RU III Kilang tua Yang Tetap Eksis, Dipercaya untuk Produksi B20

0
85
Ilustrasi kilang minyak Pertamina Refinery Unit III

RADAR PALEMBANG – Pertamina Refinery Unit III merupakan salah satu dari 6 (enam) Refinery Unit Pertamina dengan kegiatan bisnis utamanya adalah mengolah minyak mentah (crude oil) dan intermediate product (Alkylfeed, HSDC, slop oil, LOMC, Long residue, Raw PP) menjadi produk jadi, diantaranya BBM (Premium, Kerosene, Solar &Fuel Oil), NBBM (LPG, Musicool, HAP, LAWS, SBPX, LSWR), BBK (Avtur, Pertalite, Pertamax, Pertamax Racing) dan produk lainnya seperti LSFO dan Polypropylene (Polytam).

Terletak ditepian sungai musi di Sungai Gerong, kilang kebanggan masyarakat kota Pempek ini tergolog kilang tua namun tetap eksis sampai sekarang. Dari silsilahnya, kilang ini dibangun sejak zaman belanda, namun sampai sekarang masih beroperasi normal, bahkan sejak tahun ini mendapatkan kepercayaan sebagai untuk memproduksi BBM jenis baru yakni B20 yang menggunakan fame dari kelapa sawit.

Langkah ini dinilai akan menjadi solusi ditengah anjloknya harga sawit dunia. Apalagi produksi sawit di sumsel sangat melimpah.

Dari data yang dihimpun, Pertamina Refinery Unit (RU) III mulai melakukan produksi Perdana Bahan Bakar Ramah Lingkungan Biosolar (B-20) di Kilang RU III Plaju awal tahun lalu.Kebijakan untuk menerapkan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan minyak nabati atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 20% yang diproduksi oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). Selain untuk memenuhi regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas finish product.

Produksi Biosolar (B-20) ini menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program pemerintah dan memenuhi security of supply, khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan bahan bakar ramah lingkungan kepada masyarakat.

RU III telah melakukan improvement baik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL per bulan. FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui Rumah Pompa Minyak (RPM) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending solar sebagai B-20. Kemudian di-lifting melalui sarfas existing, baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung.

“Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai Green Refinery pertama di Indonesia,” kata GM RU III Plaju, Yosua I. M Nababan.

Keunggulan B-20 ini memiliki cetane number di atas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan cetane number solar murni, yakni 48. Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk diesel tersebut.

Penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Melalui pemanfaatan minyak sawit ini, selain menyejahterakan petani sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO, juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

Produksi B20 ini merupakan langkah awal untuk menuju B30 bahkan B100 nantinya. Ini diharapkan bisa mengurangi beban imbor BBM yang membebani APBN. Sebagai informasi, RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan untuk menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500-5.000 KL per hari. Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan B-20 sebanyak 180.000-200.000 KL per bulan. Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina dalam menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran.

Pertamina juga akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, di antaranya dengan langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel, dan green avtur.

Pertamina Refinery Unit III atau RU III mencatat produksi bahan bakar minyak dari Kilang Plaju Palembang mencapai 36,3 juta barrel per tahun pada 2018 atau melejit 103,4% dibanding produksi tahun sebelumnya yang sebanyak 35,2 juta barrel.

Yosua I. M Nababan, mengatakan capaian kinerja produksi tersebut didukung oleh optimasi inovasi rekayasa recovery waste oil, yakni metode upgrading unvaluable produk menjadi valuable produk .

Yosua menjelaskan, rekayasa recovery waste oil yang menjadi andalan pihaknya merupakan salah satu program terobosan dalam menjaga ketahanan pasokan BBM area Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel).

Ketua GPKI Sumsel Hari Hartanto kebijakan produksi biodisel menggunakan campuran FAME sawit akan membangkitkan industri sawot Sumswl. Sebab untuk pemasaran tidak lagi bergantung dengan ekspor.

Produksi sawit kita sangat melimpah. Angkanya diatas 2 juta ton. Selama ini lebih dari setengah diekspor sisanya untuk dalam negeri. Jika program biodisel sudah jakan bahkan 100 persen nantinya kita yakin sawit akan bangkat dan ekonomi sumsel bisa berjaya lagi,” katanya. (iam)

LEAVE A REPLY