Pertamina Jamin Tak Hapus Premium

0
443

Dua Tahun Lagi Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi

 

RADAR PALEMBANG– PT Pertamina (Persero) memastikan tidak akan menghilangkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Dirut Pertamina ‎Dwi Soetjipto mengatakan, Pertamina hanya menambah BBM jenis baru sebagai alternatif pilihan masyarakat. “Kami tidak hilangkan premium, kami akan supply sesuai kebijakan pemerintah dan pasar,” ujarnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/4).

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang ‎menambahkan saat ini sudah ada BBM beroktan 88, 92, dan 94. Oleh karena itu, Pertamina ingin mengisi gap dengan dikeluarkannya RON 90. “Tidak ada maksud kami mengganti premium,” ucapnya.

Pria yang disapa Abe ‎itu menjelaskan mobil di Indonesia rata-rata memerlukan BBM bernilai oktan 90 hingga 92. Masyarakat ingin menggunakan BBM dengan kualitas bagus dengan harga relatif murah. Sedangkan, harga pertamax diprediksi akan naik. Melihat populasi motor, terutama motor matic, sebetulnya juga memerlukan BBM ber-RON 90. “Artinya banyak potensi yang ingin pindah ke produk lebih bagus asal bedanya tidak jauh,” imbuhnya.

Abe menyebut spesifikasi BBM RON 90 sebenarnya sudah ada dari tahun lalu. Itu pun sudah melalui SK Dirjen Migas pada 22 Maret 2013. “Waktu itu  produknya belum siap,” imbuhnya.

Namun, lanjut Abe, persiapan pengadaan pertalite kini sedang dimatangkan. Dia mengungkapkan, pertalite sudah dilakukan uji laboratorium. “Uji jalan besok baru mau bertemu asosiasi sepeda motor dan mobil,” katanya.

Sementara itu, pemasaran dipastikan akan berlangsung pada Mei di Jakarta Pusat. Kemudian akan disusul ke daerah Bandung dan Surabaya. “Kita hindari tanggal 1,” cetusnya.

Di tempat terpisah,        Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), mempertanyakan keputusan Pertamina yang tidak mengikuti standar emisi Euro 2. Menurut standar itu, bahan bakar minyak (BBM) seharusnya beroktan 91. ’’Padahal, beda sedikit oktannya. Harga RON 90 tidak ada di dunia,’’ ujar Executive Director KPBB Ahmad Safrudin.

Ujung-ujungnya, muncul kecurigaan bakal ada permainan dalam penentuan harga pertalite. KPBB menyebut Pertamina berpotensi untuk menyesatkan informasi publik karena harga RON 90 sulit dilacak. Tidak transparansinya harga membuat pertalite hanya menyenangkan oil traders karena dapat menciptakan harga sesukanya.

Kalau sudah begitu, jadinya tidak jauh berbeda dengan premium yang menjadi mainan pemburu rente. Dia menambahkan, sejak 2007 kendaraan bermotor Indonesia menerapkan standar Euro 2. Jika punya misi untuk memperbaiki kualitas, Pertamina seharusnya mengikuti standar itu.

Pengamat Ekonomi Politik dan Migas Salamuddin Daeng memahami lahirnya pertalite sebagai aksi korporasi. Namun, menurut dia, mimpi meraih keuntungan bisa tidak tercapai selama Pertamina masih digerogoti kepentingan kekuasaan. ’’Sejak menghilangkan subsidi BBM dalam APBNP 2015, pemerintah beriktikad tidak baik,’’ jelasnya.

Pertamina, lanjut Salamuddin, dibiarkan digerogoti oligarki di sekitar kekuasaan. Pemerintah terkesan lepas tangan terhadap masalah Pertamina dan membiarkan BUMN energi tersebut terus merosot tanpa dukungan pemerintah. Dia menduga ada kekuasaan besar yang mencoba mengambil untung besar dari penjualan minyak mentah ke Pertamina.

’’Itu menjadi salah satu faktor membengkaknya biaya produksi BBM Pertamina,’’ imbuhnya. Melihat situasi yang tidak menguntungkan Pertamina, dia juga curiga. Jangan-jangan rekomendasi tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) untuk menghapus premium dengan pertamax merupakan skenario pergantian importer saja.

’’Importer lama diganti dengan mafia baru. Pergantian mafia dalam kepengurusan energi merupakan bentuk oligarki kekuasaan,’’ tegasnya. Salamuddin juga meminta agar pertalite nanti mengikuti rekomendasi badan atau lembaga internasional. Misalnya, penggunaan zat additive high octane mogas component (HOMC).

 

Minyak Naik

Rendahnya harga minyak tidak boleh melenakan pebisnis maupun semua negara konsumen minyak. Sebab, dalam beberapa waktu ke depan, harga minyak diprediksi akan kembali melonjak ke level tinggi.

Chief Executive Officer (CEO) Sapura Kencana Petroleum Group (Malaysia) Shahril Shamsuddin mengatakan anjloknya harga minyak saat ini diyakini merupakan bagian dari siklus industri. “Dalam dua atau tiga tahun ke depan, harga minyak akan kembali naik ke level optimum,’” ujarnya saat menjadi pembicara dalam World Economic Forum on East Asia 2015 di Jakarta, Selasa (21/4).

Menurut Shahril, harga minyak yang rendah saat ini memang dipengaruhi beragam faktor. Selain rendahnya permintaan, juga dipengaruhi berbagai sentimen geopolitik. Misalnya, seputar potensi kesepakatan pasca pencabutan sanksi untuk Iran, serta perang yang masih berkecamuk di beberapa negara Timur Tengah. ‘”Karena itu, pemerintah maupun pebisnis harus punya pandangan jangka panjang untuk mengantisipasi naiknya harga minyak,’” katanya.

Presiden Chevron Asia Pacific Exploration and Production Singapore Melody Boone Meyer menambahkan, volatilitas atau naik turunnya harga minyak secara tajam seperti saat ini memang biasa terjadi di industri migas. Apalagi, diakui bahwa saat ini memang ada surplus pasokan minyak dunia. ‘”Tapi ke depan, kami yakin (pasokan) akan turun dan permintaan akan naik,’” ucapnya.

Oleh karena itu, meski saat ini harga minyak ada di level rendah atau di kisaran USD 55 per barel, namun perusahaan-perusahaan migas tidak lantas akan menghentikan aktifitas investasi. Sebab, pengembangan lapangan migas merupakan bisnis jangka panjang. ”Investasi mungkin ada sedikit penurunan saat ini, tapi tetap akan jalan,” ujarnya. (owi/dio

 

LEAVE A REPLY