Memaknai Pesan Prasasti Talang Tuo

0
584

RADAR PALEMBANG,  Cendekiawan Buddhis yang juga Pakar Budhidharma, Salim Lee  menilai pesan yang disampaikan Prasasti Talang Tuo ditujukan kepada pemimpin Indonesia sekarang agar lebih bersahabat dan menjaga lingkungan hidupnya.

Tentunya menurutnya negara Indonesia lebih makmur dan sejahtera karena kalau dilihat dari Prasasti Talang Tuo itu menjadi tradisi kalau seorang raja itu hanya menginginkan kesejahteraan  rakyatnya.

“Ini luar bisa, saya baca ulasannya tentang Talang Tuo, banyak sekali , dan menginspirasi  masyarakat disini untuk  lebih peduli pada ekologi dan lingkungan, itu benar sekali , artinya masih ada kesinambungan dari dulu,” kata Salim didampingi Indriati ketua Panitia acara  Pranidhana Raja, “ memahami Prasasti Talang Tuo, Minggu (28/4) di  Aula Vajragiri – Wihara Dharmakirti.

Menurutnya bangsa yang beradab dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai leluhurnya dan hal tersebut menurutnya penting sekali.

“Ini penting, prasasti Talang Tulo ini sangat penting dari berbagai aspek,” katanya.

Untuk itu menurutnya dengan sendirinya perlu adanya penyelamatan seluruh situs-situs cagar budaya yang ada di kota Palembang termasuk peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ada di kota Palembang,
Selain itu dia mendukung kalau Palembang menjadi pusat kajian Kerajaan Sriwijaya.
“Harusnya disini, makanya kita pelan-pelan, jadi nanti kebesaran nusantara ini sangat-sangat tidak dikenal atau belum dikenal, di  Muara Jambi itu dulu salah satu top pusat membelajaran didunia, ini tandingannya hanya di Nalanda , India,” katanya.

Sebelumnya Budayawan nasional Taufik Rahzen menilai Prasasti Talang Tuo merupakan satu modal kebudayaan yang luar biasa.

“Karena tidak ada satu prasasti yang jelas menggambarkan tentang satu gambaran masyarakat mana yang diidealkan. Prasasti Talang Tuwo lebih indah dari Declaration Of Independence di Amerika Serikat atau Piagam Hak Asasi Manusia,” katanya.

Yang dipersoalkan menurutnya dalam prasasti ini bukan hanya hubungan manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan keluarganya, manusia dengan alam, manusia dengan hewan, manusia dengan alam semesta antar galaksi dan terakhir menjadikan manusia itu bersatu dengan alam.

Menurut Redaktur Senior Jurnal Nasional ini, melihat prasasti Talang Tuwo bisa menjadi titik tolak untuk merubah dunia seperti apa yang diinginkan saat ini.

Baca:  Penutupan TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang, Sejumlah Persiapan dilakukan

Dia mengusulkan Prasasti Talang Tuo menjadi Hari Bumi Dunia, tinggal tanggalnya ditentukan.
“Pada 20 Maret atau 21 Maret, tanggal ini sudah diajukan dan diterima Hari Bumi oleh PBB, tinggal kita perkuat lagi,” ujarnya. Kebetulan artefak Talang Tuo lengkap, menceritakan tanggal, tempat, niat, tujuan.

Sedangkan  arkeolog  nasional , Nurhadi Rangkuti mengatakan, spirit dari penjagaan lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuo yakni kemakmuran.

“Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuwo yang diterbitkan oleh raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya kata yang sama tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan dan sampai di ibukota kerajaan beliau meletakan batu pertama pembangunan   permukiman (vanua) baru. Kemakmuran menjadi kata kunci bagi raja Sriwijaya pada masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu  tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua makhluk yang hidup di muka bumi,.”

Baca:  Ketika Mengamuk Jadi Ketakutan Pasukan Belanda Dan Inggris Di Palembang

Artinya, guna mencapai kemakmuran tersebut, manusia harus memperlakukan alam atau lingkungan secara baik. “Prasasti ini  memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti  pohon kelapa, pinang, aren, sagu,  bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam,” kata Nurhadi

Pada masa itu taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua manusia, tumbuhan dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah.Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh atau pezinah.

Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuo sangat jelas, “Kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua mahluk yang hidup di bumi Sriwijaya sekarang,” kata Nurhadi.(rel)

LEAVE A REPLY