Pasca Pilpres, Tokoh Agama Minta Umat Jaga Persatuan dan Perdamaian

0
520

RADAR PALEMBANG -Puluhan ulama, habaib, pimpinan pondok pesantren serta cendikiawan se Sumsel menyerukan kepada masyarakat Sumsel khususnya untuk menjaga kedamaian dan kesatuan jelang pengumuman hasil pilpres yang akan disampaikan KPU RI pada rabu, (22/5) besok.

Inisiator PW NU Ustadz Heri Chandra SKom didampingi PW Muhammadiyah DR Romli, MUI Lutfi Idzudin, Prof DR Srozi Phd, Forpes KH Jamian mewakili perwakilan tokoh-tokoh menyampaikan ada 9 maklumat sebagai seruan damai Indonesia agar melepaskan atribut pendukung Paslon 01 maupun Paslon 02.

“Hindari gesekan-gesekan, kita semua sudah menyalurkan hak suara pada 17 April lalu. Maka siapapun yang menjadi presiden adalah takdir Allah,” kata Hendri Chandra dalam acara multaqo ulama yang digelar di Ballroom Swarna Dwipa, Palembang, Minggu (19/5) petang.

Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat Sumsel untuk legowo dan menerima keputusan siapapun Presiden RI mendatang setelah ditetapkan lembaga penyelenggara pemilu KPU.

Ketua PP Muhammadiyah Sumsel Prof Romli, juga menyampaikan seruan Indonesia damai. Menurut Romli hajat besar pilpres tak menutup kemungkinan terjadi perbedaan dan gesekan anatara pendukung. Namun hal itu bukan karakteristik masyarakat Indonesia. Karena masyarakat Indonesia dikenali sebagai masyarakat yang memiliki karakter gotong royong dan musyawarah.

“Oleh karena itu, maka pada kesempatan ini, pimpinan pesantren, adalah sebagai corong untuk mengimbau mengajak masyarakat mari kita tetap bersatu berjalan seiring sejalan. Saya mewakili pimpinanan Muhammadiyah Sumsel mohon tetap tenang persoalan pemilu ada penyelenggaranya,”kata dia.

Kalau ada penyimpangan ada prosedur hukum. Jangan coba coba menyelesaikannya dengan hukum sendiri. Kita bersatu, sejuk damai berada ditengah tengah masyarakat. Siapapun yang terpilih harus legowo.(zar)

Adapun 9 maklumat yang disampaikan dalam multaqo ulama sehubungan dengan pemilu 2019 yaitu:

1. Umat Islam agar memanfaatkan momentum bulan suci ramadhan ini untuk mencapai ketaqwaan yang sempurna, meningkatkan Taqorub kepada Allah SWT dan senantiasa berdoa untuk Bangsa agar tetap kondusif, tentram, aman dan damai.

2. Mempererat silaturahim antar sesama anak bangsa, memperkokoh ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, Ukhuwah Basyariyah menjauhi saling fitnah, pertengkaran, perpecahan dan tindakan tercela lainnya serta saling memaafkan satu sama lain.

3. Terus meneguhkan komitmen kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI karena itu semua sudah sejalan dengan ajaran Agama Islam.

4. Berkomitmen menjaga stabilitas keamanan, perdamaian dan situasi yang kondusif dengan mengedepankan persamaan sebagai umat manusia yang saling bersaudara (Ukhuwah Insaniyah) dan tidak mempertajam perbedaan yang bersifat kontra produktif.

5. Menghindari segala bentuk provokasi, fitnah dan kekerasan selama dan sesudah bulansah suci Ramadhan.

6. Mentaati peraturan dan perundang-undangan yang berlaku diseluruh wilayah NKRI sebagai pengejawantahan hubungan yang konstruktif dan penuh rasa hormat kepada pemerintah yang sah (Ulil Amri) karena hal ini sangat jelas diajarkan didalam agama Islam yang kita anut.

7. Tidak terpancing untuk melakukan aksi-aksi inkonstitusional baik langsung maupun tidak langsung karena tindakan inkonstitusional bertentangan dengan ajaran Islam.dan dapat mengarah kepada tindakan “bughot”.

8. Saling Fastabiqul Khairot guna meningkatkan kekuatan ekonomi umat agar dapat turut aktif dalam mengentaskan kemiskinan, mengatasi ketimpangan berbagai hal serta mengejar ketinggalan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

9. Melakukan sosialisasi hasil multaqo ini pada berbagai forum acara berkelanjutan agar tercipta sinergitas antar Ulama, Habaib, Pimpinan Pondok Pesantren dan Cendikiawan Muslim bersama seluruh umat Islam.

LEAVE A REPLY