PENGEMBANGAN TERAPI KANKER BERDASARKAN STRUKTUR MOLEKULNYA

0
189
sel kanker

 

RADAR PALEMBANG, Pada zaman ini, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, berbagai jenis penyakit juga ikut mengalami perkembangan. Salah satu penyakit yang ikut mengalami perkembangan adalah kanker. Menurut National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada tahun 2014 lalu, kanker menempati urutan atas daftar penyakit paling mematikan di dunia.
Apa itu kanker?
Kanker adalah sebuah istilah universal terhadap penyakit yang timbul ketika terjadi perubahan dalam sel yang menyebabkan adanya pertumbuhan tidak normal dan tidak terkendali. Tubuh manusia tersusun dari sekian triliun sel yang akan terus tumbuh dan berkembang menjadi sel baru, sedangkan sel yang sudah tua atau tidak berfungsi lagi akan mati secara ilmiah. Sel kanker tercipta ketika sel yang sudah rusak tersebut tidak mati, melainkan menggandakan dan memperbanyak diri hingga jumlah yang tidak bisa dikendalikan. Sel kanker dapat menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Mengutip dari depkes.go.id (2019), data Globocan menyebutkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian, dengan 1 dari 5 pria serta 1 dari 6 wanita di dunia mengalami kanker. Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136,2 /100.000 penduduk) berada pada urutan ke-8 di Asia Tenggara dan urutan ke-23 di Asia. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1,4 per 1000 penduduk di 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018.
Penyebab paling umum dari kanker adalah adanya mutasi DNA pada sel. Di dalam DNA terdapat ribuan gen unik yang memberikan instruksi pada sel untuk menjalankan fungsi spesifik pada organ tempat sel tersebut berada. Ketika terjadi mutasi gen, sel tidak mampu untuk menerima instruksi atau perintah dari sistem pusat, sehingga sel ini akan tumbuh di luar kendali dan membentuk protein abnormal. Biasanya, mutasi gen yang berbeda dan berlangsung lebih dari lima kali dapat memicu terbentuknya sel kanker. Proses ini dapat berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama, sehingga akan terbentuk sel kanker yang cukup besar. Pada saat itu terjadi, barulah gejala-gejala dari kanker baru muncul. Hal ini mengakibatkan penyakit kanker sulit untuk dideteksi sejak dini.
Saat ini terdapat beberapa opsi pengobatan untuk kanker tergantung dari jenis kankernya, tingkat keparahan, dan kondisi pasien kanker tersebut secara keseluruhan. Pengobatan paling umum bagi penderita kanker adalah kemoterapi, radioterapi, terapi biologis, dan terapi target. Namun, berbagai metoda pengobatan ini juga tidak luput dari efek samping yang ada.
Sampai saat ini tercatat bahwa terdapat 200 jenis kanker di dunia. Hal ini menyebabkan sampai sekarang belum ada pengobatan kanker yang benar-benar efektif. Berbagai jenis studi dan penelitian telah diarahkan untuk mengkarakterisasi sel kanker. Hasil karakterisasi ini berhasil ditemukan oleh Hanahan dan Weinberg. Mereka menemukan adanya enam buah perubahan esensial pada fisiologi sel yang tumbuh menjadi sel kanker. Enam hal ini adalah pertumbuhan mandiri sel kanker, kurangnya sensitivitas sel kanker terhadap inhibitor pertumbuhan, kemampuan dalam menghindari kematian sel alamiah, potensi replikasi sel kanker yang tidak terukur, angiogenesis yang berkelanjutan, dan invasi jaringan secara metastasis. Alasan sulitnya ditemukan pengobatan kanker yang efektif adalah karena kurangnya spesifikasi dalam menargetkan stem sel kanker (CSC), adanya sifat sel kanker yang imun terhadap obat-obatan antikanker, kurangnya profil dan spesifitas terhadap perubahan ekspresi genetika kanker, masalah pada diagnosis kanker, resiko kemoterapi yang terlalu besar karena kurangnya spesifitas, dan adanya metastasis, yaitu penyebaran sel kanker dari satu organ ke jaringan organ yang lain, merupakan masalah terbesar dalam pengobatan kanker.
Lalu, apakah masalah mengenai pengobatan kanker ini dapat dipecahkan?
Dari apa yang telah dipaparkan di atas, salah satu masalah utama dari ketidakefektifan pengobatan kanker adalah kurangnya spesifitas terhadap struktur ataupun molekul dari kanker itu sendiri. Pada bulan April 2019 lalu, peneliti di Universitas Columbia berhasil menentukan struktur 3 dimensi dari ATP-sitrat-liase (ACLY) manusia yang berperan dalam pembiakan sel kanker. ACLY adalah enzim metabolik yang mengatur sintesis asam lemak pada sel kanker. Dengan meng-inhibisi enzim ini, diharapkan bahwa pertumbuhan sel kanker pun dapat dikontrol. Hasil dari Cryo-EM (Cryogenic Electron Microscopy) memperlihatkan mekanisme untuk menginhibisi ACLY dengan efektif. Tim peneliti menyatakan bahwa perubahan signifikan pada struktur enzim sangat dibutuhkan agar enzim dapat berikatan dengan inhibitor. Perubahan struktur ini kemudian akan langsung menghadang substrat dalam berikatan dengan ACLY. Mekanisme ACLY ini dapat menyediakan pendekatan lebih baik dalam menciptakan obat-obatan yang dapat mengobati kanker.
Selain itu, kelompok peneliti di Institute of Cancer Research, London telah meneliti mengenai struktur dan fungsi dari molekul DHX8 yang ikut berperan dalam proses alternative splicing atau penyambungan RNA alternatif. Penyambungan ini terjadi ketika kode DNA disalin ke RNA, dengan beberapa bagian terpotong dan bagian lainnya tetap tersambung untuk menciptakan kode akhir yang akan diterjemahkan menjadi protein. Kesalahan dalam proses penyambungan ini dapat memicu perubahan protein pada sel yang pada akhirnya akan menimbulkan atau memicu keberagaman jenis kanker, evolusi, serta resistansi terhadap obat-obatan anti kanker. DHX8 adalah salah satu molekul penting dalam proses penyambungan ini yang membantu pelepasan RNA akhir ke sel. Penelitian ini berhasil menjelaskan struktur spesifik daerah pada DHX8 yaitu daerah “motif DEAH”, “hook loop”, dan “hook turn” yang merupakan daerah vital terhadap fungsi DHX8. Tim peneliti ini juga mengungkapkan bahwa mereka akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kontribusi DHX8 terhadap kanker.
Semua penelitian yang telah dilakukan tersebut memiliki satu tujuan, yaitu agar dapat menemukan metode pengobatan bagi penderita kanker yang lebih efektif dengan efek samping yang lebih kecil. Kita pun juga perlu untuk terus menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, agar tidak terjangkit berbagai penyakit yang tidak diinginkan. Sehat itu mahal harganya dan mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Agatha Sandra
Jurusan Teknik Biomedis 2018
Institut Teknologi Bandung

Referensi Sumber:
Chakraborty, Sajib dan Taibur Rahman. (2012). “The Difficulties in Cancer Treatment” (jurnal). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4024849/ (Diunggah pada 14 November 2012 dan diakses pada tanggal 26 November 2019).
Columbia University. (2019). “Scientists decipher 3D structure of a promising molecular target for cancer treatment: Discovery could be a major step in developing therapies for cancer, controlling cholesterol” (jurnal). www.sciencedaily.com/releases/2019/04/190403135038.htm. (Diunggah pada 3 April 2019 dan diakses pada 26 November 2019).
Institute of Cancer Research. (2019). “New way to target cancer’s diversity and evolution: Scientists reveal 3D structure of crucial molecule involved in mixing and matching genetic information within cells.” (jurnal). https://www.sciencedaily.com/releases/2019/09/190913191453.htm. (Diunggah pada 13 September 2019 dan diakses pada 26 November 2019).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). “Hari Kanker Sedunia” (artikel). https://www.depkes.go.id/pdf.php?id=19020100003. (Diunggah pada 31 Januari 2019 dan diakses pada tanggal 26 November 2019).

LEAVE A REPLY