Perkembangan Program Sejuta Rumah bagi MBR, Dalam Tiga Bulan Mampu Jual 500 Unit

0
606
Jpeg

 

Seiring dengan pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan untuk tempat tinggal semakin tinggi, di Palembang sendiri pembangunan Rumah Sederhana (RS) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) kian pesat, meski kondisi ekonomi sedang tidak baik. Namun, hal tersebut bukan menjadi persoalan bagi masyarakat untuk membeli rumah secara kredit.

 

RADAR PALEMBANG – Salah satu pengembang yang terus membangun adalah PT Semendak Seranting Sakti Palembang. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini membangun rumah terjangkau di berbagai lokasi. Pembangunan ini tidak lain semakin tingginya permintaan rumah murah.

Ditemui Radar Palembang Abdullah Taufik, direktur utama (Dirut) PT Semendak Seranting Sakti Palembang sedang bersantai di ruang kerjanya yang berada di Jalan Soekarno Hatta. Pria yang lebih akrab disapa Taufik ini menuturkan meski kondisi ekonomi sedang tidak stabil, namun permintaan rumah murah masih tinggi.

“Dalam tiga bulan terakhir kami mampu menjual 500 unit yang tersebar diberbagai lokasi yang ada di Palembang, tentu permintaan ini tidak lain semakin banyaknya jumlah penduduk yang berdomisili di Palembang,” kata taufik, Rabu (24/8).

Dikatakan Taufik, rumah yang dijual adalah tipe 36, meski harga yang ditetapkan Rp 116 juta. Namun masih cukup tinggi pemintanya, meski kondisi ekonomi sedang tidak baik namun penjualan properti masih cukup tinggi.

“Walaupun banyak yang membeli dengan kredit maupun cash, namun hal itu bukan menjadi persolan. Karena investasi rumah maupun tanah lebih cerah dibandingkan invetasi lain, sebab harga rumah setiap tahun mengalami peningkatan,” kata Alumnus Muhamadiyah ini.

Bapak tiga anak ini mengatakan, pada tahun ini pihaknya akan kembali membangun rumah murah yang tersebar di empat lokasi, yaitu Sukabangun II, Soekarno Hatta, Bukit Sejahtera dan Gandus, dirinya berkeyakinan pembangunan rumah ini akan cepat laku, karena masyarakat yang membutuhkan rumah semakin tinggi.

“Karena takut tidak kebagian rumah yang dibangun semakin banyak calon konsumen yang menghubungi marketing maupun datang langsung ke kantor untuk mempertanyakan wacana pembagunan rumah,” kata Taufik. Apakah wacana pemerintah yang akan menaikan rumah MBR dari harga Rp 116 juta menjadi Rp 123 juta, peminat rumah MBR menjadi rendah? Wacana tersebut tidak akan mengurungkan niat para calon pembeli, karena rumah adalah nomor satu yang diinginkan setiap orang.

“Dari pada ngontrak lebih baik membeli rumah secara kredit, justru ngontrak ini lebih mahal ketimbang kredit rumah. Oleh karena itu pertumbuhan rumah akan semakin tinggi baik itu rumah MBR maupu  perumahan mewah,” ungkap dia.

Sementara itu, salah satu rumah MBR perumahan Interbis Talang Kelapa Palembang salah satu perumahan MBR yang diminati. Selain lokasi yang strategis, perumahan ini hanya dalam tahun penjualan sudah habis dibeli oleh masyarakat. Yusni, warga Komplek Interbis mengatakan, ia membeli rumah ini sejak 5 tahun lalu, dengan type 30 namun rumah tersebut sangat nyaman. Rumah yang memiliki satu kamar dan satu kamar mandi itu, sangat cocok bagi keluarganya yang berpenghasilan pas-pasan.

“Kami kredit selama 15 tahun, dengan angsuran perbulan mencapai Rp 600 ribu, angsuran tersebut tidak begitu tinggi. Karena setiap bulan selalu membayar, meski pendapatan perbulan pas-pasan  namun kami tidak pernah nunggak,” kata Yusni.

Meski pada tahun 2010 lalu, kondisi kawasan ini hutan tanpa ada aliran listrik, namun sekarang kawasan tersebut sudah ramai, sering perkembangan kawasan talang kelapa yang semakin pesat. Dulu hanya hitungan Kepala Keluarga saja yang tinggil di kompleknya. “Sekarang lebih dari 400 KK yang tinggal di sini, ini menunjukan bahwa kawasan ini sudah maju. Dulu jalan di sini hanya jalan setapak. Namun sekarang, jalan perumahan  maupun jalan umum sudah diaspal,” jelas dia.

Meski rumah yang ia beli hanya ada satu kamar tanpa dapur, namun tanah yang ada sangat luas, sehingga jika ia memiliki uang berencana akan membangun dapur dan ruang. Karena selama ini rumah yang ia tempati tampak dapur.

“Ruangannya sangat kecil sehingga cuacanya panas. Rumah kami sampai sekarang belum direhab karena tidak ada uang untuk rehab, karena penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar kredit rumah,” kata pria yang berprofesi sebagai tukang gunting ini.

Pendapatannya perbulan tidak tentu, sehingga harus pintar-pintar dalam mengelola keuangan. Namun ia sangat berterimakasih kepada peemrintah yang telah meluncurkan program rumah MBR, karena dengan program ini sangat membantu bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. “Jangan sampai dinaikkan oleh pemerintah, karena harga yang sekarang saja banyak yang tidak mampu bayar. Kami juga takut dengan kenaikan tersebut angsuran kredit kami juga naik,” keluhnya. (*)

LEAVE A REPLY