Souvenir Asian Games Beli dari Vietnam

0
779

 

RADAR PALEMBANG – Sejumlah persiapan jelang pelaksanaan Asian Games (AG) 2018, seperti suvenir telah dimatangkan. Sementara, untuk penginapan penyelenggara pesta olahraga negara Asia tersebut, Disbudpar Sumsel mewacanakan adanya keterlibatan homestay.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, Rabu (28/9) mengatakan, badan promosi yang akan melakukan koordinasi untuk pengadaan suvenir Asian Games tersebut.

Dipilihnya Vietnam sebagai tempat membuat souvenir, karena harga beli di sana jauh lebih murah. Setengah harga dibandingkan harga di Indonesia. “Sebagai perbandingan, kalau di kita Rp 2.000, di sana bisa lebih murah sampai Rp 1.000,” katanya.

Tanpa mengenyampingkan pelaku usaha skala lokal, kebutuhan untuk souvenir ini sangat banyak dan harus dikejar dalam waktu dua tahun. Hal ini diyakini akan sulit. Karena, masih akan melakukan pembinaan kepada pelaku UMKM. Selain itu, produk souvenir yang dihasilkan, diharapkan lebih cepat diterima pasar, utamanya para atlet, official, maupun tamu asing yang akan datang berkunjung saat pesta olahraga negara-negara Asia tersebut.

Meski demikian, pilihan lokal juga ada, seperti dari Yogyakarta, bahkan untuk di Sumatera Selatan sendiri juga ada. “Untuk di Palembang, Ogan Ilir memang ada perajin suvenir, namun kapasitasnya produksinya belum besar.”

Ia menambahkan, misalnya, hanya bisa menghasilkan 500 pieces saja. Sedangkan diperkirakan kebutuhan suvenir 1 juta pieces. Mengingat, atlet dan ofisial saja, diperkirakan akan datang sebanyak lebih dari 8.000 orang.

Belum dihitung termasuk, keluarga atlet, pendukung dari masing-masing negara dan wisatawan yang datang hanya ingin melihat evennya. “Untuk sementara, kita ambil dan kita jual, tapi melalui badan promosi Sumsel,” ujar dia.

Selain suvenir, persiapan lainnya juga dari sisi ketersediaan tempat menginap. Untuk itu, kata Irene, tidak lepas dari peran, industri, hotel, travel agen, restoran dan guide. Menurut Irene, saat ini jumlah kamar hotel di Palembang mencapai 7 ribu kamar baik hotel berbintang maupun tidak. Menyiasati agar tidak terjadi kekurangan hotel, pihaknya yang tentu bersama PHRI akan menyediakan homestay di beberapa titik, seperti salah satunya di Kampung AL Munawar.

Tahun ini, kata dia, akan mendata rumah-rumah mana yang akan dijadikan homestay dan memenuhi standar. Sementara tahun 2017 akan diaktifkan homestay dengan mendidik pemilik rumah tersebut dan diperkirakan 2018 sudah bisa digunakan.

Homestay tetap punya standarisasi misalnya kemampuan Bahasa Inggris, todak memiliki anak kecil, bisa komunikasi. Selain itu juga rumah tersebut harus memenuhi standar seperti dilihat toiletnya harus bersih, kamar dan lain sebagainya,” ujar dia. (dav)

 

LEAVE A REPLY