Persaingan Ketat, Sales Hampir Sekarat

0
1917
fOTO : ILUSTRASI SEORANG SALES MOBIL

RADAR PALEMBANG-Marketing atau sales adalah salah satu profesi kunci yang menentukan berhasil atau tidaknya kinerja suatu perusahaan. Tidak jarang keberhasilan pertumbuhan suatu perusahaan diukur dengan berapa banyak produk unggulan yang berhasil dijual oleh tenaga marketing atau sales perusahaan bersangkutan.

Profesi sales merupakan salah satu tulang punggung penjualan terlebih di perusahaan yang bergerak di sektor otomotif. Persaingan dan intrik dalam menggaet konsumen sudah pasti menjadi barang wajib yang tidak bisa dilepas. Kemampuan beradaptasi dengan berbagai jenis konsumen ditambah dengan berbagai bujuk rayu, sudah menjadi satu kesatuan yang harus dijalankan.

Khusus untuk sales yang bergerak di sektor otomotif, selain mempunyai berbagai kemampuan dan persyaratan minimum untuk menjadi seorang marketer, perkembangan ekonomi di sekitar merupakan salah satu hal yang tidak bisa dikesampingkan. Perubahan pola belanja masyarakat ditambah dengan pertumbuhan ekonomi di daerah haruslah dipahami. Apalagi untuk wilayan Sumsel yang mayoritas pendapatan penduduknya diperoleh dari hasil komoditi perkebunan dan pertanian. Sementara mirisnya, harga komoditi terutama komoditi perkebunan saat ini jauh dari harapan.

“Selain menjalankan berbagai trik yang umum dilakukan, memperhatikan tren pasar adalah hal wajib harus dimengerti. Misalnya kita pameran di lokasi A, kita harus tahu bahwa kebanyakan masyarakat yang ke sana adalah orang dengan kemampuan ekonomi seperti apa. Nah, orang dengan kemampuan tersebut, selera mereka umumnya seperti apa, juga harus kita paham,”ujar Riyan Utami Santun, salah satu mantan sales Auto 2000, Minggu (12/5).

Secara pribadi, Riyan mengakui jika profesi sebagai sales oromotif merupakan salah satu profesi yang cukup menjanjikan. “Profesi itu menjanjikan dari sisi penghasilan, tapi sekarang ini persaingan terbilang sangat keras mungkin karena terlalu banyak sales. Belum lagi sekarang banyaknya promo dari kompetitor yang membuat prospek kita kabur,” katanya.

Selain persaingan yang sangat keras dari pihak lain, maraknya mobil murah merupakan salah satu hal yang diakuinya menjadi pisau bermata dua. “Kkalau mau bicara jujur, dari sisi volume penjualan mobil LCGC (Low Cost Green Car), membantu kita memenuhi target. Tapi kita juga tidak bisa menapik kalau besaran komisi yang didapat juga berkurang,” ungkapnya.

Menurutnya, maraknya penjualan mobil murah yang kini menyerbu kota Palembang tidak banyak menghasilkan market baru, keberadaan mobil murah ini menurutnya justru menurunkan pendapatan. Karena para konsumen yang sebelumnya ingin membeli mobil dengan harga di atasnya memilih untuk turun kelas.

Kondisi tersebut, kini diperparah dengan semakin pintarnya masyarakat dalam membelanjakan uang. “Kalau dulu yang saya pernah dengar, potongan atau diskon itu kita yang menentukan, kalau sekarang konsumen justru balik bertanya, berapa berani kita memberi diskon kepada mereka,” katanya.

Parahnya lagi, saat ini target yang diberikan oleh pihak dealer menurutnya, kian tinggi. Dialer merasa menjual mobil LCGC itu tidak terlalu sulit jadi mereka naikan target penjualan ke kita, untuk mengejar target inilah banyak teman saya itu yang rela untuk tidak dapat mengurangi komisi bahkan ada yang rela tidak dapat komisi untuk memenuhi target.

Hal ini secara tidak langsung menurut Riyan akhirnya menuntun para sales untuk mencari penghasilan sampingan yang terkadang justru membuat mereka keluar dari perusahaan yang membesarkan mereka. “Karena sekarang sulit penuhi target yang berujung penghasilan seadanya, banyak teman yang akhirnya memilih untuk mencari pekerjaan sampingan atau mungkin keluar seperti saya,” bebernya.

Ditanya tentang keinginan kembali menekuni pekerjaan tersebut, Riyan mengakui jika dirinya masih mencintai pekerjaan tersebut. “Kalau ditanya mau balik lagi menjadi sales otomotif, saya tidak bilang saya tidak mau, yang pasti saya mau jadi sales otomotif lagi setelah kondisi ekonomi itu stabil dan positif,” terangnya.

Khusus untuk di daerah Sumsel, perkembangan pasar kendaraan bermotor sangat ditentukan oleh baik atau tidaknya harga komoditas perkebunan khususnya karet dan sawit. “Kala harga sawit dan karet bagus, biasanya penjualan kita juga bagus, tapi lebih bagus lagi kalau harga karet itu bagus, pasti penjualan lebih mengkilap,” katanya.

Ditanya mengenai karakter konsumen yang ada di kota palembang, pada dasarnya untuk konsumen Palembang lebih enak menjual mobil kepada petani. “Selain tidak banyak pertanyaan, kalau mereka sudah minat umumnya pasti jadi. Kalau yang di kota ini berbeda, setelah kita prospek dan kelihatan minat, besoknya mereka ambil brand lain,” tutupnya.

Kegelisahan para sales inilah yang membuat profesi sales mobil boleh dibilang mulai mengap-mengap. Namun, tidak sedikit sales roda empat ini yang berhasil menuai sukses meski mendapat banyak tekanan. (*/bersambung)

LEAVE A REPLY