Mewujudkan Pelestarian Kebudayaan Palembang

0
287

 

RADAR PALEMBANG,Forum diskusi terpumpun ” Dialog Kebudayaan Palembang Menuju Kongres Budaya Palembang 2020″ bertempat di Basenglah Cafe Jalan Dwikora, Sabtu (30/11).

Komunitas Ngobeng Budaya Palembang, disupport oleh, Seniman, Budayawan, Sejarahwan, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Akademis, KPD, LBUM, KOBAR 9, Depart AMPS, Teater Gaung, KKP, AMKPD, PZP, ZBPD, PEDAS, MABMI dan FKPKP.

Pembicara dalam diskusi ini adalah Para Tokoh Palembang, Materi Terwujudnya Pelestarian Kebudayaan Palembang, yang direncanakan diikuti oleh 20 orang Narasumber/Peserta, Panitia pelaksana 10 orang, dihadiri oleh 30 orang/undangan yang hadir dalam FGD ini.

Usai Diskusi terpumpun atau lebih dikenal dengan istilah FGD (Focus Group Discussion) membahas tentang bagaimana pelestarian dan pengembangan kebudayaan Palembang, Kemas A.R. Panji selaku ketua pelaksana mengatakan,” Semua peserta yang diundang dan mampu menyikapi kondisi perkembangan kebudayaan Palembang yang semakin hari semakin tergerus oleh waktu dan budaya asing,” katanya.

Memahami Palembang sebagai Kota Tua di indonesia tentulah Palembang memiliki akar sejarah yang kuat. Ada Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan/Kesultanan Palembang, ditambah sejarah dan kebudayaan Palembang dalam penguasaan Kolonial ( Belanda, Inggris, dan Jepang), atas fakta sejarah tersebut diperlukan pemahaman tentang pokok pokok pikiran kebudayaan daerah Palembang yang tertuang dalam 10 OPK ( Objek Pemajuan Kebudayaan) yakni, Tradisi Lisan, Manuskrip, Adat Istiadat, Ritus, Pengetahuan Tradisional, Teknologi Tradisional, Seni, Bahasa, Permainan Rakyat, dan Olahraga Tradisional.

” untuk itu diperlukan FGD yang membahas tentang kebudayaan Palembang sebagai rujukan dan acuan tentang pelestarian dan pemajuan kebudayaan Palembang ditingkat daerah maupun nasional, ” tutupnya.

Ditempat yang sama Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama Fauwaz Diradja
menuturkan,” Diskusi ini kedepannya kita akan mengiatkan lagi untuk saling bahu membahu antara semua organisasi masyarakat dari Kota Palembang untuk meningkatkan kerja sama di bidang Budaya yang sekarang ini tidak terlalu dikedepankan atau malah dikesampingkan oleh baik dari pemerintah atau oleh masyarakat, kegiatan sekarang ini adalah meningkatkan pemgetahuan masyarakat bahwa kita masih memiliki budaya budaya lama,” ucapnya.

” Kearifan lokal sangat baik untuk perkembangan kita dan generasi mendatang. Oleh karena itu, cagar budaya kita ada supaya cagar budaya kedepannya jangan sampai hilang bahkan harus kita lestarikan dan kita promosikan menjadi aset wisata yang sangat berharga untuk kemajuan pembangunan Kota Palembang.” jelasnya.

Vebri Al-Lintani selaku Anggota Komunitas Ngobeng Budaya Palembang mengatakan, “Mengenai diskusi ini kita pakai 10 OPK (Objek Pemajuan Kebudayaan), kalau kita cek satu persatu dari OPK itu, saya kira rata-rata mengalami dekradasi atau penurunan, Komunitas ngobeng budaya Palembang, kedepan, akan membuat gerakan kebudayaan berdasarkan Undang Undang itu. Kalau pemerintah membikin pokok pikiran kebudayaan, maka kita akan mangawal pokok pikiran kebudayaan di kota Palembang dan Sumatera Selatan,” katanya.

” Yang paling penting adanya regulasi atau Perda Kebudayaan. Tanpa regulasi pembangunan akan tidak terarah. Selama ini tanpa regulasi akhirnya berdasarkan selera saja, seperti contoh kalau Walikotanya senang Olahraga maka Olahraga maju, jika Walikotanya senang musik maka musikya maju, padahal kebudayaan bukan hanya musik,” pungkasnya. (rd1)

LEAVE A REPLY