Potensi Desa Wisata di TAA

0
179

RADAR PALEMBANG – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api Api (TAA) sudah menjadi cerita lama merupakan wilayah bernilai ekonomi. Mengingat, kawasan ini bisa menjadi pusat keluar dan masuknya barang berskala besar.

Ternyata, tak melulu dipikirkan sisi ekonomi level wah yang harus diwujudkan. Ada baiknya, pihak yang menjadi ujung tombak pengembangan kawasan tersebut bersama mengkreasikan sisi sebagai daya tarik lainnya.

Berlokasi di Kabupaten Banyuasin, tentu pemkabnya berkepentingan atas majunya pengembangan KEK TAA, begitupun Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Ramlan Holdan, Ketua Dewan Perwakilan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Sumatera Selatan, Selasa (7/7) mengatakan pembangunan pelabuhan TAA sebagai KEK, sekarang hanya digunakan sebagai pelabuhan penyebrangan antara Provinsi Sumsel dan Provinsi Bangka Belitung.

Pria yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD provinsi Sumsel periode 2014 – 2019 ini mengatakan karena kegiatan transaksi bongkar muat peti kemas masih di pelabuhan Boom Baru, jadi dimana sebenarnya nilai ekslusifnya (KEK TAA,read).

Seharusnya, sambung dia, seluruh elemen yang ada di wilayah Sumsel mulai dari masyarakat, Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemkab Banyuasin harus mampu melihat potensi lain dari wilayah sekitar pelabuhan yang ternyata banyak desa dengan potensi wisatanya.

Selain itu, lanjut Ramlan, ada juga potensi utama disana, mulai dari sektor pertanian, perkebunannya hingga termasuk wisata airnya. Khusus desa wisata, ini diprediksikan mampu menjadi destinasi wisata menarik, mengingat Banyuasin merupakan daerah terdekat dengan Kota Palembang, sebagai ibu Kota Provinsi Sumsel.

Menurut mang Ram (sapaan akrab Ramlan Holdan), pelabuhan TAA hanya berjarak sekitar 80 Km dari Kota Palembang dan memiliki potensi wisata yang sangat besar dibandingkan wilayah lainnya karena kekaayaan alamnya dari beberapa sektor tadi masih sangat besar.

Lebih lanjut, sambung Mang Ram, beberapa daerah di Indonesia saja mampu menjadikan wilayah pedesaannya sebagai destinasi wisata, nilai eksklusif pelabuhan TAA harus diciptakan bukan menunggu, itu semua demi kemajuan Sumsel sendiri untuk menciptakan peluang selain di bidang industri dan transportasi.

Arahnya, lanjut dia, untuk menjadikan Sumsel maju dan sejahtera menjadi kota internasional, tentunya dengan mewujudkan pelabuhan samudra Tanjung Api Api sebagai pusat exspor/impor.

Selain sebagai kawasan insdustri, menurut mang Ram, Tanjung Api-Api juga sebagai kawasan perumahan, tentunya bersamaan dengan itu mewujudkan sebagai kawadan wisata. “Inilah program yang mengandung multi efek luar biasa untuk menyejahtrakan rakyat Sumsel.

“Dengan catatan kabupaten dan kota kita dorong untuk mengembangkn potensi daerah masing-masing, mulai dari  pertambangan, migas, ketahanan pangan (Sumsel sebagai lumbung pngan nasional), potensi perkebunan, peternakan dan  pertanian,”jelas dia.

Butuh Akses Jalan

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Sumatera Selatan, Herlan Aspiudin, Selasa (7/7) menambahkan, untuk menjadikan suatu wilayah sebagai suatu daerah destinasi diperlukan beberapa persyaratan.

Seperti, akui dia, antara lain, akses baik itu transportasi ataupun infrastruktur, fasilitas pariwisata diluar akomodasi wisatawan yang bisa digunakan seperti toko cendramata, restaurant.

Tak ketinggalan, menurut Babe Herlan (Sapaan Herlan Aspiudin), dan fasilitas umum seperti, sarana Ibadah, kesehatan, taman dan lain – lain, dan atraksi masyarakat untuk sadar potensi pariwisata di daerahnya.

Pria yang akrab di sapa Babe ini juga menguraikan, saat ini daerah sekitar wilayah TAA belum bisa menjadi destinasi pariwisata dikarenakan infrastruktur jalan yang belum memadai, sarana pariwisata yang belum ada.

“Ditambah lagi masyarakat yang lebih menjadi nelayan dan petani dibandingkan mengembangkan potensi pariwisatanya, kehadiran pemerintah baik Pemkab Banyuasin untuk mengembangkan potensi tersebut (wisata,read), dan untuk pemerintah provinsi Sumsel harus mampu menjadi pelopor pariwisata di wilayahnya,” ujar Herlan.

Berdasarkan situs kek.go.id, di kolom Profil, KEK Tanjung Api-Api ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2014 dan berlokasi di Provinsi Sumatera Selatan.

KEK Tanjung Api-Api memiliki keunggulan geoekonomi yaitu berada di wilayah penghasil karet dan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Selain potensi daerah di sektor agro, KEK Tanjung Api-Api juga memiliki potensi sumber daya alam gas bumi dan batu bara yang melimpah.

KEK Tanjung Api-Api juga memiliki keunggulan geostrategis yaitu dekat dengan akses utama Sumatera bagian selatan ke Alur Laut Kepulauan Indonesia I dan sebagai pintu gerbang kegiatan ekspor/impor wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan sekitarnya.

Aksesibilitas KEK Tanjung Api-Api ditunjang dengan infrastruktur pendukung yang telah tersedia, seperti akses Pelabuhan Tanjung Api-Api sejauh 2,5 Km, akses Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sejauh 65 Km, akses Kota Palembang sejauh 70 Km, dan akses Pelabuhan Boom Baru sejauh 75 Km.

Selain itu KEK Tanjung Api-Api juga dilalui oleh Jalan Nasional Palembang – Tanjung Api-Api yang memudahkan pergerakan dari dan menuju KEK Tanjung Api-Api. Dengan kegiatan utama di bidang industri karet, kelapa sawit dan petrokimia, KEK Tanjung Api-Api diharapkan dapat menarik investasi sebesar Rp 125 triliun dan tenaga kerja 149.000 orang hingga tahun 2025. (dav)

LEAVE A REPLY