PENGALAMAN Muhammad Brilliyan Alvayedo

0
345

 

 

RADAR PALEMBANG – Pengalaman Muhammad Brilliyan Alvayedo (19) ke Jepang membawa pelajaran berharga. Tak hanya dari sisi teknologi, sistem ketenagakerjaan Indonesia tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya.

Billi, begitu ia biasa disapa, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) memiliki pengalamam berharga di usia yang sangat muda. Ditemui di kediamannya, Billi bercerita pada Agustus lalu diberi kesempatan ke negeri Sakura. Mewakili Indonesia, ia tampil sebagai salah satu dari 10 orang yang mengikuti studi trip yang menjadi acara rutin Asian Law Student’s Association (Alsa).

Billi mengatakan, Alsa memiliki program internasional, salah satunya yang ia ikuti. “Saya aktif di Alsa. Saat itu ada kegiatan study trip dan saya pun ikut berpartisipasi mewakili Unsri. Saya ikut tes dan Alhamdulillah lulus. Untuk lulus ada beberapa tahapan yang dilalui. Dari tes wawancara menggunakan bahasa Inggris, membuat makalah dalam bahasa Inggris serta memaparkannya.

Saat itu, ujar pemuda, dengan tinggi badan 184 cm ini, ia menulis makalah mengenai hak asasi manusia. Nah, setelah semua dilalui ia pun dinyatakan lolos dari 30 peserta. Tak hanya sekadar lolos, ia pun memberanikan diri ikut serta berkompetisi menjadi ketua delegasi Indonesia Indonesia.

“Saya harus berkampanye layaknya pemilihan anggota dewan atau pun kepala daerah. Hasilnya saya terpilih dan dipercaya sebagai pimpinan delegasi. Ini prestasi luar biasa bagi Unsri, selama ini yang menjadi delegasi dari Universitas Indonesia atau Universitas Gajah Mada. Ini pertama kali Unsri jadi ketua delegasi,” kata penggemar bola basket ini.

Alumni SMA Negeri 17 Palembang ini mengatakan pula, banyak pelajaran yang ia dapatkan selama di Jepang. Salah satunya ia menyadari Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara ASIAN lainnya. “Kita jauh tertinggal, dari banyak hal. Fokus di sana kemarin membahas persoalan Ketenagakerjaan. Beda di sini dengan negara Asia sangat jauh. Di luar, Jepang, Thailand, mereka menghargai tenaga kerja muda. Mereka bisa bersaing dengan yang lebih senior di tempat ia bekerja,” katanya.

Sistem lainnya, orang Jepang tidak kenal magang. Magang berlangsung selama proses kuliah. Mereka terbiasa kuliah sambil kerja. Nah inilah namanya proses magang. Berbeda di sini, harus ada kontrak berulang kali sebelum diangkat menjadi tenaga kerja tetap. “Di sana benar-benar menghargai lulusan sarjana, mereka yang kuliah. Sebab kuliah di sana kualitasnya sangat tinggi. Jadi yang kuliah orang yang luar biasa pula,” katanya.

Jadi, senioritas di sana tidak berlaku. Berbeda dengan di Indonesia yang mengutamakan senior. Bahkan, dari sisi gaji pun demikian, kemampuan lebih dihargai dari pada lama bekerja. Namun di sana diakui tingkat stres kerja jauh lebih tinggi karena saat kerja benar-benar full. Tidak ada main-main atau pun ngemil. “Tapi angka bunuh diri karena stres kerja juga tinggi,” kata dia.

Belum lagi soal kedispilnan. Disiplin menghargai waktu dan dalam beraktivitas. Juga hal sepele soal sampah, kesadaran membuang sampah luar biasa. Jadi jangan berharap bertemu sampah berserakan atau pun ada yang membuang di jalan.

Bila ingin Indonesia maju ujar dia banyak yang harus diubah. “Tetapi kalau kota mengikuti sistem mereka tidak akan terkejar. Kita harus membuat sistem sendiri agar bisa cepat menyusul. Bila tidak kita akan makin tertinggal,” ujar buah hati pasangan Herman Rasul dan Holda ini. (**/rul)

 

LEAVE A REPLY