Omzet Kerajinan Rotan Rp150 Juta/Bulan

0
3019

 

RADAR PALEMBANG – Kerajinan rotan meminiki nilai jual yang tinggi, kebanyakan pengrajin membuat sofa dari bahan baku rotan. Nilai jualnya bisa mencapai Rp10 juta, hal yang membuat kerajinan rotan mahal karena ketahanannya.

Rotan adalah hasil hutan non kayu yang dapat memberi konstribusi kepada masyarakat dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Di Indonesia memenuhi 80% kebutuhan rotan dunia terbesar.

Dari 80% rotan dunia tersebut, 90 % berasal dari hutan alam dan 10 % dari hasil budidaya. Luas areal yang ditumbuhi rotan sebesar 13,2 juta hektar dari 143 juta hektar hutan Indonesia (Inventarisasi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan) yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa memang sangat jarang ditemui. Harganya yang mahal menjadi pemicu rendahnya pembeli Furniture dari jenis rotan.

Menurut Heri selaku Manajer Cirebon Al Bana Rattan yang beralamat di Jl. Suka Bangun II depan kantor Lurah Sukajaya mengatakan, kalau furniture jenis rotan memang sangat mahal dijual karena kekuatan yang hampir melebihi kekuatan jati dan ditambah lagi proses pembuatan yang terbilang sulit adalah hal yang membuat rotan terbilang mahal.

“Untuk harga standar jenis rotan Rp3 juta sampai Rp10 juta. Harga Rp3 juta ukuran sofa itu paling murah. Karena proses pembuatan yang rumit dan bahannya memang melebihi jati,” terang Heri Senin (14/07).

Ia juga mengatakan, kalau di Palembang, Rotan memang sangat sulit ditemui, apalagi pemanenan dan pengolahan rotanpun masih dilakukan secara tradisional menggunakan alat alat sederhana yang membuatnya menjadi mahal. Ditambah lagi Jumlah industri pengolahan rotan yang berskala kecil hanya menghasilkan mebel dan asesoris rumah tangga saja.

Diakui Heri, memasuki lebaran, penjualan rotan yang semula berkisar Rp160 juta tiap bulannya menurun menjadi 10 persen. “Kita jual furniture jenis rotan di bulan puasa memang bisa dikatakan antusiasnya menurun, karena banyaknya persamaan waktu seperti waktu masuk sekolah, piala dunia dan pemilu. Kisaran omzet pun bisa kita terka menjadi Rp150 jutaan,” katanya.

Cirebon Al Bana Rotan salah satu hasil budidaya Indonesia dari Kalimantan yang diekspor keluar negeri. Namun meskipun bahan yang diekspor, Heri menginginkan kalau hasil Indonesia ini tidak hanya banyak dipesan oleh orang luar saja melainkan juga orang Indonesia.

“Kita asli dari Kalimantan, furniture jenis rotan yang kita ekspor ke luar itu di Palembang Cuma satu. Pusatnya di Cirebon. Ya diharapkanm tidak hanya orang luar yang pesan ke kita jauh-jauh, tapi juga khas Indonesia ini di budidayakan dan menjadi kegemaran alat rumah tangga,” ungkapnya.

Dalam mengembagkan rotan khususnya di kota pempek ini, Heri juga melakukan kerja sama dengan kepala disprindab untuk melakukan kegiatan pengrajin rotan jenis meja belajar yang diusungnya di tahun ini. “ALhamdullilah untuk tahun ini, insyaallah kita akan kerjasama dengan kepala Disprindag guna memperbanyak pengrajin rotan khususnya di Palembang, hanya saja SK-nya belum turun dari Gubernur,” bebernya saat menutup perbincangan. (rd2)

LEAVE A REPLY