Rp 737 Miliar Untuk Cabai dan Bawang

0
555

 

 

 

 

 

 

RADAR PALEMBANG – Tingginya harga komoditas holtikultura seperti cabai dan bawang disebabkan pasokan yang kurang sementara kebutuhan yang tinggi. Untuk itu, Kementerian Pertanian saat ini berupaya untuk menambah produksi kedua komoditas tersebut untuk menekan inflasi.

Kementerian Pertanian menganggarkan Rp 737,5 miliar untuk menjaga pasokan di daerah dengan mengembangkan kawasan bawang merah dan kawasan aneka cabai di tahun 2017. Nantinya, setiap pulau diberi anggaran agar dapat memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri.

Hal itu agar setiap pulau dan daerah dapat memproduksi cabai dan bawang sendiri sehingga tidak membeli dari luar pulau dan menambah biaya distribusi. Anggaran tersebut agar produksi di daerah dapat ditingkatkan dengan cara menerapkan penanaman bawang dan cabai di lahan dan yang tersedia.

“Anggaran kawasan bawang merah ada Rp 280 miliar untuk 7.000 ha, kawasan aneka cabai Rp 15.000 ha duitnya Rp 457,5 miliar. Jadi total dari anggaran Ditjen Holtikultura yang hampir Rp 928 miliar ini hampir 70% untuk pengembangan kawasan, atau sekitar Rp 735,5 miliar,” kata Dirjen Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (28/12/2016).

Upaya ini disebut buffer zone, di mana program ini merupakan salah satu upaya untuk memeratakan penyebaran area pertanaman di daerah. Hal itu karena selama ini di beberapa daerah seperti Kalimantan, cabai dan bawangnya disuplai dari Jawa sehingga menimbulkan beban biaya distribusi yang berpengaruh pada naiknya harga pangan di daerah tujuan.

“Kalau lihat peta distribusi berarti ada ketidakseimbangan, karena dari Jawa masih lari (distribusi) ke Medan dan Sumatera dan sebagainya. Maksud saya buffer zone kita mengalokasikan kegiatan itu pada wilayah-wilayah itu, misalnya Sumatera bisa dipenuhi dari Sumatera dari sisi pertanaman,” kata Spudnik.

Pemerataan penyebaran area pertanaman tersebut dilakukan dengan cara menambahkan anggaran di daerah luar jawa seperti Kalimantan dan Sumatera. Misalnya anggaran distribusi pengembangan kawasan bawang merah di pulau Sumatera meningkat menjadi 16% dari sebelumnya tahun 2016 sebanyak 10% dari total anggaran.

“Kalau di Jawa itu petani mau tanam. Kalau di Kalimantan harus ada semacam trigger. Maka APBN itu harus kita geser ke tahun depan Kaliamntan itu yang tadinya 3% jadi 17%, itu harapan saya sehingga Jawa itu berkurang anggaran nanti saya perkuat untuk Kalimantan dan Sumatera, Balinusa 32% itu dikurangi jadi 19%,” ujarnya.

Dengan demikian, ke depan masyarakat harus menanam cabai dan bawang merah di pulau dan daerahnya sendiri agar tidak memasok dari daerah lain. Ia mengatakan sebenarnya lebih mudah menanam cabai daripada bawang merah karena lebih memiliki perawatan yang maksimal. “Sebenarnya tanam cabai lebih mudah daripada tanam bawang, cabai tinggal tabur saja di kasih pupuk kandang tumbuh. Kalau bawang dia harus ada perawatan maksimal,” imbuhnya. (jpnn)

 

LEAVE A REPLY