Pinjaman Online Babak Belur

0
223

RADAR PALEMBANG – Bisnis penyaluran pinjaman online (pinjol) mulai kering karena meluasnya penyebaran virus corona. Buktinya, sejumlah perusahaan tekfin atau fintech P2P Lending mencatat penurunan aktivitas pinjol pada Maret 2020. PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia, salah satunya. Disampaikan Direktur Utama Akseleran Ivan Nikolas Tambunan, penyaluran pinjaman turun 25 persen dibandingkan Februari 2020.

Menurut dia, banyak pelaku usaha yang bersikap menunggu (wait and see), sehingga permintaan pinjaman berkurang. “Kemarin, pelaku usaha juga masih beradaptasi dengan situasi covid-19. Jadi, mereka masih wait and see,” kata Ivan kepada wartawan, dikutip Rabu (15/4).

Bukan hanya permintaan pinjaman yang berkurang, tapi juga beberapa pemberi pinjaman memutuskan untuk menahan mengalirkan dana untuk mengurangi risiko gagal bayar dari peminjam akibat penyebaran virus corona. “Pemberi pinjaman wait and see dulu, mereka hold cash (pegang uang tunai),” imbuh Ivan.

Kendati begitu, ia berupaya meyakinkan pemberi pinjaman untuk melakukan seleksi dan monitoring secara ketat kepada seluruh peminjam agar tak terjadi gagal bayar nantinya. Monitoring itu misalnya melihat peminjam memiliki proteksi asuransi dan aset investasi. “Assessment penerima pinjaman kami lakukan ketat, begitu pula monitoring portofolio, dan terdapat juga proteksi asuransi. Ini memberikan kepercayaan buat pemberi pinjaman,” ujar Ivan.

Sejauh ini, ia menyatakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) Akseleran masih stabil sekitar 0,7 persen-0,8 persen dari total pinjaman. Angka itu masih sesuai target perusahaan yang di bawah 1 persen. Hal yang sama dialami oleh PT Kredit Pintar Indonesia.       Direktur Utama Wisely Wijaya mengungkapkan terjadi penurunan penyaluran pinjaman hingga awal April 2020. Hanya saja, ia enggan menyebut angkanya secara detail.  “Kredit Pintar saat ini memang sedikit banyak terdampak dari situasi covid-19,” kata Wisely.

Namun, penurunan penyaluran pinjaman diakui Wisely bukan karena berkurangnya permintaan di pasar. Menurutnya, ini terjadi karena perusahaan melakukan seleksi yang lebih selektif bagi calon peminjam. “Kalau permintaan atas pengajuan kredit saya rasa meningkat, ini karena lebih mengetatkan kriteria persetujuan kreditnya,” ucapnya.

Berbeda dengan PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku). Direktur Utama Reynold Wijaya menyatakan total penyaluran pinjaman sepanjang kuartal I 2020 sebesar Rp2,2 triliun atau meningkat 46,66 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun. Kendati begitu, ia mengakui situasi perekonomian saat ini sedang tak pasti. Sejumlah peminjam pun mengajukan untuk penjadwalan ulang pembayaran kredit.

“Dengan kondisi saat ini kami akan berdiskusi dengan peminjam untuk menemukan solusi yang terbaik dalam mendukung perkembangan bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terkait,” ungkap Reynold.

Sementara, Modalku juga terus berkomunikasi dengan pemberi pinjaman terkait permintaan penjadwalan ulang pembayaran kredit. Reynold menyatakan pihaknya akan berupaya agar tak merugikan salah satu pihak. “Ini karena penyesuaian jadwal pembayaran kredit akan berpengaruh terhadap portofolio pemberi pinjaman, seperti waktu dan jumlah pinjaman yang akan dikembalikan,” jelasnya.

Demi menghindari gagal bayar, Reynold bilang pihaknya akan melakukan seleksi yang lebih komprehensif terhadap calon peminjam maupun UMKM yang telah menjadi peminjam sebelumnya di Modalku.  Selain itu, perusahaan juga akan segera menyesuaikan batas pinjaman dan jangka waktu pinjaman. “Batas dan tenor pinjaman akan disesuaikan dengan jenis pinjaman dan profil bisnis masing-masing UMKM, sehingga untuk penyesuaian ini akan dilakukan kasus per kasus,” terang dia.

Penyaluran pinjaman juga akan difokuskan untuk menyalurkan sektor kesehatan. Sebab, sektor itu kini dinilai lebih hidup dibandingkan usaha lainnya karena banyak permintaan untuk memproduksi alat kesehatan di tengah penyebaran virus corona. “Hal ini juga dilakukan sebagai langkah untuk menjaga angka NPL Modalku. Angka NPL Grup Modalku saat ini adalah 1,57 persen,” tutur Reynold.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat akumulasi penyaluran pinjaman online sebesar Rp95,39 triliun pada Februari 2020. Angkanya naik hingga 225,58 persen jika diukur secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara, jumlah rekening peminjam sendiri sebanyak 22,32 juta atau naik 267,17 persen secara tahunan. Bila dirinci, peminjam yang berada di Pulau Jawa sebanyak 18,4 juta rekening dan sisanya di luar Pulau Jawa sebanyak 3,9 juta rekening.

Kemudian, jumlah rekening pemberi pinjaman per Februari 2020 tercatat sebanyak 630 ribu entitas atau meningkat 156,83 persen secara tahunan. Detailnya, rekening pemberi pinjaman yang berada di Pulau Jawa sebanyak 520,17 ribu rekening, luar Pulau Jawa 106,02 ribu rekening, dan luar negeri 3.810 rekening. Dari sisi Tingkat Keberhasilan 90 hari (TKB90), rasionya ada di kisaran 96,08 persen. Rasio ini bisa diartikan sebagai tingkat keberhasilan peminjam dalam membayarkan pinjaman mereka. (seg)

 

 

LEAVE A REPLY