RBB Ajak Generasi Muda Belajar Aksara Ulu

0
93

RADAR PALEMBANG – Rumah Belajar Besemah (RBB) binaan Rumah Zakat dan Rumah Sastra mengajak generasi muda untuk belajar aksara ulu. Upaya ini telah dilakukan dimulai dari mata pelajaran muatan lokal (mulok) menulis aksara ulu di ruang belajar RBB Jl Nurdin Pandji, Belakang PU, Kelurahan Pagaralam, Kecamatan Pagaralam Utara, kemarin.

Menurut Kurniawan, guru pengajar aksara ulu dikutip dari https://kurniawanpagaralam.wordpress.com, aksara ulu atau lebih dikenal dengan Surat Ulu digunakan secara pesat pada pertengahan abad ke-13 sampai dengan abad ke-19. Menurut Yahmid, seorang tokoh Muhammadiyah dari dusun Nantigiri, penggunaan Surat Ulu diperkirakan mulai berkurang pada zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di nusantara.

Kesultanan Palembang Darussalam yang berhasil menyatukan masyarakat-masyarakat etnik di Sumsel (1659-1821) menjadikan Surat Melayu atau Surat Arab Gundul sebagai tulisan resmi, sehingga Surat Ulu hanya digunakan secara lokal oleh masing-masing masyarakat etnik. Setelah Kesultanan Palembang Darussalam dikuasai Belanda, semakin terpojoklah Surat Ulu, karena pemerintah Belanda menggunakan aksara Latin sebagai tulisan resmi, yang oleh nenek-moyang kita dikenal sebagai Surat Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, Indonesia menjadikan juga Surat Belanda (tepatnya aksara Latin modern a-b-c) itu sebagai tulisan resmi, nasional maupun internasional. Dengan demikian, tamatlah riwayat pemakaian Surat Ulu. “Walau memang sampai sekarang pun belum ada jawaban pasti tentang kapan mulai munculnya surat Ulu, tetapi perkiraan munculnya surat Ulu bisa diteliti dari perkiraan usia megalit besemah,” ungkapnya.

Megalit Besemah diperkirakan sudah ada sekitar 2.500 sebelum Masehi. Diantara temuan Megalit Besemah itu ada yang berupa batu besar yang bertulis, bergores, atau berlukis. Goresan di batu-batu besar itulah diperkirakan merupakan cikal bakal Surat Ulu.

“Pagaralam adalah kota yang sangat kaya. Hasil alam melimpah, pesona alamnya indah, masyarakatnya ramah, bahkan tradisi dan budaya warisan leluhur tak ternilai harganya. Aksara Ulu termasuk warisan budaya tak benda. Aksara Ulu biasa dipakai masyarakat Besemah dahulu kala sebagai huruf tulis. Saat ini Aksara Ulu mulai dilupakan bahkan hampir punah. Maka dari itu, RBB berinisiatif untuk mencoba melestarikan Aksara Ulu dengan cara mengajarkan Aksara Ulu pada Generasi Muda,” ucap Gandi. (edi)

LEAVE A REPLY