Terobosan Baru Angkat Kuliner Bingen Palembang.

0
320

RADAR PALEMBANG – Kuliner bingen atau belakangan sudah mulai jarang ditemui, boleh dikatakan kuliner khas Palembang ini kalah populer dibandingkan kuliner kekinian yang menjamur saat ini. Hanya segelintir orang saja yang masih setia menjajakan kuliner seperti gandus, lapis, kelepon, mentu, lumpang, pare, dan lainnya.

Melihat fenomena ini, mereka-mereka yang masih peduli seperti Najma Usman, Dosen FKM Universitas Sriwijaya dan Novirisdayanti, pemilik Doyan Kitchen, mencoba kembali mengangkat kuliner bingen sekaligus memberikan pelatihan bagaimana menjadikan tampilan kue lebih menarik.

“Kalau dari aku, kebetulan ngajar garnish untuk hiasan. Kalau misalnya kue-kue bingen ini dikasih hiasan, dikasih garnish, packaging juga lebih bagus, bisa mengangkat kuliner bingen ini. Jadi kalau yang tadinya harga kue-kue ini Rp 600 – Rp1.000, dengan tampil eye catching harga jualnya juga lebih mahal,” tutur Novirisdayanti saat berbincang di rumah pelestari kuliner bingen di Jalan KH Azhari Lorong Waspada Kelurahan 13 Ulu Palembang kemarin.

Lanjut dia, dengan penambahan seperti plastik, diberi alas kue seperti cup cake, lalu dikemas dalam besek yang diberi pita, menurut dia akan membuat tampilan kue menjadi lebih menarik dan harga jual kue bisa menjadi lebih tinggi dan hal ini tentu saja dapat membantu perekonomian pelestari kuliner yang sudah berusia sepuh ini.

“Kami kasih pelatihan setiap minggu, walau neneknya sudah tidak bisa lagi, tapi cucu atau cucungnya yang kita latih. Kami lebih fokus ke pelatihan ini, tapi untuk penjualan tetap mereka, kami hanya perpanjangan tangan untuk ke customer dan bantu-bantu promo,” ujarnya.

Sementara Nenek Aisyah, salah satu pelestari kuliner bingen yang menjual kue lumpang, lapis, dan gandus menyebutkan, ia sudah puluhan tahun membuat kue berbahan dasar tepung beras ini. Kue yang dibanderol mulai dari harga Rp600 merupakan resep keluarga turun temurun ini.

“Memang usaha ini sudah dari wong tuo nian, kami neruskenyo sampai sekarang,” ujarnya dengan logat Palembang yang kental.

Dalam sehari, Nenek Aisyah menerima pesanan puluhan kue lumpang dan gandus dari penjual kue keliling. Sedangkan untuk acara-acara khusus seperti pernikahan dan arisan bisa mencapai ratusan kue.

Sedangkan Cek Dan, pelestari kue bingen pare menjelaskan, kue yang ia buat berbeda dengan yang ada di pasaran. Menurut dia, pare buatannya terbuat dari ubi kayu, sedangkan yang ada di pasaran terbuat dari ketan.

Kue berwarna hijau dengan isi kelapa yang dimasak dengan gula Jawa ini dibanderol dengan harga Rp700. Selain dijajakan penjual keliling, kue dengan cita rasa manis ini acap kali dipesan untuk acara pernikahan.

Tak ketinggalan ada kue bingen yang sangat fenomenal yakni kelepon ala Nenek Halimah. Kue berbentuk bulat berwarna hijau dan dilumuri kelapa parut kukus ini memiliki sensasi tersendiri di mana ketika digigit gula merah akan muncrat di dalam mulut dan memberikan kenikmatan tiada tara. Kelepon ini dibanderol dengan harga Rp35.000 untuk 100 buah.

Tak hanya kuliner dengan cita rasa manis saja, tersedia juga kuliner gemuk atau gurih seperti mentu yang dibuat oleh Nenek Khodijah. Kue yang dibungkus daun pisang ini terbuat dari udang ragu yang dihaluskan kemudian ditumis dengan bawang merah, bawang putih dan jinten lalu ditambahkan santan, tepung beras dan sagu. Mentu yang dibanderol dengan harga Rp1.000 ini tersedia setiap hari.

Hanya saja dikatakan nenek sepuh ini, pemesanan mentu untuk acara seperti pernikahan, arisan, dan lainya harus dilakukan dua hari sebelum acara berlangsung. (hen)

LEAVE A REPLY