Penduduk Miskin Sumsel Berkurang 15.034 Orang

0
834

 

RADAR PALEMBANG Jumlah penduduk miskin di Sumsel periode Maret hingga akhirt ahun lalu tercatat mengalami penurunan 0,29 persen. Penurunan terjadi karena adanya perbaikan penerimaan mayarakat seperti berbaikan harga komoditas karet serta adanya berbagai evant yang dihelat di Sumsel.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan di Sumsel pada Maret 2014 mencapai 1.100.829 orang atau 13,91 persen, sementara pada September mengalami penurunan 15.034 orang atau 0,29 persen. Secara total penduduk miskin September capai 1.085.795 orang atau 13,62 persen.

Kepala BPS Sumsel Bachdi Ruswana menjelaskan, setiap tahun angka kemiskinan berfluktuatif naik turun. Semua event besar yang diselenggarakan di Sumsel beberapa tahun terakhir tidak begitu memengaruhi penurunan angka kemiskinan. “Justru event besar yang memberikan multi player effect lebih dinikmati pedagang besar yang memperoleh keuntungan,” ujar Kepala BPS Sumsel, Bachdi Ruswana, kemarin.

Apalagi, kata dia, event besar yang dihelat di Sumsel itu sifatnya hanya mempromosikan Kota Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya ke negara luar. Dia merincikan pada September 2012 lalu jumlah penduduk miskin di Sumsel mencapai 1.043.620 orang atau sekitar 13,48 persen, Maret 2013 sekitar 1.110.530 orang atau sekitar 14,24 persen, September 2013 penduduk miskin mencapai 1.104.569 orang atau 14,06persen dan Maret 2014 sekitar 1.100.829 orang (13,91 persen).

“Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami kenaikan 0,03 persen atau mencapai 3.736 orang. Sedangkan penurunan penduduk miskin terjadi di perdesaan sekitar 0,46 persen atau sekitar 18.770 orang. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan,”jelasnya.

Secara umum selama Maret-September 2014, lanjut dia, garis kemiskinan sedikit naik 2,90 persen dari Rp298.824 per kapita per bulan menjadi Rp307.488 per kapita per bulan. Sementara garis kemiskinan perkotaan naik sekitar 2,76 persen dari Rp336.929 per kapita per bulan pada Maret 2014 menjadi Rp346.238 per kapita per bulan pada September 2014. Sedangkan garis kemiskinan perdesaan naik 2,98 persen.

Dia menuturkan komposisi penduduk miskin menurut tempat tinggal (perkotaan dan perdesaan) tidak banyak berubah dimana sebagian besar penduduk miskin berada didaerah perdesaan sekitar 65,85persen atau turun dari Maret 2014 sebesar 66,65 persen.

“Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,”jelasnya.

Direktur MM UTP Prof Dr H Sulbahri Madjir mengungkapkan, angka penduduk miskin di Sumsel bisa saja lebih kecil bahkan bisa dibawah 10 persen jika harga komoditas mengalami perbanikan.

“Sebab ketika harga komoditas seperti karet dan sawit masih merosot, akan terjadi proses pemiskinan yang luas biasa, sebab mayoritas mayarakat merupakan petani karet dan sawit, jadi ketika harganya rendah tentu berakibat pada pemiskinan karena berkurangnya pendapatan,” terang dia. (iam)

 

LEAVE A REPLY