ataupun reuni misalnya, libur panjang.Jika ada pembukaan sekolah maka semua ini akan saling bersinergi saling memperburuk kondisi pengendalian, sehingga momentunya tidak tepat.
Mereka juga mempertanyakan kesiapan sekolah dan risiko keamanan siswa termasuk guru karena menurut Dicky Budiman (2020) sebagaimana dikutip oleh Nazarudin Rahman kriteria pelonggaran sekolah belum terpenuhi.Dari sisi kondisi dan data epidemiologi saat ini, serta dari kriteria pelonggaran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kriteria pembukaan sekolah ini belum terpenuhi.Saat ini, pelonggaran belum bisa dilakukan karena test positivity rate yang belum dibawah 5 persen, dan angka kasus hariannya belum menurun dalam dua minggu secara berturut-turut.Sementara, angka kasus harian yang menurun dalam dua minggu berturut-turut itu terhitung sejak angka positivity rate nya sudah di bawah 5 persen.Ini yang harus dipenuhi terlebih dahulu bila ingin kita berkontribusi dalam melandaikan kurva dan mencegah dan melindungi anak-anak kita, keluarganya dan juga masyarakat.
Sektor pendidikan mempunyai peran penting untuk berkontribusi dalam mengendalikan pandemi dengan melandaikan kurva.Berdasarkan riset dan studi epidemiologi dari berbagai pandemi termasuk pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa sekolah berkontribusi signifikan dalam melandaikan kurva.Ini yang jelas terbukti, karena saat ini walaupun gelombang satunya belum selesai, namun setidaknya peningkatan kasus dengan adanya penutupan sekolah, kasus yang terjadi juga tidak secepat kalau sekolah-sekolah itu dibuka.Artinya sektor-sektor ini termasuk pendidikan harus menerapkan strategi yang benar-benar dihubungkan bagaimana ia berperan melandaikan kurva, berkontribusi dalam mengendalikan situasi pandemi di Indonesia.”
Bagaimana jika kebijakan di atas tetap harus dilaksanakan.Apa yang harus dilakukan pihak sekolah?
Dalam era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), mulai dari gerbang hingga masuk kelas dan keluar kelas harus ada alat pendukung untuk penanggulangan COVID-19.Seperti perlengkapan cuci tangan dan sabun.Kemudian, ada pengecekan suhu tubuh, juga menyediakan hand sanitizer dan setiap dua hari sekali kelas harus disemprot disinfektan.Siswa wajib gunakan masker, tidak bersalaman, guru pun bergantian masuk sekolah. Kursi dan meja pun, akan diatur jaraknya, berjarak satu meter atau satu setengah meter dengan kursi dan bangku siswa lainnya.Setiap upaya ini dilakukan guna mencegah penyebaran virus COVID-19 tidak meluas lebih jauh lagi.Kegiatan belajar memang penting, namun kepentingan dan keselamatan bersama juga harus menjadi fokus kita saat ini.Selalu ingatkan diri dan orang disekitar kita untuk bisa mematuhi berbagai aturan yang sudah dirumuskan agar kita bisa kembali seperti sediakala, belajar di sekolah bersama teman-teman lainnya, bersenda gurau, bermain, melakukan kegiatan ekstrakurikuler, dan menghabiskan waktu bersama.
Rekomendasi lainnya yakni jam masuk dan jam pulang antarkelas yang diberlakukan secara berbeda. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak berkerumun saat tiba di gerbang sekolah serta saat akan pulang.
Dalam aturan sekolah tatap muka di era covid-19, Kemendikbud menegaskan perlu adanya ketersediaan fasilitas kebersihan di sekolah. Lebih lanjut, fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun juga harus diperbanyak oleh sekolah agar tidak terjadi antrian anak-anak yang akan mencuci tangan. Hal ini bisa diterapkan dengan ide belajar pula. Misalnya mengajari siswa membuat hand soap dan hand sanitizer di rumah. Kemudian membuat kerajinan berupa ember atau wadah untuk menampung air.
Demikian beberapa hal yang perlu disiapkan agardapat memenuhi aturan sekolah tatap muka di era covid-19. Maka dari itu, penting juga bagi kita untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan dan physical distancing saat belajar di tahun ajaran 2020/2021.
Waspada Dengan Orang Dekat
Ketika bekerja, meeting, olahraga, dan kegiatan lain, orang sangat ketat dan patuh akan protokol kesehatan, namun ketika orang-orang berkumpul pada jam istirahat seperti sarapan, makan siang, atau bahkan makan malam, sekedar ngobrol-ngobrol, ngerumpi, dan bercanda gurau untuk melepas kejenuhan dan stress, mereka justeru membuka masker dan tidak memperhatikan jarak. Begitupun ketika mereka selesai olahraga, orang-orang duduk berdampingan, ngopi bareng, ngerokok bareng, makan di kanting bareng, foto atau selfi-selfian bareng, kebanyakan diantara mereka membuka masker dan saling berdekatan alias nempel. Berkaca pada kebiasaan-kebiasaan uncontrol ini, menjadi tidak heran jika di masa new normal data pasien Covid-19 semakin hari semakin bertambah signifikan. Hal ini terjadi karena prilaku kita sendiri yang kurang tepat dan kurang disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.
Oleh karena itu, demi menghindari penyebaran Covid-19, maka mematuhi protokol kesehatan hukumnya wajib dilakukan, tidak hanya pada saat acara/kegiatan atau pertemuan resmi tapi juga saat acara atau pertemuan santai dan kegiatan tidak resmi lainnya baik di rumah, dalam dan di luar kantor atau di ruang-ruang publik lainnya. Demi keselamatan bersama, kita harus waspada terhadap siapapun, meski dia adalah kawan dekat, teman ngajar, kenalan lama atau baru, teman sekolah, kawan olahraga atau keluarga sekalipun dan dalam situasi apapun.Jangan mentang-mentang teman ngajar, teman sekantor yang kita anggap sudah begitu dekatnya maka kita melonggarkan protocol kesehatan.
Intinya, menjalankan protokol kesehatan secara ketat adalah sebuah keharusan. Mengapa, karena meskipun kita mengenal baik mereka, tapi pada sisi yang lain, kita tidak tahu secara detail apa yang mereka kerjakan sepanjang hari, mereka bertemu dengan siapa, dan tidak tahu apakah mereka patuhi protokol kesehatan atau tidak sebelum bertemu dengan kita.
Oleh sebab itulah, kita jangan mengambil resiko yang tidak perlu, meskipun terkesan ribet dan agak susah menerapkan protokol kesehatan sepanjang waktu, namun jika kita dapat mengambil peran dalam mempercepat penyelesaian virus ini, insya Allah kita bisa terhindar darinya dan pada saatnya kita akan kembali kepada kehidupan normal seperti sebelum Covid-19. Semoga !(*)

LEAVE A REPLY