Pra Kerja Lanjut di 2021

0
77
Ilustrasi Pendaftar Prakerja

Tapi yang Sudah Dapat Tak Bisa Daftar Lagi

RADAR PALEMBANG – Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) memastikan Program Kartu Pra Kerja akan dilanjutkan pada 2021 mendatang.

Hanya saja, penerima program pada 2020 tidak akan menerima manfaat kembali pada 2021 demi pemerataan bagi seluruh angkatan kerja. “Untuk itu saya mengimbau kepada para penerima Kartu Pra Kerja agar menggunakan saldo bantuan pelatihan semaksimal mungkin,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam webinar, Senin (23/11).

Siswijono juga mengingatkan para penerima manfaat Kartu Pra Kerja agar segera menyelesaikan pelatihan yang pertama sebelum 15 Desember 2020. Jika tidak, maka insentif sebesar Rp2,4 juta yang dijanjikan oleh pemerintah tidak bisa diterima

“Selain itu, saya mendorong bagi penerima yang belum menyelesaikan pelatihan yang pertama, agar segera menyelesaikan pelatihannya karena apabila tidak diselesaikan sebelum tanggal 15 Desember 2020, maka insentif sebesar Rp2,4 juta tidak dapat diterima,” kata dia.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini penerima Program Kartu Pra Kerja telah mencapai 5,9 juta orang dari total 43 juta pendaftar. “Hingga saat ini sampai Gelombang 11, sudah ada 5,9 juta penerima program Kartu Pra Kerja,” ujarnya

Susiwijono mengatakan, dari total 43 juta pendaftar Kartu Pra Kerja, yang telah lolos verifikasi mulai dari email, nomor telepon, Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga Kartu Keluarga (KK) sebanyak 19 juta orang.

“Berarti hanya satu dari empat orang yang mendaftar yang mendapatkan Kartu Pra Kerja. Karena dari 19 juta, yang mendapatkan hanya 5,9 juta tadi, sehingga yang belum mendapatkan program ini masih banyak sekali,” katanya.

Setelah tujuh bulan pelaksanaan, kata dia, hampir seluruh pendaftar mendaftar melalui situs prakerja.go.id.

Ia membeberkan, dari 5,9 juta penerima Kartu Pra Kerja, 87 persen berpendidikan SMA ke atas, 77 persen berusia antara 18-35 tahun, dan 81 persen belum pernah mengikuti pelatihan atau kursus sebelumnya, serta 88 persen mengatakan tidak bekerja menurut persepsi mereka.

Sementara itu, penerima Kartu Pra Kerja terbanyak ada di Jawa Barat, disusul Jawa Timur, kemudian DKI Jakarta, dan Jawa Tengah. Sedangkan yang paling sedikit adalah Papua Barat, Papua, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara.

Para penerima manfaat tercatat telah membeli pelatihan kerja, namun baru 5,1 juta peserta yang telah menyelesaikan pelatihannya. “Saat ini rating pelatihan di Kartu Pra Kerja adalah 4,9 dari skala 5. Ini sangat bagus sekali sehingga dapat dikatakan peserta puas dengan pelatihan yang diambilnya. Ini konsisten dengan hasil survei internal dimana 84 persen mengatakan pelatihan peningkatan kompetensi baik skilling, reskilling, atau upskilling, hasil survei ini mengindikasikan manfaat program yang nyata dan sekaligus menepis anggapan bahwa pelatihan online tidak berkualitas,” ujar Susiwijono.

Terkait dengan insentif yang diberikan dalam Progam Kartu Pra Kerja sendiri, sebanyak 79 persen dari penerima memilih e-wallet sebagai rekening untuk menerima insentif. Susiwijono menambahkan, hal itu juga menunjukkan bahwa Program Kartu Pra Kerja juga mendorong percepatan inklusi keuangan.

“Dengan banyaknya penerima yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank atau e-wallet sama sekali, kini setelah bergabung dengan Kartu Pra Kerja mereka telah memiliki rekening bank atau e-wallet,” katanya. (riz/fin) 

 

LEAVE A REPLY