Serapan Bonus Demografi

0
191

 

Oleh: Rizki Handayani, S.ST, M.Si
Statistisi Muda, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan

DENGAN jumlah penduduk yang ada sekarang yaitu sebanyak 269 juta jiwa atau 3,49 persen dari total populasi dunia, Indonesia digadang-gadang akan menjadi ”the next big economy”.

Apalagi jika berbicara mengenai hal apakah bonus demografi benar-benar bisa dimanfaatkan oleh Indonesia? Karena negara Jepang sudah terbukti bisa menjadi negara semaju saat ini, dimana waktu itu juga benar-benar bisa memanfaatkan bonus demografi yang mereka miliki.

Meskipun saat ini kondisinya terbalik, negara Jepang tengah mengalami “aging populate”. Bagaimanakah dengan Indonesia? Benarkah dengan angka pengangguran yang bertambah ini, negara Indonesia bisa berharap bahwa serapan bonus demografi nanti bisa dimaksimalkan.

Ketenagakerjaan di Sumsel

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan release keadaan ketenagakerjaan sebanyak dua kali dalam setahun yaitu untuk kondisi ketenagakerjaan pada bulan februari dan agustus.

Rata-rata jumlah pengangguran provinsi Sumatera Selatan pada februari 2015 sebesar 202,2 ribu orang. Kemudian mengalami penurunan signifikan di februari 2016 atau bisa ditekan menjadi 159,5 ribu orang.

Selama perjalanannya, kembali meningkat hingga di februari 2019 sebesar 173 ribu orang. Namun, pada februari 2020 ini pengangguran berkurang 6,3 ribu orang. Berkurangnya pengangguran ini juga berdampak pada dihantarkannya tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang menurun.

Angkatan kerja terdiri dari komponen orang yang bekerja dan orang yang menganggur. Data terakhir, bulan februari 2020 jumlah pengangguran sebesar 166,7 ribu orang yang menganggur dan 4.158,5 ribu orang yang bekerja.

Hal tersebut menghantarkan total angkatan kerja yang dimiliki oleh Provinsi Sumatera Selatan hingga februari 2020 ada diangka 4.325,2 ribu orang. Dari total angkatan kerja, pengangguran dan siapa yang bekerja maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatera Selatan per februari 2020 ada diangka 3,86 persen.

TPT ini turun jika dibandingkan februari 2019 di 3,99 persen. TPT tersebut didominasi dari TPT perkotaan di 5,41 persen sedangkan TPT perdesaan berada di 3,00 persen. Dibandingkan setahun yang lalu, TPT wilayah perkotaan mengalami penurunan 0,44 poin, sementara di wilayah perdesaan terjadi peningkatan sebesar 0,06 poin.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap dalam pasar tenaga kerja.

Jika dianalogikan maksud dari TPT sebesar 3,86 persen adalah bahwa hingga februari 2020 sekitar 100 orang angkatan kerja yang ada di Sumatera Selatan, terdapat 3 hingga 4 orang yang menganggur.

Jika di-breakdown lebih detail lagi, angka pengangguran tersebut disumbangkan dari mana saja ? Berdasarkan background tingkat pendidikan, meskipun hampir semua angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami penurunan.

Tetapi jika diperhatikan, sekolah menengah kejuruan (SMK) selalu menempati posisi pertama yang menyumbangkan TPT terbesar berdasarkan tingkat pendidikan. Angka TPT ini sangat menarik, dari persentase-persentase lulusan-lulusan latar belakang pendidikan, dapat dilihat berapa yang bisa diserap oleh pasar tenaga kerja dan berapa sisanya yang tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja.

Ternyata malah ironinya disini, jika dilihat hampir sebagian besar lulusan Sekolah Dasar (SD) atau bahkan lulusan SD kebawah/yang tidak lulus SD malah justru dapat diserap oleh pasar tenaga kerja. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, karena hanya 1,32 persen saja yang menganggur berdasarkan tingkat pendidikan lulusan SD.

Bertambah tingginya tingkat pendidikan, 2,82 persen dari para lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja, 5,58 persen dari lulusan perguruan tinggi tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja, 7,14 persen dari jenjang pendidikan tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja dan mendominasi dari para lulusan SMK yang ada di Sumatera Selatan sebesar 8,13 persennya tidak dapat diserap oleh pasar tenaga kerja.

Ini menjadi hal yang sangat ironi karena SMK sebagaimana diketahui bahwa lulusan SMK seharusnya diharapkan sudah siap bekerja ketika mereka lulus dan bisa diserap oleh pasar tenaga kerja. Malah justru faktanya, hingga sekarang meskipun persentase dari lulusan SMK menurun dari tahun sebelumnya tetapi mereka tidak bisa langsung diserap oleh pasar tenaga kerja.

Kebutuhan akan lulusan SMK tidak banyak mendapatkan kesempatan kerja yang sama. Inilah mengapa menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim mempunyai Pekerjaan Rumah atau PR yang sangat besar. Presiden Jokowi juga sudah mempercayakan meminta Nadiem Makarim untuk membuat terobosan signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya untuk para lulusan SMK.

Strategi Pembenahan

Adapun strategi pembenahan kemendikbud antara lain perbaikan kurikulum yang cocok dengan kebutuhan industri. Ini adalah PR terbesar yang harus dijawab agar para lulusan SMK ini segera dipakai dalam tanda kutip terserap oleh pasar tenaga kerja.

Menyiapkan SDM dengan kompetensi dan kompetisi yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja. Karena pemerintah sudah berbuat yang terbaik dengan mengalokasikan anggaran pendidikan di APBN 2020 yang besarannya di 20 persen dan nilainya di 505,8 triliun rupiah.

Semoga ini tidak menjadi ironi para lulusan perguruan tinggi, SMA dan SMK bahkan juga dengan kualitas SDM yang dimiliki, benar-benar bisa terserap oleh pasar tenaga kerja. Sehingga jumlah pengangguran bisa dikurangi dan jumlah tingkat pengangguran terbuka bisa ditekan. (*)

LEAVE A REPLY