Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Paling Tinggi 5,2 Persen

0
543

 

RADAR PALEMBANG – Likuiditas perbankan tahun ini diprediksi masih akan ketat seperti halnya tahun lalu, meski ada ruang fiskal pemerintah akibat pencabutan subsidi BBM. Makanya Loan to Deposit Rasio menjadi fokus perhatian perbankan dalam mengarungi risiko bisnis.

Kepala Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sumsel Octovianus mengatakan, ketatnya likuiditas dikarenakan faktor pertumbuhan ekonomi yang masih belum membaik. Sumsel saat ini masih sangat bergantung pada komoditas perkebunan sangat sulit untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi akibat harga komoditas yang belum membaik. ”Imbasnya tentu simpanan masyarakat di perbankan akan mengalami penurunan. Masyarakat harus mengutamakan kebutuhan pokok dari penghasilannya setiap bulan,” jelas dia. Asumsi makro ekonomi Sumsel tahun ini diprediksi hanya bisa tumbuh dikisaran 5,2 persen.

Kondisi ini tentu tidak jauh beda dengan kondisi tahun lalu. Artinya, pendaanaan yang ada di perbankan akan sulit untuk tumbuh tinggi. Di sisi lain, tren suku bunga tinggi belum berakhir akibat tingginya Suku Bunga Acuan Bank Indonesia (BI Rate).

Sementara bisnis bank tidak bisa lepas dari penghimpunan dana dan pengucuran kredit. Jika perbakan tidak bisa menjaga ritme dana dengan kredit akan berdampak pada tingginya LDR. ”Khusus untuk BCA meski penghimpunan dana ketat namun masih memiliki progres untuk tumbuh. Kita menargetkan pertumbuhan dana berkisar 11 persen. Sementara pembiayaan berkisar 13 persen. Makanya salah satu cara untuk menjaga rasio LDR kita melakukan pengetatan penyaluran kredit agar LDR bisa terjaga diposisi 70 persen,” kata dia.

Sementara untuk margin keuntungan bisa didorong dengan peningkatan fee based income dengan cara memperbanyak jaringan kantor dan menyber mesih ATM dan EDC. Menurutnya, disaat likuditas pendanaan ketat sangat riskan bagi perbankan untuk jor-joran dalam menyalurkan kredit, meski selama ini laba banyak disumbang dari sektor pembiayaan, namun bagi bank menjaga
kualitas kredit tentu paling penting.

”Nasabah yang selama ini loyal dan sudah lama menjadi nasabah akan menjadi fokus utama, sementara untuk nasabah baru akan diperketat, hanya nasabah baru yang potensi resiko kecil bisa dilayani untuk pembiayaan,” kata dia.

Direktur Utama Bank Sumsel Babel Muhammad Adil mengatakan, sepanjang tahun lalu, BSB mampu menjada posisi LDR berada di posisi aman di posisi 70-75 persen. ”Ini karena suplay dana pihak ketiga yang masuk mampu mencatat pertumbuhan yang signifikan, meski audit kinerja 2014 belum selesai namun kemungkinan kinerja BSB sukses over target,” jelas Adil.

Sementara untuk pembiayaan, BSB juga mampu mencatat pertumbuhan yang memuaskan, karena tumbuhnya pembiayaan di sektor korporasi dan ritel. ”Meski likuditas kita sangat bagus, namun kita tetap menjaga LDR agar tidak terlalu tinggi, sebab jika tinggi jelas akan berpengaruh pada pendapatan perusahaan,” kata dia. Sementara Regional CEO Bank mandiri Wilayah Sumatra II Kuki Kadarisman mengatakan, target mandiri tahun ini mampu tumbuh ditas pasar, ketika perbankan mematok pertumbuhan kurang dari 20 persen maka Mandiri menargetkan pertumbuhan diatas itu.

”Ini tentu tidak mudah untuk mencapainya, apalagi peta persaingan penghimpunan dana sangat ketat, namun selama ini Mandiri tatep mencatat pertumbuhan, seperti ang terjadi tahun lalau, disaat likuditas ketat kita malah tumbuh diatas target,” kata dia. Khusus untuk LDR, kita upayakan bisa berada dibawah 70 persen. pertumbuhan dana ritel yang sejauh ini berjalan bagus tentu bisa menjunjang target tersebut. (iam)

 

LEAVE A REPLY