Penempatan Dokter Anestesi Masih Timpang

0
513

 

RADAR PALEMBANG – Penyebaran dokter spesialis anestesiologi di Indonesia sangat tidak merata. Dokter anestesi lebih banyak menyebar di kawasan perkotaan, seperti kota-kota besar di Pulau Jawa, dibanding daerah lain diluar Pulau Jawa.

Menurut Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek, dia mendapatkan laporan dari Perdatin (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia) ada 1.720 orang dokter anestesi yang menyebar di Indonesia. Sementara berdasar catatan Kementerian Kesehatan, ada 3.695 orang dokter anestesi.

“Ini memang agak repot. Dokter anastesi lebih banyak berada di daerah yang penduduknya banyak. Ibaratnya ada gula, ada semut. Dokter anastesi lebih senang berada di daerah yang penduduknya padat, yakni di perkotaan,” ucapnya usai membuka Kongres Nasional XI Perdatin di Palembang, Jumat (5/8/2016).

Nila menjelaskan, pihaknya akan memberikan perhatian penuh pada daerah yang penduduknya sedikit, diantaranya daerah diluar Pulau Jawa. Untuk itu, akan ada pengaturan distribusi dokter dengan dibantu oleh Perdatin. Hal itu dilakukan agar pembangunan kesehatan bisa berhasil dicapai di seluruh wilayah di Indonesia.

“Jumlahnya (dokter anestesi) memang masih sangat sedikit. Kita akan segera keluarkan Inpres (intruksi presiden) terkait pengaturan distribusi dokter anestesi di Indonesia agar semua daerah memiliki dokter anestesi. Sekarang Inpresnya sudah sampai di Sesneg, sudah keluar dari Kemenhukam, tinggal tanda tangan Presiden,” jelas Nila.

Masih sangat minimnya dokter anastesi itu, menurut Nila,  dikarenakan pendidikan yang ditempuh seorang dokter untuk bisa menyandang spesialis anastesi yang memakan waktu cukup lama. Selain itu, perkembangan jumlah dokter anastesi juga mengalami keterlambatan dibanding dengan dokter spesialis lain. “Ini akan kita atasi. Tadi sudah kita tanya, dan mereka (peserta Kongres Nasional XI Perdatin) mau untuk menjalani tugas keluar daerah,” ungkapnya.

Pihaknya akan memprioritaskan penyebaran dokter anestesi ke kabupaten/kota yang tidak memiliki dokter anestesi. Misalnya, di Jakarta banyak sementara di Papua tidak ada dokter anestesi. Untuk itu, pihaknya akan menyuplai daerah yang tidak memiliki dokter anestesi.

Selain itu, Nila meminta untuk semua tenaga kesehatan, terlebih di bidang anestesi untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pasien. Sebelum mengambil langkah atau layanan kesehatan yang berisiko, ia berharap agar tenaga kesehatan bisa menjelaskan dengan detail dan menceritakan kepada keluarga pasien dengan sebenar-benarnya terkait kondisi pasien.

Ia meminta agar informasi kepada keluarga pasien dilakukan dengan tepat. “Tenaga kesehatan harus bisa kerjasama. Kita harus tahu apa yang pasien inginkan dan apa yang bisa kita berikan. Tempat kita kerja ini beresiko, semua hasilnya dan upaya yang kita lakukan harus hati-hati. Perhatikan obat yang akan kita beri ke pasien dan penyuntikan harus benar,” beber Nila.

Wakil Ketua Perdatin Sumatra Selatan, Zulkifli, sekaligus Ketua Umum Pelaksana Kongres Nasional XI mengatakan, belum semua daerah memiliki dokter anestesi. Seperti di Sumatra Selatan, baru ada belasan dokter anastesi.

Yakni, 10 dokter di RSUP Mohammad Hoesin, 2 dokter di RS Charitas, 1 dokter di RS Muhammadiyah, 1 dokter di RS AK Gani, 1 dokter di RS Siloam. Juga ada masing-masing satu dokter anestesi yang berada di Musi Banyuasin, Muara Enim, Prabumulih, Ogan Komering Ilir, dan Musi Rawas.

“Memang masih banyak daerah yang belum miliki dokter anastesi. Harusnya minimal satu daerah ada satu dokter anastesi. Tapi pendidikan untuk menjadi dokter spesialis anestesi kan butuh waktu yang tidak singkat. Selain pendidikan di universitas, pendidikan dokter, hingga akhirnya spesialis. Belum lagi nantinya ditempatkan dulu di daerah-daerah,” ungkap dia.

Zulkfli mengungkapkan, dokter anastesi terbilang baru karena pesatnya perkembangan dunia bedah. “Berkembangnya baru. Sebelumnya, tidak ada anastesi, yang bantu pembiusan adalah perawat. Tapi sekarang di setiap ICU, wajib miliki dokter anestesi,” terang Zulkifli.

Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin mengungkapkan, jumlah dokter anestesi di Sumatra Selatan memang sangat sedikit. Ia mengharap agar Kemenkes RI secepatnya dapat merealisasikan penyebaran dokter anestesi di Indonesia, terkhusus di Sumatra Selatan.

“Sebab, saat ini dokter anestesi sangat dibutuhkan, agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi lebih optimal. Apalagi jumlah rumah sakit semakin banyak, sehingga memang seharusnya memiliki dokter anastesi,” ujar Alex.

 Jenguk Rezki

Dalam kunjungan Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek di Palembang, ia menyempatkan diri datang ke RSUP Mohammad Hoesin untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan Rezki Rahmad Ramadhan yang merupakan bocah penderita obesitas. Ia menyebutkan, saat ini angka obesitas di Indonesia terjadi peningkatan sebesar 15,9 persen dari 11-12 persen, dan angka tersebut sudah masuk ketagori waspada.

“Selain gizi buruk, obesitas saat ini harus menjadi perhatian yang serius, selain kasus gizi buruk di Indonesia. Karena, angka tersebut saat ini meningkat. Sama seperti kasus-kasus gizi buruk, kasus obesitas pada anak perlu mendapat perhatian ekstra dari orang tua,” ujar dia. (dav)

 

LEAVE A REPLY