Sita Makanan Berformalin

0
947

 

RADAR PALEMBANG – Memasuki H-4 hari raya Idul Fitri 1435 hijriyah, tim gabungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten OKU Timur bersama Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan dan Perikanan, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di pasar Martapura, Toko swalayan dan SPBU.

Sidak yang juga melibatkan aparat kepolisian serta Sat Pol PP tersebut dilakukan terkait melambungnya sejumlah harga kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako), daging dan barang-barang kedaluarsa.

“Selain memantau harga sembako, kita juga mengecek daging sapi, ayam potong, ikan laut dan tahu yang diduga mengandung bahan pengawet formalin. Apalagi bahan-bahan tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi,” Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan OKU Timur, Ir Sugianto kemarin (24/7).

Sidak yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut, diawali dari pengecekan daging sapi, ayam potong, ikan laut, tahu serta jajanan/roti di pasar Martapura dan toko swalayan.“Setelah kita periksa, untuk daging sapi dan ayam aman untuk dikonsumsi. Kita juga tidak menemukan daging glongongan atau oplosan. Begitu juga daging ayam tidak ditemukan ayam tiren,” ungkapnya.

Namun lanjutnya, ada beberapa makanan yang  disita untuk diambil samplenya, seperti tahu terindikasi kenyal mengandung campuran zat formalin. “Ada juga jajanan pasar, roti kering, jelly yang tidak ada tanggal kedaluarsannya dan makanan kemasan serta kaleng lainnya,” terangnya.

Dikatakan Sugianto, sidak akan terus dilakukan bukan hanya di Martapura saja tapi juga diwilayah pasar dan swalayan di OKU Timur. “Bahkan setelah ini kita akan melanjutkan sidak di seluruh SPBU. Jika nanti ada yang tertangkap tangan melakukan pelanggaran baik konsumen maupun pemilik SPBU akan kita berikan sanksi dan kita laporkan ke pihak Pertamina,” tegasnya.

Sementara itu, makanan dan minuman (mamin) berbahaya atau mengandung bahan bahaya, seperti fomalin, contohnya di bahan makanan mie kuning, tahu serta cincau masih beredar bebas di pasar tradisional modern (PTM) Serelo Lahat.

Sejauh ini belum ada upaya tindakan tegas yang diberikan kepada penjual maupun pembuatnya. Hanya saja, pengawasan terhadap penjual oleh Badan Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), H Hasnul Basri, melalui Kasubid keamanan pangan, Syarnubi saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di pasar tradisional modern (PTM) Serelo Lahat, Kamis (24/7) mengatakan, sejauh ini pihaknya telah menyurati kepada pihak-pihak terkait mengenai permasalahan makanan yang mengandung formalin yang masih beredar bebas di PTM Serelo Lahat.

“Pelayangan surat tersebut berdasarkan hasil laboratorium BP Pom Sumsel yang kita lakukan,”ujarnya.

Dilanjutkan Syarnubi, Untuk di Kabupaten Lahat sendiri ada dua agen mie olahan yang pihaknya duga menggunakan formalin yaitu, mie wati dan mie maya. Untuk mie wati itu tempat pembuatannya di Talang Banten Kelurahan Talang Jawa Selatan Kota Lahat, sedangakan mie maya tempat pembuatannya di Desa Gedung Agung, Kecamatan Merapi Timur Lahat.

“Untuk Ciri-cirinya, warna lebih terang, kejal, agak pedas jika dibauhi. Kita kasihan sama masyrakat, karena masyarakat banyak belum mengetahui tentang itu,”imbuhnya.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lahat, Sanderson Syafei mengungkapkan, dirinya mengharapkan agar pihak terkait dapat memberikan tindakan kepada produsen yang melakukan kecurangan. Ini tentu saja sangat merugikan kesehatan konsumen.

“Kirannya pihak yang menangani persoalan ini dapat memberikan tindakan. Seperti, penyuratan, pemanggilan, ataupun dibina. Jila semua itu tidak dihiraukan para produsen, beri tindakan tegas. Karena, ini sangat merugikan kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi makanan tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Lahat, dr Rasyidi Amri dikonfirmasi menuturkan, saat ini telah diberi peringatan dan tindakan kepada penjual kendati mereka tetap menjual, secara kasat mata terlihat mie yang mengandung formalin yakni memiliki ciri-ciri warna lebih terang, kejal, serta tidak dikerumini oleh binatang seperti lalat dan semut.

“Kita sudah periksa setiap kali operasi pasar, pedagang yang menjual mie kuning berformalin akan kita tindak dan beri peringatan. Untuk penjual sendiri akan kita bina, sedangkan untuk pemsoknya akan kita tindak tegas dan akan kita hukum,”pungkasnya.(man/awa)

 

LEAVE A REPLY