Menengok Pembuat Perahu Tradisional di Pali

0
550
Pembuat perahu tradisional di Desa Tempirai Kecamatan Penukal Utara yang kebanjiran order di masa pandemi Covid-19.

3 Bulan Terakhir Banjir Pesanan

RADAR PALEMBANG – Pandemi Covid-19 sepertinya tidak berpengaruh bagi pembuat perahu tradisional di Desa Tempirai Kecamatan Penukal Utara Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Justru saat usaha lain kembang kempis, pembuat perahu kebanjiran pesanan.

Pasalnya, dengan banyaknya perusahaan merumahkan pekerja akibat Covid-19 dimanfaatkan warga baik dari PALI, maupun dari luar daerah mengisi waktu dengan berburu ikan di wilayah Desa Tempirai yang terkenal surga bagi pemancing.

Peluang inilah yang membuat beberapa pelaku usaha rental perahu kewalahan melayani pemancing yang setiap hari menyewa perahu menuju lokasi yang diinginkan.

Demi memenuhi kebutuhan pemancing yang setiap hari membludak, pelaku usaha rental terpaksa harus menambah armadanya. Tentu ini menguntungkan pembuat perahu tradisional.

Sebab, sudah tiga bulan terakhir ini, pembuat perahu kebanjiran pesanan, yang rata-rara dari pelaku usaha rental meskipun ada sebagian dari warga sekitar untuk keperluan sehari-harinya.

Diakui Gunawan, salah satu pembuat perahu bahwa setiap hari dirinya berkutat mengolah kayu sebagai bahan dasar pembuatan perahu.  “Satu perahu kecil selesai dibuat dalam waktu tiga hari. Namun untuk ukuran besar atau biasa warga sebut ketek bisa satu minggu selesai dikerjakan,” ungkap Gunawan, Kamis (25/6).

Jumlah pesanan sendiri dikatakan Gunawan saat ini tengah membludak, hanya saja kemampuannya untuk pembuatan perahu cuma empat unit dalam satu bulan akibat keterbatasan modal.

“Omzet kami apabila satu bulan dapat menyelesaikan empat unit perahu ukuran besar berjumlah Rp 20 juta. Karena harga satu unit perahu Rp 5 juta. Sedangkan ukuran yang kecil, harganya hanya Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Untuk bahan baku di sini cukup tersedia, tetapi kami masih kekurangan modal, karena bahan baku harus dibeli secara kontan,” ucap Gunawan, yang mengaku telah 10 tahun jadi pembuat perahu yang keahliannya didapat dari kakek.

Sementara itu, Muhamad Jonot Kepala Desa Tempirai Induk menyebut ada sekitar 10 warganya menjadi pengrajin perahu.  “Lumayan banyak warga pembuat perahu di desa kami. Saat ini memang tengah kebanjiran pesanan karena banyak pemancing menuhu danau Burung yang menjadi titik para pemancing.

Danau Burung menjadi incaran pemancing karena menyediakan ikan yang melimpah. Jarak dari desa kami menuju danau burung harus menggunakan perahu, hal itulah yang menyebabkan pengrajin perahu ketiban rezeki di tengah pandemi korona. Untuk kendala modal, kami data dan akan diajukan ke Dinas Koperasi serta kedepan kita akan upayakan pelatihan bagi pengrajin perahu yang saat ini dikerjakan secara manual dan tradisional,” terang Kades. (whr) 

 

LEAVE A REPLY