Peritel Siap Patuhi BI

0
243

 

 

RADAR PALEMBANG, RP –Pengusaha ritel di Palembang mensikap secara positif pelarangan dari Bank Indonesia agar tidak ada penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi non tunai ditanggapi. Peritel siap mematuhi aturan tersebut.

Diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Hasannuri alasan perlunya penggesekan (swipe) kartu di mesin kasir saat pembayaran non tunai. Menurut dia, tujuannya untuk memudahkan laporan keuangan.

Saat transaksi terjadi, kasir yang melayani pembeli dengan pembayaran non tunai tentu membutuhkan bukti pembayaran tersebut. Salah satunya dengan cara gesek (swipe) kartu yang digunakan pembeli supaya datanya terbaca dan terdata. “Kaitannya dengan sistem pembayaran yang dilakukan. Sebagai bukti. Kalau digesek di kasir itu sebagai bukti bahwa berbelanjanya lewat kartu,” ujarnya.

Meski demikian, Hasan menyatakan proses gesek kartu di mesin kasir memang cukup satu kali saja. Dua kali gesek, katanya, hanya dilakukan untuk pegawai baru yang belum mengerti pembukuan. “Dua kali gesek itu kan sebenarnya enggak seharusnya demikian. SOP kan itu sekali,” jelasnya.

Jika sistem dua kali gesek kartu saat pembayaran dilarang, tentunya mereka akan mematuhi peraturan tersebut. Bahkan, dia menegaskan akan mesosialisasikannya pada anggotanya. “Saat ini sosialisasi sudah kita lakukan, kalaupun masih ada yang melakukan akan kita laporkan,” ungkapnya lagi.

Sikap postif juga diungkapkan Store Manager Ramayana Department Store, Arvan Zulhandi. Menurutnya, mereka akan mengikuti aturan yang berlaku. Memang, selama ini sistem gesek dua kali diberlakukan untuk mempermudah laporan keuangan. Karena umumnya laporan keuangan dibedakan berdasarkan cara pembayaran konsumen.

Pembayaran tunai dan non tunai dipisahkan karena kan pelaporannya beda. Kini, mereka akan ikuti aturan dari BI, karena kerapkali tindakan gesek dua kali dilakukan oknum yang mengerti teknologi. “Tetapi bagi kami orang awam, hal ini dilakukan hanya untuk mempermudah laporan keuangan saja. Tetapi dengan adanya larangan ini siatem gesek dua kali ini tidak kami lakukan lagi, untuk laporan kita lakukan secara manual,” ujar Arvan lagi.

 

Halal Tanpa Pin

 

Masi terkait double swipe, Pemimpin Konsumer Banking BNI Kanwil Palembang, AA Gede Putra menegaskan boleh-boleh saja menggesek tanpa pin asalkan pada alat resmi dari perbankan. Soalnya, transaksi yang menggunakan kartu debit memang sebenarnya tidak dibutuhkan pin atau tanda tangan karena sebenarnya sudah terjadi perpindahan atau sudah langsung ter-debit.

“Permintaan tanda tangan itu sebenarnya lebih untuk kepentingan merchant. Tanda tangan itu adalah sebagai alat verifikasi bahwa yang melakukan transaksi adalah benar pemilik kartu ataucard holder,” katanya.

Hanya saja, Gede Putra mengingatkan, penggesekan atau transaksi yang dilakukan memang di mesin Electronic Data Capture (EDC) dari perbankan. Sehingga untuk data keamanan nasah tetap terjamin kerahasiaanya. Nah, yang menjadi masalah itu jika kartu digesekkan kembali pada mesin Electronic Data Processing ( EDP ) milik merchant.

Modus penggesekan di EDP ini untuk merconfile data merchant, tapi hal itu tidak direkomendasikan lagi oleh Bank Indoensia (BI). “Alasanya tidak lain sebagai kemanan data nasabah karena data perpindahan data,” katanya.

Dia menambahkan, selama tidak dipergunakan untuk hal-hal yang negatif sebenarnya tidak jadi masalah, tapi yang dikhawatirkan jika nantinya ada oknum yang memanfaatkan data tersebut untuk hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Seperti penggandaan kartu dan lainya. “Jadi, ketika transaksi sudah keluar struk, sudah selesai tidak ada masalah. Justru lalau tidak diminta tanda tangan itu merugikan ke sisi merchantnya bukan nasabah,” katanya.

Mesin EDP di merchant sebenarnya bukan mesin untuk transaksi, tapi untuk pemindahan data transaksi dari mesin EDC, dan mesin itu juga bukan perbankan yang mengeluarkannya. Sebenanya merchant juga harus percaya dengan system yang telah dibangun oleh bank, sebab di EDC sudah ada system yang dikonsiliasi, jadi tidak perlu lagi EDP.

Begitu juga untuk penggunaan di kartu kredit, ada dua mode yang digunakan. Yakni tanda tangan dan pin based, tapi kedepan semuanya akan dilakukan dengan pola pin based.

Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Rudi Khairudin mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan kembali terkait transi debit tanpa pin tersebut. “Nanti kita akan cek detil informasinya, sebab debit harus merelease transaksi pakai PIN,” katanya

Terpisah, salah seorang pengguna jasa layanan non tunai, Dania (35) yang melakukan transaksi di salah satu Bioskop di Kota Palembang, mengatakan, dia baru menyadari akan pentingnya perlindungan data pribadinya setelah gecar diberitakan pelarangan penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi nontunai.

“Sejak ramai diberitakan soal pelarangan transaksi penggesekan ganda tersebut, saya juga khawatir, karena kasir merchant pernah menggesek kartu debit saya tanpa pin menggunakan EDC Link,” katanya, Minggu (10/9).

Dia khawatir penggesekan kartu debit tanpa PIN ini mumudahkan pencurian data dan informasi kartunya. “Kalau penggesekan ganda khawatir data tersebut dihacker, kalau tanpa PIN ini saya khawatir malah bank yang bermain menjual data saya,” katanya.

Dania menyadari ketidaktahuanya di awal, membuat dirinya tidak ambil pusing karena kartu debitnya digesek tanpa PIN, namun setelah imbauan Bank Indonesia terkait menghindari praktik penggesekan ganda dan tidak mengizinkan pedagang melakukan penggesekan ganda, membuat dirinya bertanya tentang keamanan transaksi debit.

“Kalau kartu kredit mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau transaksi kartu debit bisa tanpa PIN, saya justru kwahatir saldo saya ditarik tanpa ada laporan yang masuk. Karena tidak mungkin setiap saat harus cek saldo,” katanya. (iya/tma)

LEAVE A REPLY