Rumah Jahit Zhofi, Dari Hobi Jadi Profesi 

0
204
Masayu Mary pemilik Rumah Jahit Zhofi

RADAR PALEMBANG– Telah akrab dengan dunia fesyen, khususnya menjahit sejak kecil, menjadikan Noni, panggilan Masayu Maryani kini menyeriusi bisnis penjahitan tas. Semenjak masih menempuh pendidikan di sekolah lanjutan pada medio tahun 2000, Noni pun telah memiliki hobi membuat dompet kecil yang digunakannya sebagai tempat pensil. Kini tas buatannya lewat Rumah Jahit Zhofi dikenal berbagai kalangan baik konsumen individu maupun perusahaan.

“Kakak saya sudah berpengalaman sehingga soal potong pola saya banyak dibantu. Saya bisa jadi lebih cepat proses pembuatan tas,” katanya di Rumah Jahit Zhofi yang beralamat di Jl. Kol. Sulaiman Amin Perumda Blok H.1 No.7, KM 7, Palembang, kemarin.

Perempuan yang banyak menghabiskan waktunya sebagai ibu rumah tangga ini pun harus merenovasi garasi rumahnya menjadi tempatnya membuat karya tas yang dipesan oleh konsumen. Noni memulai bisnis tasnya sejak 2015 lalu hanya karena iseng. Dia mengatakan, mulanya dia membuat tas makan (lunch bag) untuk putrinya. Namun, saat itu tas bikinannya dilirik oleh orang tua teman anaknya.

“Awalnya dari ibunya teman anakku yang pesan. Terus aku makin semangat bikin dan promosi di Facebook eh banyak yang pesan. Aku menjahit karena kecintaan. Otodidak juga,” jelasnya.

Dua tahun berselang tepatnya pada 2017, Noni mulai memantapkan hati untuk menerima banyak pesanan. Dia pun mulai mencari bahan baku hingga ke kota kembang untuk keperluan tas buatannya. Dahulu dia pun hanya membuat pesanan sesempatnya saja akan tetapi saat ini saat pesanan telah banyak dia harus ekstra melakukan pekerjaannya dengan dibantu sang kakak yang juga penjahit pakaian.

Mulanya tas yang dijahit oleh Noni adalah tas dengan bahan dasar kain perca sisa dari penjahit, kain denim yang dibelinya di pemasok yang ada di Bandung. Namun, sekarang dia juga mengikuti tren tas dari kain dengan motif jumputan dan songket.

Jenis tas yang diproduksi pun beragam mulai dari tas tangan (clutch), tas selempang, ransel dan kotak tisu. Untuk masing-masing tas juga memiliki motif dengan teknik jahit yang unik pula. Tak hanya teknik yang umum, Noni juga mengaplikasikan teknik Boro, teknik tambal kain ala Negeri Sakura.”Saya masih tetap membuat tas denim atau sisa kain lainnya tapi juga menyesuaikan pesanan pelanggan,” jelasnya.

Kini konsumen tasnya berasal dari kalangan perorangan dan juga  perusahaan. Tak hanya dari Palembang, peminat produk hasil tangan Noni juga datang dari Lampung, Bekasi dan Papua. Dalam setahun omzet paling banyak yang berhasil diraih ibu dua putri ini hingga Rp100 juta.

“Tahun 2017 saya pernah ikut lomba di Dekranasda. Jurinya berasal dari Bank Indonesia. Dari sana juga akhirnya produk saya dipromosikan dan alhamdulilah sekarang dikenal banyak orang.” Pungkasnya.(spt)

LEAVE A REPLY