Ritual Lepas Hewan ke Habitatnya

0
1708

 

RADAR PALEMBANG – Di kalangan etnis Tionghoa, ritual Fang Shen hanya ada setiap perayaan hari Imlek Waisak serta Hut dewa. Upacara ini selalu dilaksanakan turun menurun dan merupakan warisan dari leluhur etnis tionghoa. Tradisi, adat, ajaran dan kebiasaan telah ratusan bahkan ribuan tahun secara tak langsung membantu melestarikan hewan yang terancam punah.

Ritual penyu dan kura-kura selalu diburu untuk telur dan dagingnya diselamatkan dan dilepas kembali ke habitatnya (pantai). Saat digelarnya ritual Fang Shen merupakan salah satu contoh ritual ini. Hal ini juga sama untuk jenis hewan lain karena menurut ajaran leluhur etnis Tionghoa diajarkan untuk saling mencintai sesama makhluk hidup, dan dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan

“Tradisi Fang Sheng sangat erat kaitannya dengan ajaran agama. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan,” kata Thambrin Tan, pengurus Vihara Prajna Shanti.

Fang Shen, wujud dari praktik belas kasih untuk membebaskan makhluk hidup dari kematian, juga disebut pula mencintai kehidupan. Siapapun yang menyelamatkan makhluk hidup, maka akan memperoleh balasan setimpal juga. Kebiasaan melakukan tradisi Fang Sheng ini biasa dilakukan saat tertentu, Misalnya, saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.

“Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya,” ujarnya.

Sementara itu Tjik Harun, wakil Matrisia komda Sumsel yang juga Humas Kelenteng Dewi Kwan Im mengatakan setiap perayaan di kelenteng, baik itu saat HUT dewi Kwan Im maupun dewa lainnya selalu ramai didatangi para pedagang burung di areal kelenteng.

Namun saat di malam Imlek, jumlah pedagang burung ini ramai untuk mencari rezeki karena hal ini dasari selain banyaknya umat yang berdatangan untuk melakukan ritual sembahyang juga di kalangan etnis Tionghoa memiliki kepercayaan terhadap melakukan pelepasan hewan ini.

“Lepas burung itu namanya tradisi Fang Shen atau melepaskan mahluk hidup. Artinya tergantung dari niatan orang yang melepaskannya. Ada yang buang sial, ada yang murah rejeki dan niat lainnya,” ujar Harun

Menurut pria yang akrab disapa Koko Harun ini, tradisi Fang Shen diartikan luas. Tapi pada intinya diartikan sebagai langkah untuk memberikan kebebasan terhadap mahluk hidup seperti yang memang sebagai hewan yang terkurung di dalam sangkar.

“Jadi tergantung dari niatn orangnya saat mepeskan burung. Bisa jadi ada yang minta jodoh, rejeki lancar dan lainnya. Memang identiknya melepaskan burung seperti buang sial,”tutupnya. (ben)

 

 

LEAVE A REPLY