Okupansi Hotel Terendah 15 Persen

0
116
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Endang Triwahyuningsih.

RADAR PALEMBANG – Pada Bulan Mei 2020, tidak ada wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sumatera Selatan melalui pintu masuk Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang karena pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Salah satu efeknya, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Selatan pada Mei 2020 tercatat sebesar 18,94 persen, atau turun 0,49 poin dibanding TPK hotel April 2020 yang sebesar 19,43 persen.

“TPK hotel bintang bulan Mei 2020 tertinggi terjadi pada hotel bintang satu sebesar 29,05 persen dan terendah pada hotel bintang dua sebesar 15,00 persen,”kata Kepala BPS Sumsel, Endang Triwahyuningsih.

Sementara itu, sambung dia, bila diamati menurut klasifikasi hotel, ternyata pada bulan Mei 2020 TPK hotel bintang satu mencapai 29,05 persen dan merupakan TPK hotel tertinggi dibanding kelas hotel berbintang lainnya, sedangkan TPK hotel terendah adalah hotel bintang dua yang hanya sebesar 15,00 persen.

Ia menambahkan, rata-rata lama menginap seluruh tamu hotel bintang bulan Mei 2020 tercatat sebesar 1,73 hari, turun sebesar 0,31 hari dibanding April 2020 yang sebesar 2,04 hari.

Rata-rata lama menginap tamu asing adalah 2,59 hari, naik sebesar 1,48 hari dibanding April 2020 yang sebesar 1,11 hari dan rata-rata lama menginap tamu domestik bulan Mei 2020 adalah selama 1,73 hari, turun 0,31 hari dibanding April 2020 yang sebesar 2,04 hari.  “Turunnya rata-rata lama menginap tamu domestik dipengaruhi oleh menurunnya rata-rata lama  menginap tamu pada hotel bintang dua, bintang empat dan bintang lima sedangkan untuk hotel bintang satu dan bintang tiga mengalami peningkatan,”ungkap dia.

Peningkatan rata-rata lama menginap tamu asing di hotel bintang dipengaruhi oleh naiknya rata-rata lama menginap tamu pada klasifikasi hotel bintang tiga dan bintang empat, sedangkan hotel bintang lima tidak ada perubahan.  “Pada bulan Mei 2020 tidak ada tamu asing yang tercatat menginap di hotel bintang satu dan bintang dua,”ujar dia.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, Herlan Aspiudin, mengakui ada tren kenaikan di bisnis hotel di Palembang. “Ada kenaikan, khusus untuk kamar (menginap,read),”kata dia kepada Radar Palembang.

Ia menambahkan, sekitar seminggu lalu, sudah ada peningkatan (okupansi,read) namun belum maksimal. Selain hotel, bisnis lainnya, akui dia, seperti ballroom, belum ada yang berjalan. Bukannya, sambung Herlan, tidak ada hotel yang menjual (paket ballroom,read) tapi belum ada yang mau memesannya, sekarang ini, balik (peminat,read) lagi ke masyarakat.

Meski naik, menurut Herlan tingkat okupansi kamar hotel di Palembang masih sangat rendah. “Sebelumnya, okupansi (selama pandemi Covid,read), hotel hanya 5 persen, kini sudah naik 10 – 15 persen.”

Jika hotel Palembang okupansi rendah, tapi berbeda, lanjut Herlan, di daerah (luar Palembang,read) yang masih cukup baik, peminatnya selain tamu lokal juga daerah tetangga.

Dengan tidak ada PSBB lagi, diyakini akan menjadi pemicu kegiatan ekonomi. Mengingat, aktivitas di luar rumah juga mulai dilonggarkan. “Orang malam Minggu sudah banyak yang keluar, jalan juga tidak ada lagi pembatasan, meski tetap jaga protokol kesehatan,”ujar dia. (dav)

LEAVE A REPLY