Pengembangan Desa Wisata Perlu Peranan Akademisi

0
484
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel Aufa Syahrizal saat membuka Sosialisasi Pengembangan Desa Wisata dengan Pendampingan Tahun 2020 di Hotel Aston

RADAR PALEMBANG – Membangun pariwisata Sumsel, perlu melibatkan akademisi, terutama untuk pembangunan di desa wisata. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Sumsel Aufa Syahrizal  pada saat pembukaan Sosialisasi Pengembangan Desa Wisata dengan Pendampingan Tahun 2020 yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata di Hotel Aston, Rabu (12/2).

“Dalam pembangunan pariwisata ada yang kita kenal namanya pentahelix yang terdiri dari lima unsur yakni pemerintah, pengusaha bidang pariwisata, akademisi, komunitas, dan media. Jadi Bapak Ibu adalah urutan ketiga dari akademisi dan sudah pantas dilibatkan dalam pembangunan pariwisata,” terangnya.

Ditambahkan Aufa, beberapa waktu lalu sudah dilakukan kerjasama  dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti untuk pembinaan dan pendampingan desa wisata Kabupaten Banyuasin tepatnya Sungsang.  Karena terletak di daerah perairan, kehidupan warga di sana sehari-hari disibukkan dengan aktivitas nelayan, padahal, menurutnya, di sana ada suatu kawasan yang namanya Taman Sembilang  yang setiap akhir tahun burung siberia akan datang beranak dan bertelur di kawasan itu, dan pada akhir Desember terbang ke Australia. Momen bulan Oktober hingga Desember ini merupakan suatu daya tarik wisata.

“Selama ini mereka tidak begitu peduli, karena mungkin mereka tidak memiliki jiwa pariwisata  atau disibukkan dengan aktivitas nelayan. Dengan adanya pendampingan, mereka akan diberikan pemahaman bahwa ini sebuah potensi dan mereka bisa berbenah diri sehingga desa ini bisa menarik dan menjadi kunjungan wisata,” ucapnya.

Aufa juga mensyukuri dari 17 kabupaten kota yang ada di Sumsel, komunitas, pemuda, generasi muda, karang taruna, tanpa diminta berusaha membangun destinasi di wilayah kawasan mereka.

“Baru-baru ini, Gubernur Sumsel berserta seluruh jajaran melaunching sebuah kawasan destinasi baru di kawasan pinggir sungai  yang diciptakan sendiri oleh penduduk setempat namanya Camping  Ground. Semua aktivitas bisa dilakukan di sana mulai dari kemping, arung jeram, dan juga outbond. Namun ini hanya sebuah inisiatif karena mereka belum memiliki kemampuan   mengembangkan dan mengelola destinasi wisata. Tugas Bapak Ibu yang kami harapkan bisa membantu pemerintah, membantu pariwisata , membantu program desa untuk membangkitkan dan membangun mereka,” tutupnya. (hen)

 

LEAVE A REPLY