Program Guru Belajar dan Berbagi Diluncurkan

0
203

RADAR PALEMBANG – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) meluncurkan Program Guru Belajar dan Berbagi-Seri Belajar Mandiri bagi Calon Guru Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (ASN PPPK).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, bahwa program Seri Belajar Mandiri ini dirancang sebagai solusi untuk meningkatkan kompetensi pedagogi dan profesional guru calon ASN PPPK dengan mengedepankan konsep ruang kolaborasi dan komunitas pembelajaran.

“Kami mengundang para guru honorer dan lulusan pendidikan profesi guru untuk membuktikan kelayakannya untuk menjadi guru ASN PPPK melalui seleksi yang adil, bersih, dan demokratis,” kata Nadiem dalam penyampaiannnya secara daring di Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Nadiem menambahkan, bahwa pentingnya keberadaan guru berkualitas dalam menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid dan pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. “Guru yang mau membuka diri untuk terus belajar dan tumbuh, itulah kuncinya,” ujarnya.

Dapat disampaikan, pada tahun 2021 Kemendikbud merancang kebijakan rekrutmen ASN PPPK kapasitas hampir satu juta orang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerahnya. Yang lolos seleksi akan diangkat menjadi ASN PPPK. Seleksi ini berbeda karena dilaksanakan secara daring. Terbuka untuk semua guru honorer dan PPG.

“Semuanya akan punya kesempatan untuk membuktikan kelayakannya untuk menjadi ASN. Ada tiga kali kesempatan untuk lolos seleksi,” terangnya.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril mengatakan, melalui program Guru Belajar dan Berbagi Kemendikbud ingin memfasilitasi para guru agar saling bahu membahu menciptakan pembelajaran yang baik di tengah pandemi.

“Program ini bertujuan membantu guru-guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, agar bisa berdaya bersama menghadapi pandemi covid-19,” kata Iwan.

“Utamanya merupakan gerakan di mana setiap guru bisa mengikuti program pembelajaran secara daring untuk berefleksi dan terus mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Iwan berharap, layanan ini bakal mempercepat adaptasi guru dalam memanfaatkan teknologi. Sebab di tengah pandemi, pembelajaran yang memanfaatkan teknologi memang menjadi suatu keniscayaan.

“Khususnya untuk memastikan bahwa pembelajaran anak-anak kita yang tercinta tetap berlangsung, walaupun dengan segala keterbatasan yang kita hadapi,” ujarnya.

Selain itu, lewat program ini guru diharapkan bisa bergotong-royong, berbagi ide, praktik baik pembelajaran melalui berbagai macam bimbingan teknis, pendidikan dan pelatihan. Selain itu, berbagi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) artikel-artikel, video pembelajaran dan aksi-aksi.

“Hadir sebagai fasilitas belajar dan berbagi agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari guru-guru yang gemar belajar,” tuturnya.

Berdasarkan catatan Kemendikbud, pada 2020, Ditjen GTK telah meluncurkan layanan berbasis digital, yaitu Guru Berbagi, dimana terdapat 65.612 rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), 2.219 artikel, dan berbagai video yang telah dibagikan oleh guru-guru Indonesia dan telah diakses oleh 76 juta kali pengunjung. Selain itu RPP yang dibagikan guru-guru telah diunduh sebanyak lebih dari 20 juta kali.

“Program ini dilaksanakan berdasarkan bahan belajar mandiri yang sesuai dengan bidang studi yang telah dilaksanakan secara daring. Tujuannya adalah sebagai bekal pengetahuan dan keterampilan bagi guru menghadapi Seleksi Guru ASN PPPK,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Nunuk Suryani.

Nunuk menjelaskan, ada tiga tahapan program Guru Belajar dan Berbagi – Seri Belajar Mandiri bagi Calon Guru ASN PPPK. Tahap pertama yaitua pendahuluan, di mana peserta dibekali orientasi terkait penjelasan teknis, penggunaan modul, pembelajaran dan komunitas pembelajaran.

Tahap kedua, yaitu fasilitasi pembelajaran, di mana peserta secara mandiri belajar substansi pedagogi dan bidang studi masing-masing. Peserta memanfaatkan fasilitas ruang kolaborasi dan komunitas pembelajaran dalam mengembangkan pemahaman dan kemampuannya, serta mencoba beberapa soal formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman materi yang telah dipelajari.

“Tahapan ketiga adalah Try Out, di mana peserta dapat daftar untuk ikut pelatihan soal-soal pedagogi dan bidang studi masing-masing setelah proses belajar mandiri dilakukan,” terangnya.

Perlu diketahui, ada 38 jenis modul belajar. Terdiri dari 26 mata pelajaran dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Peserta para guru di Indonesia diprioritaskan untuk guru Non-PNS yang akan mengikuti Seleksi Guru ASN PPPK Tahun 2021.

Adapun pemilihan mata pelajar dimulai dari 3 Maret – 12 April 2021, jadwal belajar dimulai dari 3 Maret – 18 April 2021, try out dilakukan per minggu, lima hari, Senin – Jumat.

Kemudian try out per hari pada Senin sampai Kamis sebanyak empat sesi, dan hari Jumat tiga sesi. Tiap sesi melaksanakan try out 25 mapel. Maksimal hanya lima ribu peserta try out pada setiap sesi tiap maple.

“Terdapat sekitar 495.975 guru dan 45.000 komunitas pendidikan terdaftar bergabung dan berpartisipasi dalam pembelajaran daring program Guru Belajar. Program Guru Belajar yang sebelumnya terdiri dari empat seri belajar,” ujarnya.

Seri pertama, kata Nunuk, adalah Seri Masa Pandemi Covid-19. Seri ini merupakan program pembelajaran yang dirancang agar para guru mampu melakukan pembelajaran jarak jauh dengan tetap memberikan pembekalan dasar yang bermakna bagi siswa mengacu pada prinsip Merdeka Belajar.

“Kedua, Seri Pendidikan Keterampilan Hidup. Seri ini merupakan program pembelajaran yang dirancang bagi guru SMP dan SMA/SMK dengan tujuan untuk membantu dan membekali para siswa dengan keterampilan abad ke-21,” jelasnya.

Ketiga, lanjut Nunuk, Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Seri ini merupakan program pembelajaran yang dirancang bagi guru dan kepala sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi berdasarkan literasi dan numerasi.

“Terakhir, program ini kemudian dikembangkan untuk memperluas gerakan para guru. Guru juga bisa lebih fleksibel mengatur sendiri waktu belajar, lebih mudah mempelajari konten pembelajaran dan sesuai dengan kemampuan, dan lebih kolaboratif dengan guru-guru lainnya untuk menyelesaikan semua tahapan program,” pungkasnya. (der/fin)

LEAVE A REPLY