NTP Perkebunan Terendah, Disbun Sarankan Efisiensi Usaha

0
216
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Endang Tri Wahyuningsih

RADAR PALEMBANG – Dari 5 subsektor nilai tukar petani atau NTP di Sumatera Selatan, tercatat untuk perkebunan paling rendah dan penurunan indeksnya cukup banyak dibandingkan bulan sebelumnya.

NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat atau NTPR 76,68 di Juli 2019 turun sebesar 3,28 menjadi 74,17 di Agustus 2019. Setidaknya, ada 3 komoditas kebun yang menyumbang turunnya indeks NTP di provinsi yang dikenal dengan Bumi Sriwijaya ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan ada beberapa komoditas kebun yang mempengaruhi NTPR. “Untuk perkebunan menyumbang turunnya indeks (NTPR,red) yakni kebun rakyat cengkeh, kopi dan karet,”ungkapnya kepada Radar Palembang.

Secara umum, sambung dia, Nilai Tukar Petani Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Agustus 2019 tercatat sebesar 89,01 atau turun sebesar 1,08 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP ini dipengaruhi oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang menga|ami penurunan sebesar 0,95 persen, sedangkan lb naik sebesar 0,14 persen.

Penurunan Nilai Tukar Petani Agustus 2019 dipengaruhi oleh turunnya NTP pada sub sektor tanaman hortikultura sebesar 1,56 persen, perkebunan rakyat 3,28 persen, perikanan secara umum 0,73 persen dan perikanan budidaya 1,91 persen.

Sedangkan NTP pada subsektor lainnya mengalami kenaikan yaitu masing-masing, tanaman pangan 0,83 persen, peternakan 1,59 persen dan perikanan tangkap 0,56 persen.

Untuk NTP yang mengalami kenaikan posisi Juli 2019 dibandingkan Agustus 2019, seperti subsektor tanaman pangan atau NTPP 98,12 naik sebesar 0,83 menjadi 98,94. Lalu, peternakan 107,74 naik 2,59 menjadi 109,45. Untuk di subsektor perikanan nelayan 95,87 naik 0,56 menjadi 96,41.

Sedangkan, NTP yang mengalami penurunan posisi Juli 2019 dibandingkan Agustus 2019 yakni hortikultura 107,01 turun 1,56 menjadi 105,34. Lalu, tanaman perkebunan rakyat atau NTPR 76,68 turun 3,28 menjadi 74,17. Sedangkan perikanan untuk pembudidayaan ikan 101,90 turun 1,91 menjadi 99,95.

Rendahnya NTP perkebunan di Sumatera Selatan ini membuat BPS menyarankan untuk lebih memperhatikan produk turunan dari komoditas utamanya. “Mungkin dengan adanya pengelolaan yang bagus, packing (pengemasan,red) bagus maka ada dampak ke petani,”tegas Endang.

Tak hanya karet, Endang juga menyarakan hal serupa kepada komoditas kopi. “Kopi juga kalau bisa jangan jual bijinya, masalah lain juga diperhatikan pelabuhan angkut (komoditas,red) kita (Sumsel,red) kecil sehingga daya angkut kapal terbatas,”ulas Endang.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Fakhrurrozi mengatakan NTP petani ini turun tidak lepas dari perkembangan harga komoditi yang memang cenderung turun.

“Untuk itu perlu kita tingkatkan efisensi usaha petani,”kata dia, kepada Radar Palembang.

Caranya, lanjut dia, bisa macam- macam tingkatkan produkivitas karena itu (produkivitas,red) bagian efisiensi. “Bahwa bagaimana dengan luasan (lahan,red) yang sama bisa menghasilkan lebih baik sehingga NTP turut naik.”

Ia menambahkan, untuk tingkatkan produksi, ada juga namanya intensifikasi bisa peremajaan replanting supaya kedepan hasil lebih baik lagi. Intinya, kata Fakhrurrozi, kita memperbaiki di dalam karena jangan tergantung pasar internaisonal.

Perbaikan ini, dinas perkebunan berharap ada dampak ke pendapatan yang diterima petani. “Itu biasanya meningkatkan bagian yang diterima petani. Supaya posisi tawarnya bagus, bisa memperbaiki masalah harga,”jelas dia.

Terkait komoditas kopi yang turun menyumbang turunnya indeks dari NTP perkebunan rakyat, dirinya mengakui masalahnya hampir sama dengan apa yang terjadi di sektor karet. “Bedanya, kalau kopi kan hasilnya (mendapatkan,red) tahunan, beda dengan karet yang harian atau sawit yang 10 hari hingga 2 minggu,”jelas dia.

Pada Agustus 2019 terjadi penurunan NTUP atau Nilai Tukar Usaha Pertanian sebesar 1,01 persen. Hal ini terjadi karena It nnengalami penurunan sebesar 0,95 persen, Sedangkan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mangalami kenaikan sebesar 0,06 persen.

Turunnya NTUP disebabkan oleh turunnya NTUP di subsektor tanaman hortikultura sebesar 1,54 persen, perkebunan rakyat 3,15 persen, perikanan secara umum 0,75 persen dan perikanan budidava 1,90 persen. Sedangkan NTUP yang mengalami kenaikan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,86 persen, dan perikanan tangkap sebesar 0,51 persen. (dav)

 

 

LEAVE A REPLY