Saat Saham Batubara Tertekan

0
797

 

Oleh: Suprianto

Head Gallery Valbury Asia Securities

Harga batubara yang saat ini terus melorot sampai ke level 60 USD perton, tidak berdampak baik bagi pergerakan saham-saham emiten batubara. Apalagi, angka BEP (break even point) dari emiten-emiten tersebut ada pada level batubara di USD 57 perton. Belum lagi untuk biaya cost recovery yang harus ditanggung emiten, menambah beban perseroan yang pada ujungnya akan mengganggu kondisi fundamental masing-masing emiten.

Sepuluh saham berbasis batubara yang telah mencatatkan perusahaan di Bursa Efek Jakarta, seperti PT Bukit Asam (PTBA), PT Bumi Resourves, PT Adaro Energy, PT Energy Mega Persada, PT Darma Henwa (DEWA), PT Benakat Integra (BIPI), PT Indo Tambang Raya (ITMG), PT Harum Energy (HRUM), maupun PT Berau Coal Energy (BRAU), seluruhnya mengalami tekanan. Rupiah yang mengalami pelemahan terhadap dolar saat ini, semestinya mampu mengangkat keuntungan perusahaan, sebab mayoritas produksi batubara yang dihasilkan emiten-emiten tersebut di ekspor ke luar negeri. Sayangnya, dengan harga batubara yang terus bergerak turun sejalan dengan menurunya harga minyak bumi, membuat masing-masing perseroan sulit menambah profit tinggi.

Ditambah lagi dengan sejumlah hutang jatuh tempo yang sampai kini harus dibayarkan oleh emiten yang nilainya tidak bisa dibilang sedikit. Hutang tersebut beragam, ada yang semenjak tahun 2007 sampai 2008. Dapat dibayangkan saat 2007 lalu rupiah masih dilevel Rp 10 ribuan, kini 2014 rupiah ada di Rp 12 ribuan terhadap dolar. Jadi, angka hutang jatuh tempo yang mesti dibayar itu sudah lebih tinggi lagi.

Ambil contoh, PT Adaro Energy Tbk nilai hutang jatuh tempo sampai dengan kuartal ketiga 2014 sebesar Rp 32,848 triliun, lalu PT Bumi Resources Tbk Rp 1,133 triliun sampai kuartal ketiga 201. Kemudian PT Berau Coal Energy Tbk Rp 6.023 triliun.

Apa sebenarnya yang membuat harga batubara anjlok seperti sekarang? Ini semua dampak dari perubahan kebijakan ekonomi yang diterapkan Cina sebagai konsumen terbesar batubara. Cina meningkatkan tarif bea masuk menjadi 2-3 persen, dalam rangka menaikkan neraca perdagangan negeri tirai bambu itu untuk meningkatkan cadangan devisa. Pertumbuhan ekonomi negeri itu juga tahun lalu sempat tergerus menjadi 7,4 persen sementara sebelumnya pernah mencapai 8 persen.

Nah, atas dasar itulah kini saham-saham berbasis batubara banyak mengalami penurunan harga. Kita lihat saja, saham PTBA yang masih tetap likuid sampai sekarang, di bulan November 2014 lalu harganya masih dititik Rp 14 ribu perlembar, dibulan Oktober turun lagi ke titik Rp 11.375 dan terakhir di 26 Januari 2015 ada di titik Rp 11.100 perlembar.

Serupa dialami PT Adaro Energy Tbk (ADRO), pada November 2014 ada di level Rp 1.390 perlembang, sebulan berikutnya turun ke Rp 925, dan 26 Januari 2015 lalu ada di Rp 980. Pun PT Bumi Resources Tbk (BUMI), meski saham ini sudah banyak membawa kerugian bagi investor, namun tetap saja saham perseroan milik grup Bakrie tersebut menjasi patokan para pemain saham bursa. Pada Mei 2014 lalu, BUMI masih ada di Rp 222, kemudian di Desember 2014 turun ke Rp 56, terakhir 26 Januari ada di Rp 98 perlembar.

Dengan begitu, saham emiten batubara akan sulit kembali ke harga tingginya selama harga minyak bumi belum ada perubahan. Minyak bumi dan batubara erat kaitannya, karena batubara merupakan energi alternatif. Namun, bukan berarti saham-saham berbasis batubara tidak dapat diperdagangkan. Ada beberapa saham yang dapat dimainkan dalam tempo short term (pendek), seperti PTBA, ADRO, maupun HRUM. Saham PTBA untuk trading harian, investor masih dapat mengantongi keuntungan 2-3 persen, level harga untuk PTBA mencapai Rp 10.150 – 11.950 perlembar. Jika level resistance jebol, ada kemungkinan harga saham akan naik kembali.

 

LEAVE A REPLY