Perbankan Siapkan Perubahan RBB

0
121

RADAR PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan segera menyiapkan kebijakan stimulus perekonomian  di sektor industri keuangan non bank dengan melonggarkan ketentuan kewajiban pembayaran di perusahaan pembiayaan.

Konteksnya melindungi pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) dalam hal, restrukturisasi kredit termasuk usaha mikro dan kecil agar diringankan pembayaran kredit atau pembiayaannya serta dimudahkan untuk kembali mendapatkan kredit atau pembiayaan dari perbankan dan perusahaan pembiayaan.

Komisaris Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumsel, Dian Askin Hatta mengatakan pasti (virus Corona,red) akan dampaknya, banyak ke sektor perekonomian. “Bisa jadi pabrik stop operasi, karena pembeli tidak ada,”jelas dia kepada Radar Palembang.

Tidak ada pembeli itu lebih kepada pembatasan aktivitas manusia guna pencegahan penyebaran lebih masif lagi wabah virus corona ini. “Bisa jadi hotel juga sepi, bandara sepi, orang lebih baik nggak berpergian sekarang ini,”ungkap Askin.

Karena, sambung dia, corona ini bisa dicegah dengan tidak berpergian. “Dibatasi dulu untuk pertemuan, seminar dan pelatihan dibatali, kita (BPR,red) tanggal 31 ini (Maret,red) ada pertemuan Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia) di Jakarta, itu juga dibatalkan.”

Kembali lagi, bagi perbankan, musibah Corona ini akan juga terimbas ke bisnisnya. Jika geliat pelaku usaha terhambat karena sisi permintaan rendah, bagaimana dengan kolektivitas angsuran pembiayaan.

Untuk itu, dirinya mengakui, perbankan membutuhkan arahan dari otoritas terkait, baik OJK atau BI bagaimana bersikap dalam menghadapi efek corona ini. Terkait kemungkinan adanya restrukturisasi kredit, ia mengakui, kalau nanti ada kebijakan OJK, BI akan lakukan.

Termasuk adanya perubahan rencana bisnis bank atau RBB? “Untuk RBB, kita juga menunggu arahan OJK, biasanya perbankan diberikan 2 kali batasan perubahan RBB, selain di awal tahun, juga bisa kembali diubah, paling lambat di Juli nanti, terkait bisnis di tahun ini,”ungkap dia.

Pemimpin BNI Kanwil Palembang, Dodi Widjajanto mengakui ada kemungkinan untuk perubahan RBB dalam waktu dekat, namun semuanya masih dikoordinasikan dengan kantor pusat. “Kemungkinan ada (perubahan RBB,red),”jelas dia.

Ia menambahkan, kalau memang kondisi itu harus ada memberikan insentif kepada pengusaha tentu bank-bank sebagai pelaku usaha juga maka harus ada perbuhan rencana bisnis bank karena disana ada net interest margin.

Terkait adanya restrukturisasi kredit bagi nasabah? Dodi mengungkapkan kemungkinan iya (ada restrukturisasi kredit,red), kita sedang memformulakan data-data karena karakteristik debitur masing-masing beda.

“Ada yang langsung terpapar secara langsung (bisnisnya,red) corona karena dia pelaku ekspor dan impor. Jadi dengan berhentinya beberapa negara, Cina dan lainnya sebagai supplayer akan terganggunya bisnis,”ungkap Dodi kepada Radar Palembang.

Tapi, sambung dia, kalau domestik (pelaku usaha,red) tidak terlalu berpengaruh langsung Corona, kena dampaknya karena sifatnya perdagangan murni. Meski demikian, akui dia, tapi cepat atau lambat semua aspek sektor bisnis akan terdampak. BNI, kata Dodi, sedang membuat semacam prognosa nasabah mana saja terdampak (Corona,red).

“Ini harus kita siapkan dari awal. Setelah data dikumpulkan dan diusulkan maka kami akan rapat lagi dengan kantor pusat, nasabah seperti ini akan treatment-nya, karena harus ada kebijakan besar yang seragam.”

“Contohnya cases (kasus,red) ini, harus dibuat suatu keringanan tertentu maka akan disinkronkan dengan (kebijakan,red) otoritas karena kita (perbankan,red) mematuhi POJK dan PBI. Contohnya, bencana Merapi di Jawa dan Gunung Agung di Bali, ada nunggak 3 hingga 6 bulan, itu tidak diturunkan klasifikasinya ke kredit macet,”ujar dia.

BNI mendukung langkah kebijakan otoritas perbankan terkait penaganan debitur virus Corona. “Intinya memberikan kemudahan kepada debitur yang terdampak usahanya karena wabah Corona, dikasih (debitur,red) keringanan, termasuk penundaan tidak masuk kategori kredit macet,”ujar dia. (Dav)

 

 

LEAVE A REPLY