Melihat Pusat Peternakan Sapi Ogan Ilir, Petani Palawija Mulai Beralih Jual Sapi

0
465

 

Menjelang hari raya Idul Qurban atau Idul Adha, merupakan momentum kedua setelah Puasa dan Lebaran Idul Fitri, saat yang paling ditunggu para peternak dan petani sapi dan kambing. Sebab, pada saat puncak Idul Adha, harga hewan kurban akan melambung tinggi, mereka pun bersiap untuk panen untung.

 

RADAR PALEMBANG – Di Sumsel, Kabupaten Ogan Ilir merupakan daerah yang memiliki petani sapi dan kambing cukup besar. Banyaknya ladang rumput menjadi penyemangat masyarakat untuk peternak sapi, di samping usaha lain bidang pertanian dan perkebunan.

Salah satunya di Kecamatan Indralaya Utara, tidak jauh dari Pusat Perkantoran Terpadu Pemkab Ogan Ilir. Desa Tanjung Senai dan Tanjung Baru merupakan, salah satu pusat peternakan sapi masyarakat. Di sini hampir semua pemukiman penduduk memiliki kandang ternah sapi, mayoritas rumah memelihara lebih dari 10 ekor sapi bahkan ada yang lebih.

Mereka beternak sapi sebagai penghasilan sampingan, sebab penghasilan utama mereka adalah perkebunan palawija, sayuran dan tentunya karet. Nemun, beternak sapi mendekati musim haji merupakan hal yang tidak bisa mereka kesampingkan. Peternak isa mendapatkan untung berlipat karena harga jual yang sangat tinggi.

Herman, petenak sapi asal Desa Tanjung Baru Ogan Ilir mengaku, setiap tahun tidak kurang dari tiga ekor sapi miliknya dijual untuk kurban. Kebetulan tahun ini ia memiliki enam ekor sapi yang siap jual. “Harga yang ditawar bervariasi, tergantung bobot sapi, namun gambarannya harga mulai dari Rp13 – 17 juta per ekor. Sementara untuk kambing mulai dari Rp2 – 3 juta.

Menurutnya, memelihara sapi itu tidak repot jika daerah tersebut dipenuhi padang rumput. Apalagi ditempatnya kebanyakan lahan untuk perkebunan, sebelum kebun ditanam bisa dijadikan tempat untuk ternak sapi.

“Sejauh ini sudah ada beberapa konsumen yang datang untuk memesan, namun masih terganjal selisih harga. Baru ada satu konsumen yang memberikan uang panjar untuk pembelian satu sapi,” katanya.

Di desa tempat ia tinggal, merupakan pusat peternakan sapi warga, konsumen yang datang ke sana dari penjuru Sumsel, bahkan ada juga dari Pagaralam. Sebab sapi yang dijual di sana memang murni sapi warga. Jadi untuk ukuran bulan memang semuanya sudah memenuhi kriteria untuk kurban. “Kebanyakan sudah lewat batas kurban. Jadi mereka tidak ragu lagi untuk beli di sini. Kebanyakan untuk instasi pemerintah dan perusahaan sudah langganan beli di kampung kami,” katanya.

Terpisah Indra, warga Desa Tanjung Baru mengungkapkan, beternak sapi sebetulnya menjadi usaha yang menjanjikan. Dalam hitungannya, jika memelihara satu ekor sapi rata-rata mendapatkan untung kisaran Rp700 perhari. Artinya, untung dalam satu tahun bisa dikalikan dengan hari dan berapa banyak sapi yang dipelihara.

“Untuk modal pembelian bibit sapi sendiri variasi harganya mulai dari Rp3 – 5 juta bergantung usia. Jika harga jualnya Rp14 juta dengan masa pelihara 2 tahun, artinya untung yang didapat hampir Rp10 juta. Bayangkan jika kita pelihara 10 sapi,” terangnya. Ini pula yang membuat mayoritas petani di sana merangkap beternak sapi, lantaran hasil yang menggiurkan. (*)

LEAVE A REPLY